Pedro menghabiskan makanannya dengan sedikit kecewa karena masih ada sisa ruang kosong yang berada dalam perutnya. Namun harga makanan di kafe tidak sepadan dengan harga yang ia makan di tempat biasa sehingga ia tidak berminat untuk menambah makanannya. Sedangkan Nick cukup berkompromi untuk mengisi perutnya dengan sarapan yang tidak banyak. Ia merasa senang sudah memilih kafe ini sebagai tempat sarapannya hari ini karena berhasil mendapatkan ide.
Saat hendak membayar di kasir, mata Nick menangkap suatu barang yang dipajang pada 6 buah rak kecil seukuran buku tulis yang disusun menjadi seperti tangga. Berbagai aksesoris seperti gelang, kalung dan gantungan kunci yang tampaknya dibuat manual oleh tangan tergeletak di dalam rak kayu itu. Setiap aksesoris terdiri dari sebuah tali yang terhubung dengan batu-batu berwarna-warni seukuran biji bunga matahari. Tidak ada satu pun aksesoris yang identik, semuanya mempunyai ciri khas masing-masing. Hanya warna talinya saja yang dibuat sama.
Nick merasa tambahan barang dagangan seperti yang dilakukan oleh kafe ini bisa menjadi salah satu ide yang bisa dibicarakan dengan Sasha. Selama ini Sasha tidak mau menambahkan jenis makanan pada menunya, jadi menjual barang yang dibuat orang lain adalah salah satu ide yang menarik.
Selain ide penambahan barang yang tiba-tiba terlintas, entah kenapa sebuah pigura di samping rak menarik perhatian Nick cukup lama. Dalam pigura terdapat foto yang memperlihatkan wajah beberapa anak kecil dengan tulisan "Karya tangan anak-anak Desa Kukree."
"Mungkinkah karena senyuman mereka yang tulus? Ataukah karena perjuangan mereka untuk bertahan hidup?" tanya Nick dalam hati tapi masih belum menemukan jawaban.
"Kamu mau beli? Kita bisa beli dua gelang yang sama untuk tanda persahabatan kita." Pedro melingkarkan tangan di bahu Nick sambil tersenyum lebar.
"Kalau kita berdua memakainya bersamaan, sepertinya Olly benar-benar akan melabelkan kita sebagai pasangan gây."
"Ah, benar juga. Hahaha…"
Saat mendengar kata gây disebut, Pedro langsung salah tingkah. Ia memilih untuk keluar kafe lebih dahulu, meninggalkan Nick sendirian di dalam.
Keanehan tingkah laku Pedro tidak hanya berlaku saat ini saja. Pedro bahkan bisa keluar apartemen begitu saja begitu Olly iseng mengatakan bahwa kedekatannya dengan Nick tampak seperti pasangan gây. Sikapnya itu membuat orang-orang terdekat dari Pedro berasumsi bahwa Pedro adalah seorang homophobia.
Nick menggunakan waktu saat tidak bersama dengan Pedro untuk membeli satu buah gelang berwarna biru tua. Dibandingkan membeli untuk dipakai bersamaan dengan Pedro, Nick sengaja ingin membelinya untuk Ethan. Bila membelinya di hadapan Pedro, pasti akan banyak pertanyaan. Jadi Nick hanya bisa membelikan barang untuk Ethan secara diam-diam seperti saat ini.
*****
"Untukmu…"
Nick mengulurkan sebuah gelang yang didominasi warna biru tua pada Ethan saat berjalan di koridor lantai 39 apartemen. Sambil berjalan Ethan menerima gelang itu dan melihat sosok di sampingnya dengan sedikit menunduk. Ethan melihat jauh ke dalam bola mata Nick yang besar dan berwarna biru muda.
"Thanks," kata Ethan menangkap keseriusan di mata Nick.
"Setiap kali melihat benda berwarna seperti itu aku selalu teringat dirimu."
"Namanya navy."
"Eh?"
"Warna biru tua seperti itu dinamakan navy."
"Oh, ok."
Percakapan Nick dan Ethan berakhir sampai situ. Mereka berdua menuruni lift, keluar dari gedung apartemen dan berjalan menuju bar milik Keanu tanpa berbicara sepatah kata pun. Masing-masing dari mereka mempunyai pemikiran yang tidak dapat terucap. Meninggalkan keheningan tersembunyi di tengah ramainya suasana malam hari di Kota Windhill.
Nick dan Ethan masuk ke dalam bar bernama Pehme Tera, tempat mereka berdua bekerja sebagai bartender. Setiap kali kedua sosok itu masuk ke dalam bar, pelanggan yang sudah terlebih dahulu berada di sana selalu memberikan salam. Ethan selalu membalas salam itu dengan kalimat pendek. Sedangkan Nick diharuskan membalas hanya dengan senyuman. Sebuah perjanjian awal dari Ethan yang telah disepakati oleh Nick.
Tempat pertama yang menjadi tujuan para pekerja di bar itu pastilah ruang ganti yang berada di lantai dua. Jadi Nick dan Ethan berjalan ke arah bar di samping ruangan, memberikan salam singkat pada Marcus yang sudah lebih dahulu bekerja, kemudian menaiki tangga dari pintu yang berada di samping bar.
Karena pegawai yang bekerja di bar milik Keanu tidak terlalu banyak, ruang ganti pegawai pun hanya ada dua yaitu ruang ganti perempuan dan laki-laki. Untuk menghindari kecurigaan, tentulah Nick harus ikut dengan Ethan ke dalam ruang ganti laki-laki. Bila tidak beruntung, Nick harus melihat badan Marcus yang hanya memakai celana panjang saja selama di ruang ganti. Cukup sulit untuk menghindari pemandangan badan laki-laki berumur tiga puluh tahun itu karena Marcus biasa mengajak ngobrol Ethan saat berganti baju.
Bila beruntung seperti saat ini, Nick hanya tinggal membuka loker miliknya, menaruh jaket dan perkakas yang tidak dibutuhkan saat bekerja, lalu memakaikan kemeja putih pada kaus tipis yang sudah dipakainya terlebih dahulu. Selain tidak perlu menahan pandangan pada orang asing yang setengah t*******g, Nick juga merasa beruntung karena bisa mencuri pandang saat Ethan berganti baju. Dari balik pintu loker, Nick diam-diam memandangi badan kekar Ethan yang terekspos saat ia menaikkan kausnya.
"Hanya beberapa detik saja…," kata Nick dalam hati dengan bibir yang tertarik ke samping tanpa ia sadari.
Ethan berganti baju lebih lama dari biasanya sehingga membuat Nick penasaran. Dan betapa senangnya saat ia melihat sebuah gelang berwarna navy sudah berada pada tangan kanan Ethan.
"Jangan beritahukan Pedro aku yang memberimu ini. Bilang saja kamu membelinya di Kota Truncheon."
Wajah Nick cukup menggemaskan di dalam pikiran Ethan. Tapi lagi-lagi ia harus menyadarkan diri sendiri bahwa wajah yang dibayangkan dalam pikiran dengan wajah yang sedang menatapnya adalah berbeda. Pergerakan tangan Ethan yang hampir menyentuh kepala Nick tertahan hanya dalam pikiran. Ya, wajah Putri Charlotte adalah wajah yang terbayang dalam benaknya saat itu.
"Kenapa pertemanan kalian jadi malah menyusahkanku?"
Ethan lebih dahulu keluar dari ruangan dan Nick menyusulnya dengan wajah setengah merasa bersalah. Sampai di koridor lantai dua, Nick menangkap sosok yang usianya mirip dengan kakeknya. Keanu menutup pintu ruangannya sambil tersenyum lebar pada Nick dan Ethan.
"Ethan dan Nick Halberd! Hei, bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Keanu melihat ke arah Nick.
"Baik, Keanu. Tampaknya Anda sedang terburu-buru untuk pergi."
Perjanjian awal untuk tidak berbicara saat bekerja tidak berlaku bila Nick bertemu dengan Keanu. Tentunya Nick juga sangat senang tidak ada peraturan bagi Keanu karena bercengkrama dengannya adalah hal yang menyenangkan. Keanu sering menceritakan cerita-cerita yang menarik seperti dongeng dadi seorang kakek pada cucunya.
"Reika mengundangku untuk makan malam bersama pacarnya. Tapi seperti biasa, aku lupa menaruh kunci ruanganku sehingga terlambat. Yah… setelah Reika menghilangkan mobilku, aku terpaksa berjalan kaki ke mana-mana."
Tawa hangat menghiasi koridor lantai dua Bar Pehme Tera. Dengan berat hati Nick ikut tersenyum untuk mengikuti suasana ceria dari tawa yang diberikan oleh Keanu. Namun dalam hati Nick sedikit bersedih atas kondisi yang telah menimpa orang tua itu.