Keanu adalah orang yang pertama yang turun dari lantai dua ke lantai satu. Baik Ethan maupun Nick telah mempersilahkan tuan rumah yang mempunyai urusan penting untuk turun lebih duluan. Walaupun mereka berdua harus bersabar atas pilihan mereka karena waktu yang dibutuhkan oleh seseorang berumur tujuh puluh tahunan untuk menuruni tangga adalah dua kali lebih lambat dari orang dewasa dengan kecepatan normal.
Saat Keanu melewati meja bar dan meja yang ditempati para pelanggan, semua orang yang bertatapan dengannya langsung memberikan salam. Termasuk Marcus yang langsung membungkukkan badannya ketika Keanu lewat. Keanu begitu dipandang oleh para pelanggan dan karyawannya sendiri karena mempunyai sikap yang dermawan dan rendah hati sehingga kehadirannya bisa membuat semua orang menghentikan pekerjaannya saat itu hanya untuk menoleh padanya. Orang yang sudah berumur cukup lama dibandingkan orang-orang di satu ruangan yang sama itu, membalas semua sapaan dengan begitu bersemangat. semua pelanggan di sana merupakan Termasuk Marcus yang langsung membungkukkan badannya ketika Keanu berpamitan untuk pergi.
Pandangan Ethan yang memperhatikan Keanu bertolak ke arah bar yang kini terletak di sampingnya. Ia melihat seorang laki-laki berbadan besar dengan tato di kedua lengannya yang berotot.
"Marcus, kamu bisa pulang duluan. Kebetulan belum ada order baru lagi kan," kata Ethan pada sosok yang dipanggilnya dengan sebutan Marcus.
"Okay. Thanks, Ethan."
Marcus menghentikan kegiatannya dan memasukkan kembali sekop ke dalam tumpukan es batu. Ia mengelap tangannya dengan handuk lalu melemparnya ke arah tempat penampungan tertutup di samping pintu keluar meja bar.
Marcus menepuk pundak dengan kasual Ethan lalu menaikan alis pada Nick sebagai tanda bersosialisasi sebelum ia beranjak ke ruang ganti.
Nick langsung mengelap semua gelas yang sudah dicuci dan peralatan lain yang sekedar dibilas dengan air. Sedangkan Ethan mengelap tempat kerjanya yang agak basah karena terkena cipratan cairan dari segala bahan yang ada di wilayah meja bar. Sebuah handuk putih di tangan Ethan berubah menjadi warna warni dan langsung dimasukan ke tempat penampungan sama seperti handuk yang dilemparkan oleh Marcus sebelumnya.
Saat Nick sedang agak membungkuk untuk mencacah es batu menjadi lebih kecil, dua perempuan duduk di atas kursi bar untuk memesan minuman. Nick langsung menghentikan kegiatannya dan menatap pelanggan yang terlihat ingin langsung membuat pesanan.
"Sweet mountain, please," kata salah satu perempuan dengan nada menggoda selaras dengan make up nya yang tebal dan bajunya yang ketat hingga memperlihatkan bentuk tubuhnya.
"Mereka salah sasaran lagi," kata Nick dalam hati diakhiri dengan helaan nafas panjang tanpa mengeluarkan suara yang berarti.
Nick memberikan senyum minimalis, sebuah istilah buatan Ethan supaya Nick bisa menjaga dirinya saat bekerja. Salah satu ujung bibir ditarik ke samping sedikit, kedua bola mata tetap memandang lurus ke arah mata lawan bicara, kepala sedikit menunduk, lalu langsung beralih pada hal lain yang bisa dikerjakan. Saat itu mata Ethan beralih dari perempuan yang satu ke arah perempuan yang lain sehingga mau tidak mau perempuan kedua memberitahu ordernya dengan cepat.
"Buat menjadi dua."
"Mohon menunggu," kata Nick masih mempertahankan senyuman minimalosnya lalu beralih pada pekerjaan teknis yang harus dilakukan.
Ketika sebuah nama dari daftar menu cocktail disebutkan, ia harus langsung mengetahui semua urutan pekerjaan dengan cepat. Seperti layaknya seorang bartender, Nick juga harus melakukan pekerjaan-pekerjaan kecilnya dengan cermat. Pengaturan komposisi harus tepat. Dan yang pastinya hasil karyanya harus indah dipandang oleh para pelanggan.
Setelah beberapa menit beraksi, Nick berhasil menyajikan Sweet Mountain sama seperti kamus cocktail dalam pikirannya. Karena tidak diperbolehkan banyak bicara, gadis yang serang menyamar menjadi bartender laki-laki itu kembali memperlihatkan senyuman proseduralnya sambil menghidangkan dua buah cocktail ke hadapan dua perempuan yang sedari tadi mengamatinya.
Tidak ada komentar maupun kalimat menggoda dari kedua pelanggan. Kedua perempuan itu hanya tersenyum sambil membawa pergi gelas kaca berisi cocktail yang terapit cantik di antara jemari mereka. Hal itu menandakan bahwa sikap Nick sudah sesuai dengan yang direncanakan di awal dan juga sudah dilatihnya hingga ratusan kali. Dinding batasan yang ia latih berhasil membuatnya tidak dirayu lebih dari sebuah senyuman. Tidak seperti kejadian yang pernah menimpanya di awal ia bekerja, sampai-sampai Ethan harus memotong pembicaraan Nick dan pelanggan yang mengarah pada konten serius.
Hanya Nick sendiri dan Ethan yang tahu betapa tegangnya Nick saat mendapatkan pesanan langsung seperti barusan. Setelah langkah kaki kedua pelanggan perempuan sudah tidak terdengar, Nick langsung membalikkan badan ke arah dinding dan menghela nafas pelan dari mulutnya yang meruncing. Seperti ritual yang selalu dilakukan oleh Ethan, ia menepuk-nepuk lengan Nick sebagai tanda bahwa keponakannya sudah melakukan tugas dengan baik. Tak ada kontak mata. Tak ada kalimat yang terucap.
Kontak mata dengan pelanggan adalah hal yang harus dilakukan sehingga akan sangat sulit untuk menolak bila pelanggan sudah menginginkan salah satu bartender dalam melayani pesanan nya. Cara lain yang bisa dilakukan untuk melewatkan pesanan kepada bartender lain hanyalah komunikasi. Namun Ethan belum berani memberikan beban komunikasi itu pada Nick. Melatih sebuah senyuman saja sudah membuat Nick selalu mengeluarkan keringat dingin pada satu tahun pertama bekerja.
Malam ini Nick mendapatkan lima kali "kesempatan emas" untuk melayani pesanan pelanggan. Bukan jumlah yang paling banyak selama ia bekerja namun cukup membuat jantung Nick berdegup kencang karena takut melakukan kesalahan. Bukan kesalahan dari hal teknis yang dilakukan dengan tangan dan segala bahan yang harus dihafalnya, namun kesalahan dalam melayani pelanggan lewat senyuman belaka.
Jam yang tergantung di atas pintu bar menunjukan angka dua dan memperlihatkan suasana bar yang sudah sepi. Hanya ada dua pelayan perempuan selain Nick dan Ethan yang masih berkutat di wilayah meja bar. Saat kedua pelayan perempuan menaiki tangga ke lantai dua untuk berganti baju, Ethan menepuk-nepuk pundak Nick dari belakang.
"Jumlah yang cukup banyak hari ini ya," kata Ethan hampir saja menaikkan tangannya untuk menepuk kepala Nick. Namun berhasil ia tahan.
"Argh… melelahkan sekali. Aku benar-benar merasa sudah menjadi aktor terkenal saat ini."
"Tentu saja kamu harus menjadi seorang aktor bila harus menyembunyikan identitas di depan orang banyak. Bayangkan apa yang akan terjadi bila kamu bertemu dengan orang-orang kerajaan saat berada di pusat keramaian? Apakah kamu masih bisa tenang seperti tadi? Bagaimana bila ada puluhan orang yang mengintimidasimu?"
Nick yang sudah kelelahan semakin memperlihatkan wajah yang lemas. Bagaimana tidak lemas bila Ethan malah membahas rencana Nick yang telah ditolak tadi pagi tadi ditambah dengan wejangan berintonasi seperti seorang Ayah pada anak perempuannya.
"Ya, Ethan…," kata Nick sedikit menunduk supaya Ethan tidak sorot matanya saat itu.
Ethan tersenyum sambil menepuk-pundak Nick sekali lagi. Lalu Ethan beranjak dari posisinya disusul dengan Nick yang memandang punggung Ethan dengan wajah yang kecewa.