“Kamu tidak apa-apa kan?” tanya Near dengan suara khawatir. Seratus delapan puluh derajat berbeda dari suara amarah yang dikeluarkannya saat hampir meninju Nick di depan penghuni rumah susun lainnya. Near menyentuh pipi Nick dan tetesan darah masih keluar dari lukanya. Dengan segera Near berjalan ke ujung ruangan dan langsung mencari kotak obat dari lemari.
“Hei.. hei.. Near. Aku tidak apa-apa. Aku sudah sering terluka dibandingkan dulu. Luka seperti ini tidak ada apa-apanya.”
Near tidak mendengarkan kata-kata Nick dan masih mencari barang yang ditujukan bagi Nick. Di tangan kanan Near terdapat alkohol yang diteteskan pada kapas dan sebuah band-aid di tangan kirinya. Pedro hanya memerhatikan adegan yang berubah suasana dari panas menjadi berbunga-bunga ini dari pojok ruangan. Hanya dari melihat perubahan mata Near saja Pedro sudah dapat mengetahui bahwa Near menyukai Nick sebagai sosok penyamaran dari Putri Charlotte. Apalagi saat ini Near seperti kebakaran jenggot saat mengetahui Nick terluka. Luka yang sungguh kecil dibandingkan latihan yang diberikan Ethan maupun kecelakaan yang terjadi saat Nick dan Pedro berlatih bersama.
Near menarik kursi dari meja makan dan menyuruh Nick duduk di sampingnya. Nick tersenyum gugup saat Near merawatnya seperti seorang pasien. Walaupun sungkan, Nick tidak menolak. Mendapatkan perhatian dari orang yang sudah lama tak dijumpainya bukan sesuatu yang buruk, pikir Nick.
“Oke… bagaimana ceritanya kamu bisa sampai di sini?”
Pedro berdeham untuk meminta perhatian. Mata Near tidak dapat beralih dari Nick. Seakan kehadiran Pedro tidak disadari dan tidak diinginkan oleh Near.
“Oiya, dia Pedro. Temanku selama berada di Kota Windhill. Pedro, Near adalah teman lamaku yang sering kuceritakan,” kata Nick yang menangkap sinyal dari Pedro untuk diperhatikan.
“Bahkan tidak perlu diperkenalkan pun kalian berdua sudah terlalu terang-terangan membicarakan satu sama lain di hadapanku,” kata Pedro dalam hati dengan kesal. Namun wajahnya berusaha tersenyum saat bersalaman dengan Near.
Pandangan Near langsung tertuju pada Nick kembali. Pedro sudah merasa seperti figuran dalam film yang tampil sesekali dan sutradara bahkan tidak perlu memberikan nama baginya. Karena sudah biasa mendengar perdebatan antara Nick dan Ethan, Pedro sangat mengerti posisi dirinya saat ini. Ia hanya tinggal memainkan handphone nya dan bersiap-siap menjawab saat Nick menanyakan pendapat padanya.
Nick menjelasakan perihal kedatangannya ke rumah susun itu adalah untuk mencari tahu tentang barang yang dijual oleh anak-anak di Desa Kukree. Ia yakin bahwa tempat yang sedang dicari adalah rumah susun yang sedang mereka singgahi saat ini. Near terdiam sesaat saat mendengarkan penjelasan Nick. Wajahnya berubah menjadi serius.
“Sebenarnya mereka memang berada di sini.”
“Ah benar kan! Akhirnya kami tidak akan pulang dengan sia-sia,” kata Nick tersenyum lega. Namun Near masih mengerutkan alisnya. Bahkan ditambah dengan helaan nafas yang berat.
“Sebenarnya kami ingin menghentikan pasokan karya tangan ke Kota Windhill.”
“Loh… kenapa? Bukannya malah menguntungkan warga Desa Kukree ya?”
“Kalian mungkin melihat hanya dari artikel yang baik-baik saja. Tapi di balik artikel itu ada banyak hal yang malah menyulitkan kami. Sejak sebulan lalu, banyak orang datang ke sini dengan berbagai motif yang berlainan. Pada awalnya juga kami menerima dengan senang hati karena Desa Kukree disorot oleh sosial media. Namun semakin lama banyak yang mempergunakan kami sebagai alat promosi para influencer yang tidak bertanggung jawab. Mereka mengambil barang seenaknya, memotret, hingga merusakkan tapi tidak mau menggantinya dengan uang. Anak-anak dipersalahkan karena tidak kooperatif dan barangnya dianggap tidak bagus karena mereka sendiri yang merusaknya.”
Nick memandang wajah Near yang tampak kesal dengan objek pelaku yang sedang dibicarakan. Benang merah pun terjalin di dalam otak Nick. Informasi yang dikatakan oleh Near selaras dengan sikap para penduduk Desa Kukree yang tidak bersahabat. Tentunya penampakan Nick dan Pedro saat ini tidak berbeda dengan para influencer yang datang sebelum ini.
“Dan seminggu lalu hampir terjadi penculikan di daerah sini. Padahal sejak dulu Desa Kukree sangat aman karena semua penduduk saling mengenal satu sama lain. Sudah pasti penculik itu berasal dari luar desa ini.”
“Penculikan?”
“Ya… anak kecil yang berada di foto itu hampir saja menghilang kalau tidak ada orang yang berjaga-jaga di rumah ini pada siang hari. Oleh karena itu orang dewasa bergantian bekerja dan tinggal di sini untuk menjaga anak-anak.”
“Jadi sebenarnya anak-anak berada di dalam rumah ini?”
“Sebagian iya. Sebagian bekerja bersama orang tuanya. Selama di sini kami tidak mengizinkan mereka keluar dari rumah. Biasanya mereka berkeliaran sesuka hati, bahkan pergi ke hutan pun tidak berbahaya. Sekarang manusia lebih berbahaya daripada hewan-hewan liar.”
“Tapi bukannya mengurung mereka di sini justru akan membuat anak-anak tertekan?”
Nick dan Near langsung menoleh ke arah datangnya suara. Pedro yang sedari tadi hanya fokus melihat layar handphone tiba-tiba mengeluarkan suaranya. Kedua laki-laki di ruangan itu saling berpandangan dengan intens. Near terlihat terganggu dengan pendapat dari Pedro.
“Jadi kamu beranggapan bahwa ide kami itu tidak benar?” tanya Near dengan wajah tidak senang.
“Aku hanya mengatakan mungkin saja anak-anak akan tertekan bila dikurung di sini.”
“Kami tidak mengurung mereka! Kami melindungi mereka!”
Pedro memperlihatkan wajah datar seakan ingin mengatakan “Apa bedanya?”. Namun Pedro tidak suka berdebat. Ia memilih untuk mengangguk saja dan membiarkan Near kembali fokus pada sosok yang berada di samping tempat duduknya.
“Cih…” Near memandang Pedro sambil berdecak lalu kembali melanjutkan percakapan dengan Nick. “Jadi sebaiknya kamu mengurungkan niat untuk berjualan barang-barang dari desa ini. Karena kami juga sudah kesulitan untuk memasok ke Kota Windhill bila harus bergantian menjaga anak-anak”
Nick menggigit ujung bibirnya dengan pelan untuk meredakan kecemasan. Seakan rencananya kembali ke titik 0. Mereka terpaksa harus pulang tanpa membawa hasil apa-apa.
Di sisi lain Near memandang Nick dengan kecewa. Ekspresi Nick tidak menggambarkan bahwa ia penasaran dengan kehidupan Near di desa ini. Nick lebih khawatir dengan pikirannya sendiri yang dipenuhi dengan karya tangan dari anak-anak Desa Kukree. Seperti biasa Near mengambil inisiatif untuk bisa terhubung lebih dekat dengan orang di hadapannya.
“Bagaimana kamu bisa sampai di Kota Windhill? Setelah keluar dari … sana, aku tidak bisa mendapatkan kabar sama sekali tentangmu.” Near memberikan jeda saat mulutnya hampir saja mengatakan “kerajaan Alexandria”.
“Yah… banyak sekali yang harus aku ceritakan padamu. Aku akan menceritakannya lain kali. Okay?”
Near berusaha memendam kekecewaannya saat Nick lebih memilih untuk membicarakan hal lain selain kehidupan mereka masing-masing setelah berpisah selama dua tahun. Near menarik senyuman tipis pada bibirnya. Tidak ingin membiarkan dirinya terlihat lemah di hadapan orang yang disukainya.
“Nick, aku menjawab telepon dulu di luar,” kata Pedro buru-buru beranjak dari tempat duduknya di atas kusen jendela yang terbuka. Nick memerhatikan wajah Pedro yang tampak panik sepanjang berjalan melintasi dirinya dan keluar dari ruangan. Sudah jelas yang dapat membuat Pedro mengeluarkan wajah seperti itu hanya Ethan seorang.
“Hei… kamu melamun.”
Suara Near membuyarkan lamunan Nick. Pikirannya ikut cemas karena ingin segera menemui Pedro untuk menanyakan hasil percakapannya dengan Ethan. Di sisi lain ia juga cemas karena ingin mendapatkan hasil nyata dari percakapannya dengan Near.