Jam tangan Nick sudah dititipkan di loker perpustakaan. Supaya tidak mencurigakan, Nick dan Pedro masuk dulu ke dalam perpustakaan, melihat satu dua buku, mengembalikan buku ke rak, lalu meninggalkan perpustakaan tanpa mengambil barang yang sudah dititipkan di loker. Nick berpikir saat ini Ethan pasti mengira ia sedang mencoba membaca di perpustakaan. Sekalipun tidak melanjutkan membaca, palingan Ethan berpikir bahwa seorang Nick akan dengan mudah tertidur pulas di atas sofa perpustakaan.
Nick merenggangkan tangannya saat keluar dari gedung perpustakaan. Seakan ada beban berat yang telah ia tinggalkan pada gedung yang berada di balik punggungnya.
"Saatnya kita pergi, Pedro."
"Memangnya kamu pernah pergi ke Desa Kukree?"
"Tidak. Oleh karena itu kita panggil taksi saja. Aku tinggal memberitahukan alamat yang tertera di sini."
Nick memperlihatkan sebuah artikel di handphone pada Pedro. Artikel itu membahas tentang donasi dari suatu kelompok mahasiswa kepada karya anak-anak di Desa Kukree. Di artikel itu juga terdapat informasi alamat yang dapat dituju untuk memberikan donasi secara langsung. Pedro memperlihatkan dua ibu jarinya sebagai tanda pujian bagi Nick.
Tentu saja dibandingkan dengan Pedro, Nick lebih sabar untuk mencari data pendukung dalam misi yang sedang dilakukannya. Tapi mau sebanyak apapun informasi yang dikumpulkan oleh Nick, seringnya Ethan langsung bisa mematahkan semua informasi tersebut. Membuat Nick merasa ia masih dianggap sebagai anak kecil di mata Ethan.
Memikirkan Ethan kembali membuat kepala Nick menjadi pusing. Nick menarik Pedro untuk menyeberangi jalan dan mencari taksi yang kosong di sisi jalan yang lebih ramai dari tempat berdirinya saat ini. Semakin lama ia terdiam dan hanya menunggu, ilusi dari Ethan akan lebih cepat untuk muncul kembali.
Selama berada di dalam taksi, Nick menjelaskan semua rencananya kepada Pedro. Pada awalnya Nick hanya ingin mengubah tata letak tempat duduk dari kedai milik Sasha. Namun setelah mengetahui ada cara untuk menambah jenis barang yang dijual tanpa membuatnya sendiri, Nick langsung tertarik mencoba. Bahkan cukup banyak artikel yang menawarkan untuk menjual barang-barang yang dibuat oleh anak-anak Desa Kukree. Sebuah tawaran di depan mata, mengapa tidak langsung diambil?
Letak Desa Kukree sendiri sebenarnya tidak jauh dari Kota Windhill. Hanya berjarak lima kilometer dari perbatasan Kota Windhill sebelah selatan. Kedai milik Sasha pun sebenarnya sudah hampir berada pada perbatasan di antara Kota Windhill dengan Desa Kukree. Jadi jaraknya berkisar lima hingga tujuh kilometer dari kedai milik Sasha. Bahkan dengan berjalan kaki pun Nick dan Pedro dapat tiba di Desa Kukree sebelum jam makan siang. Namun demi mempersingkat waktu persembunyian mereka dari sosok Ethan, Nick memutuskan untuk memakai kendaraan umum.
Sekitar jam setengah sembilan pagi, Nick dan Pedro sudah menjejakkan kaki di wilayah Desa Kukree. Supir taksi mengatakan bahwa kendaraan beroda empat tidak bisa mencapai pemukiman seperti yang dikatakan pada artikel dan tempatnya hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Jadi Nick dan Pedro diturunkan di depan jalan setapak sebelum taksi itu berputar arah untuk keluar dari wilayah tersebut.
Seperti foto-foto pada artikel, Desa Kukree memang terbilang kumuh. Nick memandang jalan yang telah dilewatinya saat masih berada di dalam kendaraan. Jalan itu hanya dapat dilewati oleh satu mobil dan menyisakan ruang sekitar satu meter saja. Di sebelah kiri dan kanan jalan adalah rumah-rumah yang merangkap sebagai toko dengan banner yang merekat di dinding dan pintu seng yang tertutup. Memperlihatkan bahwa dari di siang hari ini semua toko tersebut tutup dan mungkin hanya beroperasi pada malam hari. Menyisakan tumpukan kardus dan plastik yang berserakan di depannya.
Nick menyipitkan matanya. Sejauh mata memandang hanya ada lima orang yang dapat dilihat oleh Nick, yaitu beberapa orang tua dan wanita sedang berada di depan rumah. Mereka langsung mengalihkan wajah ketika Nick melihat ke arah mereka. Walaupun tidak secara terang-terangan, Nick merasa penduduk tersebut tidak senang dengan kehadiran orang asing.
“Ada apa?” tanya Pedro melihat Nick yang masih memandangi jalan yang berlawanan dengan tujuan.
“Tidak apa-apa.”
Nick dan Pedro melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki. Mereka berdua menyusuri jalan yang agak berliku dan menanjak. Nick merasa bersyukur telah menaiki kendaraan umum dulu dibandingkan dengan berjalan kaki karena ternyata jarak antara tempat perhentian taksi dengan rumah yang dituju adalah sekitar tiga kilometer. Betapa polosnya Nick telah memercayai artikel yang mengatakan bahwa jaraknya tidak terlalu jauh dari halte bus. Atau mungkin saja artikel tersebut sebenarnya mengatakan bahwa jaraknya tidak jauh bila ditempuh oleh kendaraan beroda 2. Hanya saja Nick tidak mencari tahu lebih lanjut informasi secara detilnya.
Sebenarnya jarak tiga kilometer bukan merupakan jarak yang jauh bagi Nick dan Pedro. Kedua anak muda itu terbiasa berjalan kaki hingga berlari dari apartemen Ethan hingga kedai milik Sasha. Namun jalan yang ditempuh semakin menanjak hingga membuat sudut sekitar tiga puluh derajat. Membuat Nick dan Pedro tidak berhenti mengeluh dan saling menyalahkan. Lupa bahwa berbicara tak henti juga dapat membuat energi mereka berkurang banyak.
Akhirnya sebuah pemandangan di depan mata Nick terlihat sama dengan yang terlihat di artikel. Sebuah rumah susun yang terlihat lebih tinggi dari bangunan di sebelah kanan dan kirinya. Di samping bangunan tiga lantai itu terdapat taman rimbun yang dipenuhi dengan pohon lebat nan tinggi setinggi gedung. Sesungguhnya hampir setengah dari Desa Kukree ini masih berupa hutan. Jadi pemandangan pohon nan tinggi bukanlah pemandangan yang asing. Berbeda dengan pemandangan di Kota Windhill di mana pemandangan hijau dari pohon sudah digantikan dengan pemandangan gedung-gedung tinggi modern.
Sudah berada di tempat yang dituju Nick malah terdiam dan tidak beranjak selama beberapa saat. Matanya menelusuri rumah susun di hadapannya. Masih bingung dari mana ia harus memulai karena tidak ada tanda apa pun yang menerangkan mereka harus masuk dari mana. Tidak ada ruang tamu. Tidak ada tempat menunggu. Hanya ada pintu dan jendela identik yang berjejer di sepanjang dinding bangunan.
Kebingungan Nick terselesaikan begitu seorang wanita tua menghampirinya. Masih dengan ekspresi yang tidak bersahabat seperti penduduk yang dilihat Nick sebelumnya, wanita itu memandangi Nick dan Pedro dari kaki hingga kepala dan diakhiri dengan memandang lurus pada kedua mata Nick. Warna biru muda pada bola matanya menjadikan Nick lebih mudah dijadikan sasaran dalam pemindaian.
“Apa tujuan kalian datang ke sini?”
“Kami ingin bertemu dengan anak-anak yang membuat kerajinan tangan,” jawab Nick berusaha mengabaikan intonasi tidak menyenangkan dari wanita itu. Nick memperlihatkan foto kerajinan tangan dan informasi mengenai Desa Kukree pada layar handphonenya. Di luar ekspektasi dari Nick, wanita itu semakin mengerutkan dahi saat melihat layar handphone.
“Kalian salah tempat. Anak-anak itu tidak berada di sini.”
Nick mengutak-atik layar handphonenya sekali lagi. Memastikan foto yang berada di dalam artikel mempunyai ciri yang sama dengan rumah yang berada di hadapannya. Sama persis. Bahkan kebiasaan para penyewa rumah susun di lantai dua dan tiga itu pun sama. Mereka menjemur pakaian pada pagar tepat di depan ruangan mereka masing-masing. Kali ini Nick yang mengerutkan dahi kepada wanita di hadapannya. Bagaimanapun ia tidak ingin kembali dengan sia-sia.