"Aku harus pergi ke Kota Truncheon lagi pagi hari ini," kata Ethan sambil memberikan dua piring berisikan potongan sandwich untuk kedua orang yang berbagi tempat tinggal dengan dirinya.
"Kamu masih mencari info dari kerajaan, Ethan?" tanya Nick menaruh handphone di samping piring dengan layar menghadap ke bawah. Hal yang selalu dilakukan oleh Nick saat ia berusaha mendengarkan lawan bicaranya dengan intens.
"Dua tahun berlalu tapi belum ada kabar darinya. Ya, aku hanya mencari info lebih dahulu untuk berjaga-jaga saja."
Kata ganti orang ketiga yang dimaksudkan oleh Ethan adalah orang yang mengutusnya untuk melindungi Nick. Nick tahu benar siapa orang yang dimaksud dalam percakapan kali ini. Walaupun Ethan selalu bersikap tenang, Nick juga tahu bahwa sudah cukup lama Ethan tidak tidur di malam hari karena mencari informasi dengan berteleportasi. Ethan sempat membocorkan apa yang dilakukannya pada Nick saat ia setengah tertidur di sofa.
Dua tahun memang bukan waktu yang cepat. Bahkan terlalu lama bagi Ethan untuk hanya sekedar mendapatkan informasi terbaru dari orang yang mengutus dirinya. Awalnya Ethan dapat mengalihkan kekhawatirannya akan informasi yang terlalu lamban dengan melatih fisik dan melihat perkembangan Nick dalam melakukan pembelaan diri. Namun Ethan merasa terlena dengan waktu dan memilih untuk fokus mencari informasi dari kerajaan sejak sebulan yang lalu.
Berbagai desa di sekitar kerajaan Alexandria sudah dikunjungi Ethan dan tidak ada tanda-tanda apa pun yang didapatnya. Jadi ia memperluas daerah pencarian dengan mengunjungi kota lain yang mungkin menjadi tempat singgah orang-orang kerajaan Alexandria. Walaupun cukup janggal bila ada orang Alexandria di Kota Truncheon karena jaraknya saja sudah tiga kali lebih jauh dibandingkan jarak antara kerajaan Alexandria dengan Kota Windhill. Sementara jarak antara Alexandria dengan Kota Windhill saja sudah sekitar dua ratus kilometer.
Karena pada hari kemarin Ethan berhasil mendapatkan tempat persinggahan yang dapat dipercaya, ia lebih mudah pergi ke Kota Truncheon dengan menggunakan teleportasi. Setelah menghabiskan sarapan dan kopinya, Ethan berpamitan pada Nick dan Pedro. Lalu sosok empunya ruang apartemen 3903 pun menghilang.
"Ethan pergi lagi ke Kota Truncheon. Mungkin akan pulang malam lagi. Semoga aku bisa cuti bekerja malam ini," kata Nick pada dirinya sendiri dan membuat Pedro mengerutkan dahi melihat tingkahnya.
"Kamu mau membaca buku lagi?"
Nick menggelengkan kepala lalu tersenyum pada sosok di samping tempat duduknya. Pedro sudah mengantisipasi akan ada rencana yang tidak terduga dari pikiran Nick bila Nick mengeluarkan senyuman seperti saat ini. Tapi seperti yang selalu terjadi selama ini, apa pun rencana Nick yang direncanakan untuk dilakukan berdua bersama Pedro, Pedro akan menurutinya. Rencana apa pun dan pergi ke mana pun, Pedro tetap tidak bisa menolak permintaan dari Nick.
"Apalagi rencanamu kali ini, Nick?"
"Asalnya aku berpikir mau mendiskusikannya dengan Sasha. Tapi aku yakin Sasha tidak bisa melakukannya. Dan aku yakin Olly tidak akan mau melakukannya. Jadi harus aku dan kamu yang melakukannya, Pedro. Dan hari ini waktu yang sangat tepat. Ethan mungkin akan pergi cukup lama sehingga tidak mungkin memanggil kita berdua tiba-tiba di siang hari."
"Hei….hei… tunggu, Nick. Aku sama sekali tidak mengerti apa rencanamu."
"Mari kita pergi ke Desa Kukree!" kata Nick dengan mata membelalak sambil menggoyang-goyangkan bahu Pedro. Karena tenaga Nick tidak lemah seperti dua tahun lalu, Pedro cukup kesakitan dengan cengkraman tangan Nick di bahunya. "Ah.. maaf, Pedro. Sudah lama aku tidak bersemangat seperti sekarang."
"Duh… baiklah, Nick. Aku tidak masalah pergi ke mana pun. Tapi bagaimana dengan itu?" tanya Pedro sambil menunjuk jam tangan yang melekat di tangan Nick.
"Kalau aku meninggalkannya di rumah, pastilah Ethan curiga karena aku tidak pernah berada di dalam rumah seharian. Jadi… aku berencana menitipkannya di perpustakaan."
Pedro melotot. Nick pun membelalak. Namun maksud dari mata mereka yang membesar tidak sama. Pedro terkejut sedangkan Nick semakin bersemangat. Akhirnya Pedro mengerti mengapa teman baiknya itu begitu bersemangat seperti ini, tentu saja karena Nick tertantang untuk melanggar peraturan yang Ethan buat. Itulah salah satu sifat yang paling Pedro takutkan dari Nick : semakin idenya dilarang, Nick akan semakin tertantang untuk mencari jalan lain.
"Ugh… aku agak takut dengan rencanamu kali ini, Nick. Kamu kan tahu terakhir kali kamu mematikan jam tanganmu, Ethan langsung berada di hadapanmu."
"Tapi dia tidak mungkin berteleportasi dari Kota Truncheon ke perpustakaan Kota Windhill kan?"
"Iya sih… tapi…"
"C'mon, Pedro. Kamu satu-satunya orang yang bisa aku andalkan."
Pedro semakin mengerutkan dahinya. Semakin ia mengetahui sifat Nick, Nick juga semakin mengetahui sifat Pedro. Nick tahu persis Pedro sulit menolak bila orang yang bergantung padanya meminta bantuan.
"Baiklah… bila hari ini ketahuan oleh Ethan, aku tidak yakin bisa menemanimu berbuat nakal seperti ini lagi."
Nick langsung memeluk Pedro saat itu juga. Di balik kegiatan berpelukan, perasaan Nick dan Pedro masih saling bertolak belakang. Pedro tersenyum karena menahan ketakutannya. Nick tersenyum karena merasa senang bisa menjalankan rencananya.
"Aku sudah mencari-cari tentang Desa Kukree. Sepertinya tidak ada banyak berita di sana. Berita terakhir yang aku lihat justru memperlihatkan keindahan karya dari anak-anak Desa Kukree. Bukankah terdengar aman?" kata Nick yang sedang berjalan berdampingan dengan Pedro keluar dari gedung apartemen.
"Aku tidak bisa mendebatmu, Nick. Bagaimanapun kamu sudah mencari informasinya terlebih dahulu."
Nick cukup senang saat ini tidak ada yang mendebatnya rencananya seperti yang biasa Ethan lakukan. Ia berjalan dengan wajah penuh kepercayaan diri di balik trucker cap yang selalu ia kenakan saat keluar dari apartemen. Namun kepercayaan diri Nick terhadap rencananya semakin lama semakin pudar seiring dengan langkah kakinya. Di tengah-tengah perjalanan Nick dan Pedro menuju perpustakaan, wajah Ethan tiba-tiba saja melintas dalam pikiran Nick. Senyuman yang terukir di wajah Nick lambat laun menghilang.
"Bukankah malah mencurigakan bila tidak banyak berita mengenai Desa Kukree? Bukannya itu malah mengarahkan bahwa Desa Kukree tidak pernah terjamah oleh media?" tanya ilusi suara Ethan yang terjadi karena pikiran Nick yang mulai mempertanyakan rencananya sendiri.
Nick menggeleng-gelengkan kepalanya. Membuat beberapa orang-orang yang berpapasan dengan Nick melihat ke arah Nick dengan kebingungan. Di antara semangat Nick yang membara, ada kecemasan yang menggelitik pikirannya.
"Nick. Kita sudah sampai di perpustakaan."
Nick terperanjat dengan tepukan ringan dari Pedro di bahunya. Ilusi suara Ethan menghilang dan tergantikan oleh sebuah gedung tinggi dengan puluhan anak tangga untuk mencapai pintu masuknya. Papan nama bertuliskan "Perpustakaan Umum Kota Windhill" terpampang dengan jelas di sudut kanan atas dari gedung itu.
Nick terdiam memandang gedung perpustakaan lalu beralih pada jam tangannya. Ia memandang jam tangannya beberapa saat, melepaskannya dengan cepat, lalu memasukan jam tangan itu ke dalam saku celananya. Selama ini Nick merasa tertekan oleh sebuah jam tangan karena ia merasa terawasi setiap saat. Lalu ia berpikir bahwa jam tangan hanyalah sebuah barang yang bisa ia titipkan, tapi rencananya hanya bisa dilakukan olehnya sendiri. Jadi Nick tetap memilih untuk melanjutkan rencananya.