Untunglah percakapan antara Pedro dan Ethan tidak lama. Nick jadi bisa melihat ekspresi Pedro yang sudah terlihat tenang saat masuk ke dalam ruangan. Wajah cemas Nick berubah menjadi tenang kembali.
Sementara itu kontak mata yang dilakukan Nick dan Pedro membuat empunya ruangan menjadi tidak senang. Near jadi mempertanyakan banyak hal di kepalanya. Siapakah Pedro ini sampai bisa mengalihkan perhatian gadis di hadapannya yang biasanya hanya tertuju padanya?
Nick menoleh kembali ke arah Nick dengan wajah tersenyum. Near membalasnya dengan senyuman kaku dan mata yang mengawang. Sudah tidak bersemangat seperti awal bertemu dengan Nick.
“Maaf, Near. Jadi kita sampai mana tadi?”
“Kalian tampak dekat ya?”
“Ya, cukup dekat hingga banyak yang menggosipkan kami yang tidak-tidak,” kata Nick sambil berdecak dan menggeleng-gelengkan kepala.
Near terpaku mendengar jawaban Nick. Setelahnya Nick berusaha menjelaskan bahwa ia sedang menyamar menjadi laki-laki sehingga kedekatan antara kedua laki-laki itu dicap orang-orang tidak normal. Nick berusaha mendeskripsikan hubungannya dengan Pedro dengan santai dan tidak serius. Namun Near tidak peduli setiap kata yang ia dengarkan. Ia hanya merasa semakin lama sosok di hadapannya terasa jauh dari genggaman. “Putri Charlotte” di hadapannya sudah tidak sama dengan yang selama ini ia kenal.
“Jadi… apakah kami tidak akan mendapatkan barangnya kah?” tanya Nick yang sudah kembali fokus pada tujuan awalnya.
“Yah, aku sudah bilang. Sebaiknya kamu mencari tempat lain saja. Aku tidak anak-anak beresiko untuk diculik seperti sebelumnya.”
“Tapi…” Nick baru saja ingin berkomentar. Namun Near menangkap sebuah desahan dari Pedro lebih dulu dibandingkan ucapan Nick. Desahan itu terdengar seperti bentuk protes terhadap ucapan Near barusan. Spontan Near mengeluarkan emosinya yang sedari tadi dipendam kepada orang yang masih saja menggunakan handphone nya di pojok ruangan.
“Hei! Mana tata kramamu? Kamu berada di wilayah orang lain tapi tidak sopan seperti itu!” bentak Near pada Pedro.
Pedro spontan mengerutkan dahinya. Ia bahkan tidak mengatakan apa pun sejak tadi selain dua kalimat yang langsung membuat Near membentaknya. Buat apa ikut campur pada percakapan tanpa adanya undangan untuk berbicara? Selama ini pun tuan rumah hanya ingin berbicara pada Nick seorang diri kan? Pedro tidak habis pikir mengapa ada orang yang begitu emosi terhadap orang yang bahkan tidak berbicara apapun.
“Aku tidak berbicara sedikit pun.”
“Kamu tidak sopan dengan menggunakan handphone terus menerus selama berada di tempat orang lain. Tahu tidak?!”
“Near…. Tenang-tenang. Pedro hanya mempunyai adat istiadat yang berbeda…”
Pembelaan Nick terhadap Pedro semakin membuat Near kesal. Tidak hanya tingkah Pedro saja yang mengganggu pikirannya namun juga perihal kedekatan antara Nick dan Pedro. Atau justru alasan kedua yang lebih membuat Pedro kesal. Near berusaha mengingat perkataan Pedro sebelumnya dan membahasnya kembali.
“Membuat anak-anak tertekan? Pasti kamu berasal dari keluarga yang mampu sehingga tidak tahu betapa sulitnya hidup bergantung pada rasa kasihan dari orang lain!”
“Mengapa malah membahas masalah keluarga?”
“Orang tuamu pasti tidak pernah mengajarkan tata krama padamu. Hanya memberikan anaknya barang dan tidak peduli bahwa kamu bertingkah tidak sopan seperti ini."
Pedro beranjak dari tempat duduknya. Ia menatap Near dengan alis yang menekuk. Pedro tidak berbicara apapun namun Nick tahu persis Pedro sedang marah. Orang sabar dan ceria seperti Pedro tidak akan marah bila tidak ada bensin yang menyulut percikan api seperti saat ini. Pedro mengepalkan tangan kanannya dan menggertakkan giginya. Nick langsung menarik tangan Pedro untuk menahan tangan yang kapan saja bisa melayang pada laki-laki di depannya.
“Pedro! Tenangkan dirimu.”
Nick memandang Pedro dengan khawatir. Namun sesuai ekspektasi Nick, Pedro tidak jadi melayangkan tinju. Pedro memutuskan untuk pergi supaya tidak melihat wajah yang membuatnya marah lagi. Sebelum meninggalkan ruangan, Pedro menatap Nick dengan pandangan kecewa.
“Hmpf… bahkan kamu berlindung di balik perempuan karena tidak bisa menjaga dirimu sendiri.”
Perkataan Near memancing sebuah tamparan keras pada pipinya. Tidak hanya Pedro yang sedang marah ataupun Near yang sedang cemburu, Nick pun ikut-ikutan emosi dengan kondisi yang terjadi saat ini.
"Kamu sangat keterlaluan, Near. Bahkan kamu mengatakan semua itu tanpa mengetahui situasi yang dialami Pedro."
Near melihat ke arah orang yang menamparnya dengan wajah tidak percaya. Sebuah tamparan. Pandangan kecewa. Dan sosok yang langsung menghilang di hadapannya tanpa berpamitan. Nick keluar dari ruangan dan meninggalkan Near yang sedang terluka.
Selama ini Putri Charlotte yang dikenal oleh Near selalu berada di pihaknya. Walaupun Near selalu disalahkan oleh ayahnya sendiri di depan Putri Charlotte, Putri Charlotte selalu membela dirinya. Namun hari ini Putri Charlotte datang dengan identitas lain. Membawa seorang laki-laki yang tidak pernah dilihat oleh Near sama sekali dan lebih memilih membela laki-laki itu dibandingkan dirinya. Lalu Putri Charlotte meninggalkan dirinya dengan sebuah tamparan keras.
Near masih tidak habis pikir dengan apa yang telah terjadi saat ini. Ia meletakan telapak tangan pada pipi kanannya. Lalu tersenyum di balik wajahnya yang kecewa. Perlahan senyumannya berubah menjadi sebuah tawa yang penuh kesakitan.
Nick menutup pintu ruangan Near dengan keras. Ia tidak terlalu peduli apakah suara pintu yang berisik dapat mengundang orang-orang datang menghampirinya. Saat ini ia hanya sedang kebingungan apakah letak tangga di rumah susun ini berada di sebelah kiri atau kanannya.
“Tangganya di mana ya?" gumam Nick sambil melihat ke sekitarnya. Saat melihat sekitar Nick menangkap sosok Pedro yang sudah berhasil menuruni tangga dan berjalan cepat untuk meninggalkan bangunan di belakang punggungnya. Merasa tertinggal oleh temannya, Nick langsung melangkahkan kaki tanpa berpikir lagi. "Ah, peduli amat.”
Nick menyusuri koridor ke arah kiri dan ternyata tidak ada tangga di sana. Jadi ia harus melewati ruangan Near sekali lagi untuk mencapai letak tangga yang sesungguhnya. Nick sekilas melihat ke arah pintu ruangan Near. Ia menghela nafas keras sebagai tanda kekecewaan terhadap salah satu teman baiknya. Lalu Nick melanjutkan langkahnya kembali untuk menuruni tangga. Menyusul Pedro yang pastinya sudah menuju arah pulang.
Nick berlari keluar dari rumah susun dan berbelok di jalan yang beraspal. Hampir saja ia melewatkan sosok yang dikejarnya bila ekor matanya tidak menangkap sosok yang sedang berjongkok di pinggir jalan. Pedro sedang berjongkok dengan kedua tangan terlipat di atas kakinya. Ia mendongak dan melihat Nick dengan pandangan sinis.
“Yaampun.. Untunglah kamu masih di sini, Pedro. Ayo kita pulang.”
Nick mengulurkan tangannya dan Pedro menerima uluran tangan itu dengan kedua tangannya. Wajah Pedro merungut dengan bibir bawahnya yang dimajukan. Seperti anak kecil yang baru saja marah kepada orang tuanya namun ia tidak mau ditinggal. Nick menarik Pedro untuk berdiri kemudian merangkul bahu Pedro.
“Ayo kita cari makanan. Aku tahu kamu sudah kelaparan," kata Nick tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu temannya itu dengan pelan.