Pedro menghela nafas panjang. Sudah lebih dari sepuluh menit Nick berusaha menjelaskan kepada wanita yang menjadi salah satu penghuni rumah susun di Desa Kukree bahwa rumah susun yang ada di foto dan di hadapan mereka adalah sama. Nick dan wanita itu berdebat dengan sengit. Wanita itu bahkan setengah berteriak saat Nick ingin memastikan kepada penghuni rumah susun yang lain.
“Kalian semua sama saja! Menyusahkan sekali! Pergi sekarang juga!"
Nick menghela nafas dan melihat ke arah Pedro yang sudah menggelengkan kepala sejak tadi. Pedro hanya ingin pulang dan makan dengan tenang dibandingkan berurusan dengan wanita tua yang bersuara cempreng.
Di pikiran wanita tersebut, kedua anak muda di depannya mungkin akan pergi sebentar lagi seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya kepada para pendatang lain. Namun bukannya berbalik arah, Nick malah menarik baju Pedro untuk melewati wanita di hadapan mereka. Nick berjalan mantap ke arah salah satu pintu rumah susun di lantai satu dan mengetuk pintunya. Wanita itu semakin marah. Ia berteriak-teriak sambil menarik baju Nick untuk segera pergi. Badan Nick bergeming. Badannya cukup tinggi dibandingkan wanita itu sehingga kakinya yang berpijak tidak mudah untuk dipindahkan begitu saja.
Tidak lama kemudian dua orang laki-laki berbadan kekar keluar dari pintu kamarnya masing-masing dan berjalan menuju keramaian yang ditimbulkan oleh Nick dan wanita penghuni rumah susun. Wajah kedua laki-laki sama tidak bersahabatnya dengan semua penduduk Desa Kukree yang lain. Nick yang mulai jengah langsung bertanya tanpa basa-basi.
“Di mana anak-anak ini?” tanya Nick sambil memperlihatkan layar handphone nya.
“Usir mereka berdua! Mereka akan membuat masalah saja sama seperti yang sebelumnya,” kata wanita penghuni rumah susun membuat Nick melirik ke arahnya.
“Kami tidak membuat masalah. Kami hanya bertanya apa…”
Belum sempat Nick menyelesaikan kalimatnya, salah satu laki-laki menarik kerah baju Nick dengan mata membelalak. Sebuah kepalan tangan sudah berada di atas kepala laki-laki itu dan siap meninju sosok di hadapannya. Bola mata Nick dan Pedro ikut membesar. Perkelahian fisik bukanlah yang mereka cari tapi apabila harus terjadi, maka Nick harus membela diri.
Nick berhasil menahan tangan kanan dari laki-laki yang hampir meninjunya. Sialnya laki-laki yang lain juga ikut melayangkan kepalan tangan ke arah kepala Nick. Nick sempat menghindar, tapi pipinya terkena cincin yang dikenakan oleh orang yang meninjunya sehingga kulitnya kini tergores oleh gesekan cincin tersebut.
“Ah sial.”
Nick mengusap pipinya dengan tangan dan darah menempel di buku jarinya. Tanpa menunggu serangan dari kedua sosok di hadapannya, Nick memutar badan seiring dengan kaki kanannya yang terangkat ke udara. Sepatu kets Nick menghantam pipi dari salah 1 laki-laki itu dan bagian wajah dari laki-laki yang ditendang oleh Nick pun memerah. Kekuatan tendangannya masih disesuaikan supaya tidak membuat gigi lawannya coplok.
Merasa terdesak dengan pertarungan dua lawan satu, Nick mengambil kancing di sakunya. Pertanda ia meminta bantuan kepada Pedro. Pedro yang sedari tadi hanya mengamati perkelahian dari belakang punggung Nick langsung melihat tangan temannya dengan waspada.
“Kalian berhenti!!”
Sebuah teriakan terdengar dari lantai dua rumah susun itu disusul dengan suara langkah kaki yang tergesa-gesa. Setelah mendengar suara teriakan itu kedua laki-laki yang menyerang Nick langsung menurunkan kepalan tangannya sambil tetap memandang Nick dengan wajah tidak senang. Mereka menurut begitu saja seakan teriakan itu adalah sebuah perintah yang mutlak.
Sosok yang berteriak telah tiba di lantai satu dan langsung mendekati Nick. Sosok itu mempunyai tinggi sepantaran Nick namun bisa memerintah dua laki-laki yang berbadan jauh lebih besar darinya. Sosok itu adalah seseorang dikenal oleh Nick. Membuat Nick tidak bisa mengedipkan mata dalam beberapa saat.
“Mereka mencari masalah, Tuan…”
Kata-kata wanita penghuni rumah susun terhenti karena sosok yang dipanggilnya tuan langsung menarik kerah baju Nick dan mendorongnya ke dinding. Nick bergeming dan membelalakan mata. Bukan karena ia tidak bisa melawan tapi karena ia terlalu terkejut dengan wajah yang ia sangat kenal sudah berada tiga puluh sentimeter di depan matanya.
“Kalian ingin mencari masalah lagi, hah?!”
Bahkan suaranya pun masih sama dengan suara yang berada di pikiran Nick. Hanya karena rambutnya kini lebih rapih dan pakaian yang kasual, bukan berarti Nick dapat melupakan sosok yang ia kenal selama bertahun-tahun. Namun tampaknya sosok di depannya itu tidak menyadari siapa yang sedang ia bentak saat ini.
“Ne….ar?”
Suara Nick terdengar samar-samar tapi berhasil membuat Near terpaku. Intuisi Near mengatakan bahwa ia sebaiknya melepaskan genggaman tangannya di baju Nick saat itu juga. Namun laki-laki itu tidak mudah teralihkan karena intuisinya.
“Siapa kalian?!” teriak Near dengan wajah kesal. Ekspresi marah menutupi kebingungannya.
“Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Hanya padamu, tidak dengan mereka semua,” kata Nick memandangi satu per satu penghuni rumah susun lalu memandang kembali sosok di hadapannya.
Near berhasil diyakinkan oleh Nick melalui tatapan dari kedua bola mata berwarna biru muda dan sebuah senyuman yang familiar. Kedua hal tersebut membuat Near memberikan kesempatan untuk berdiskusi kepada orang asing yang masuk ke dalam wilayahnya padahal telah membuat keributan.
“Ikut aku ke ruanganku.”
Nick tersenyum ke arah Pedro untuk mengikutinya. Tidak ada penjelasan apa pun kepada Pedro malang yang masih tidak mengerti apa yang telah terjadi. Pedro hanya bisa mengikuti Nick yang tengah mengikuti Near. Melewati satu per satu orang yang menjadi lawan berkelahi Nick beberapa saat lalu.
“Near Geraldine. Aku tahu ini aneh. Aku tidak bisa menyebutkan nama asliku di sini. Tapi aku bisa memberitahumu sesuatu yang hanya aku ketahui tentang dirimu,” kata Nick setelah Near menutup pintu ruangan dan mengizinkan dua tamu berada di dalamnya.
“Berhentilah bertele-tele, siapa kalian?”
“Kamu mengatakan bahwa stroberi paling enak dimakan langsung dari pohonnya. Makanya kamu tidak pernah menyimpan stroberi untukku. Dua tahun lalu adalah saat terakhir kamu memberikan stroberi padaku sebelum kita berpisah.”
Near masih bergeming di depan pintu ruangannya yang tertutup. Tentu saja hanya ada satu orang yang bisa mengatakan hal seperti itu. Dari sekian banyak orang yang dikenalnya tidak ada orang yang membahas hal sampai spesifik dan tidak bermakna seperti itu kecuali satu orang. Namun logikanya tidak berani menyimpulkan bahwa orang di depannya adalah Putri Charlotte.
“Tidak. Aku tidak tahu hal seperti itu. Siapa kalian?”
“Ya ampun… selalu saja mengelak. Pantas saja ayahmu sering sekali marah padamu.”
Near menelan ludahnya. Cara berbicara dari orang di depannya sama persis dengan bayangannya mengenai Putri Charlotte. Perlahan-lahan amarah Near luntur. Tergantikan dengan pertanyaan besar yang ingin segera terjawab.
“Putri Char….”
Nick segera mendekati Near dan menjulurkan jari telunjuk ke bibirnya. Sebuah tindakan yang spontan saat nama aslinya hampir terucap. Nick hanya terlalu takut saat ada orang yang sedang menyadap pembicaraan atau sekedar lewat dan mendengar perkataan Near. Namun tindakan Nick menyebabkan jantung Near berdegup dengan kencang. Tidak salah lagi. Semua ciri khas tentang orang yang disukainya berada pada sosok di hadapan Near saat ini. Bahkan Near baru sadar bahwa wajah yang berada beberapa sentimeter di depannya ini tetap terlihat cantik walaupun berparas seperti laki-laki.
Near tidak dapat menyembunyikan senyumannya setelah ia yakin bahwa sosok di hadapannya adalah Putri Charlotte. Setelah sekian lama menenggelamkan harapan untuk bertemu dengan orang yang disukainya, Nick sebagai identitas lain dari Putri Charlotte telah hadir di hadapannya. Bukan hanya hadir di dalam mimpinya.