Nick dan Pedro menggunakan taksi kembali dari tempat perhentian yang sama dengan pagi tadi di Desa Kukree. Dalam kondisi kelaparan, berjalan kaki terlalu lama bukan pilihan yang tepat bagi Nick dan Pedro. Apalagi mereka sudah capai secara fisik karena berjalan jauh dan capai secara mental karena sudah marah-marah.
"Kamu mau pergi ke kedai?" tanya Pedro saat Nick menunjukkan alamat yang sama dengan tempat makan yang dipikirkan oleh Pedro.
"Tidak. Mari kita makan kari kesukaanmu," kata Nick mengundang senyuman lebar dari wajah Pedro.
"Tapi kan tempat itu sangat mahal."
"Tenang saja. Kemarin aku gajian. Jadi kita makan sepuasnya siang hari ini."
Jam makan siang orang pada umumnya sudah lewat sekitar dua jam lalu. Jadi perut Nick dan Pedro sebenarnya sudah cukup kompromi dengan makanan yang belum kunjung masuk ke dalamnya. Karena terlalu letih sambil menahan lapar, Nick pun tertidur selama perjalan dari Desa Kukree menuju tempat makan siang yang telah ditandai.
Beberapa kali kepala Nick terantuk kaca pintu taksi dan membuat Pedro tidak tega melihatnya. Pedro menggeser tempat duduknya hingga mendekati Nick. Setelah bahunya cukup dekat dengan badan Nick, ia memindahkan kepala Nick dengan perlahan ke arah bahunya.
"Hei… terima kasih," gumam Pedro sambil tersenyum pada wajah yang sedang bergumam sendiri dalam tidurnya. Wajah Nick yang asalnya tidak nyaman perlahan menjadi bahagia begitu kepalanya tidak terantuk kaca jendela lagi.
Sepanjang perjalanan Pedro berkali-kali berpikir tentang sikap yang diperlihatkan oleh Nick. Pedro hanyalah orang asing yang menemani Nick berlatih kekuatan magis dan bermain selama dua tahun. Sedangkan Near adalah orang yang menemani Nick saat Nick masih berada tempat kelahirannya sejak kecil. Near adalah salah satu rakyat Alexandria yang bahkan sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri. Namun Nick dengan mudah meninggalkan orang yang telah dicarinya selama dua tahun demi mengejar Pedro yang sedang marah.
Dan Pedro semakin bingung saat dirinya dan Nick sudah duduk di tempat makan, lalu Nick mengatakan apa yang dilakukannya pada Near setelah Pedro pergi dari rungan Near.
"Apa?? Kamu menamparnya??"
Dengan santai Nick mengangguk pada laki-laki yang duduk berseberangan dengannya. Lalu ia kembali berbicara sambil melihat menu yang terbuka di atas meja.
"Nick… bukannya kamu berlebihan kalau sampai menamparnya seperti itu?"
"Near yang berlebihan padamu. Seharusnya ia tidak berasumsi seenaknya dan membahas tentang orang tuamu."
Pedro tidak bisa berkata-kata. Dari nada bicaranya saja Nick sudah sangat kesal dengan tindakan Near. Dengan adanya kejadian Near membentak dirinya, ingin sekali Pedro bertanya pada Nick dan mengharapkan sebuah jawaban darinya. Jawaban yang ingin didengar oleh seseorang yang mempunyai masa lalu tidak seindah orang pada umumnya. Namun Pedro merasa tidak pantas. Yang dapat dilakukan oleh Pedro hanyalah menerima pembelaan dari Nick pada dirinya tanpa berharap lebih.
Deretan makanan yang tergambarkan dalam menu menjadi tidak menarik seperti biasanya. Pikiran Pedro masih dipenuhi masalah yang terjadi pada pagi hingga siang hari ini sehingga ia tidak dapat menjawab makanan yang ingin dipesan saat pelayan restoran menanyakan padanya.
"Bukannya kamu biasa beli curry rice with hamburg cheese?"
"Ah iya. Aku ingin mencoba yang lainnya juga… jadi tidak memesannya," jawab Pedro berbohong. Ia sama sekali belum memilih menu makanan apa pun. "Kalau begitu aku pilih topping tempura saja. Minumnya lemon squash."
Pelayan restoran menuliskan menu yang disebutkan Pedro, mengulang semua menu yang dipesan oleh Nick dan Pedro, lalu beranjak dari tempatnya berdiri untuk meneruskan menu kepada orang yang berada di dapur.
"Tadi Ethan yang menelepon? Apa katanya?" Nick langsung melanjutkan pertanyaan kedua setelah Pedro mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan pertama.
"Ia menanyakan posisiku ada di mana. Lalu aku mengatakan sedang membeli minuman di perpustakaan. Ia menanyakan apakah kamu masih membaca atau tertidur. Aku bilang Nick sudah tertidur setelah satu jam membaca buku. Aku sudah mengatakan persis seperti rencanamu kan?"
Nick mengacungkan jempolnya ke udara untuk memuji sandiwara dari Pedro. Ia merasa bangga karena sudah dapat memperkirakan bahwa Ethan akan menelepon Pedro sehingga menyusun sandiwara yang harus dihafalkan oleh Pedro. Walaupun ia tidak berhasil mendapatkan yang dituju, setidaknya Nick merasa rencana untuk mengelabui Ethan akan berhasil.
Berbeda dengan Nick, Pedro tampak tidak bersemangat. Nick menyadari keanehan pada diri Pedro karena biasanya dirinya dan Pedro akan berdiskusi tengang berbagai hal selama menunggu makanan datang. Namun kali ini Pedro hanya memandang buku menu dengan pandangan kosong.
Sebelum ia tertidur di mobil, emosi Nick pun sama panasnya dengan kemarahan yang dirasakan oleh Pedro. Setelah bangun, Nick berusaha bersikap normal kembali. Namun tampaknya Pedro belum bisa melakukan hal yang sama dengannya saat ini. Melihat Pedro yang tidak ceria seperti biasanya, Nick teringat pada adegan satu setengah tahun lalu dalam pikirannya saat pertama kali Nick melihat sisi lain di balik keceriaan yang diperlihatkan oleh Pedro.
Sudah sekitar enam bulan Nick hidup bersama Ethan dan Pedro namun ia masih belum bisa tidur dengan tenang di malam hari. Biasanya Nick akan keluar dari kamar menuju balkon yang hanya terhubung dengan kamarnya. Di sana terdapat sebuah kursi kecil sebagai tempat Nick untuk merenung. Selain berada di balkon, Nick juga terbiasa untuk berbaring di atas kasur, melihat langit-langit kamar dan memikirkan segala hal yang sudah terjadi padanya. Buku-buku belum berada di kamar Nick saat itu sehingga ia tidak bisa menggunakan membaca sebagai obat tidur tercepatnya.
Malam itu hujan turun sangat deras sehingga Nick tidak bisa menghabiskan waktu di balkon kamarnya. Dan badannya terlalu kaku akibat tidak keluar dari apartemen selama beberapa hari sehingga tidak nyaman untuk berbaring. Jadi Nick mencoba untuk keluar kamar dengan hati-hati, takut membangunkan Pedro yang tidur di sofa yang berada di ruang tengah.
Niat Nick setelah keluar kamar adalah memanaskan s**u cokelat di dalam microwave untuk diminumnya perlahan di dalam kamar. Namun ia tergerak untuk mendekati sosok yang tengah tertidur di atas sofa. Nick baru pertama kali melihat Pedro yang terlihat begitu menderita dalam tidurnya. Kepala Pedro bergerak dengan tidak tenang seiring dengan wajahnya yang meringis kesakitan. Matanya terpejam, tapi mulut Pedro tidak berhenti mengeluarkan suara. Suara itu sangat pelan sehingga tidak pernah terdengar dari kamar Nick selama ini.
"Maafkan aku… Jangan sakiti aku…" Berkali-kali Pedro menggumamkan dua kalimat tersebut dengan bibir yang gemetaran. Tubuhnya meringkuk di balik selimut dengan kedua tangan yang menyilang di depan dâda seakan ingin melindungi bagian tubuhnya.
Nick berlutut di atas lantai untuk melihat kondisi Pedro lebih dekat dan membuatnya semakin iba terhadap teman di hadapannya itu. Nick mengangkat tangannya perlahan-lahan untuk menyentuh lengan Pedro yang terbungkus selimut. Ia bermaksud menenangkan Pedro dengan mengelus-elus lengannya.
Pedro langsung bangun saat itu juga. Ia sempat waspada saat seseorang menyentuh lengannya, namun langsung lega saat melihat Nick dan bukannya orang yang ditakutkan dalam mimpi. Udara cukup dingin malam hari itu tapi Pedro terbangun dengan keringat mengucur dari pelipisnya.