Di saat Nick pertama kali melihat Pedro yang bermimpi buruk dari tidurnya, Nick langsung tahu bahwa Pedro bukan sekedar mengalami kehidupan masa kecil yang sulit. Bukan hanya ditinggalkan oleh orang tua saat masih kecil maupun dikucilkan oleh orang-orang yang berada di sekitarnya. Intuisi Nick mengatakan bahwa Pedro mengalami hal yang lebih pahit dari apa yang selama ini dapat terpikirkan olehnya.
Di malam itu Pedro langsung menceritakan apa yang telah dialaminya saat masih kecil dan membuat Nick tidak bisa berkata-kata. Pedro tidak pernah mengenal siapa ayah dan ibunya sejak ia dilahirkan. Ia hanya tahu dari orang yang merawatnya sejak bayi bahwa ia ditinggalkan begitu saja di dalam sebuah kardus. Dibiarkan menangis sepanjang malam. Di sebuah jalan kecil yang gelap di pinggiran Kota Windhill.
Seorang nenek sebatang kara memungutnya dan merawat Pedro hingga balita. Nenek itu terlalu miskin untuk membeli sûsu bayi, sehingga hanya memberikan Pedro sûsu yang dapat dibelinya ataupun bahan makanan apa pun yang berada di rumahnya. Walaupun tidak mempunyai gizi yang cukup, masa kecil Pedro saat dirawat oleh nenek tersebut ternyata masa yang paling indah dibandingkan yang terjadi setelahnya.
Setelah Pedro berumur enam tahun, nenek tersebut meninggal karena sakit. Pedro tidak dapat berbuat apa-apa saat tiba-tiba saja banyak orang berdatangan ke rumah si nenek dan mengambil semua barang yang berada di sana dan termasuk mengambil tempat tinggal Pedro saat itu. Jadi anak laki-laki berumur enam tahun itu kembali ke tempat tinggalnya saat masih berumur beberapa minggu, yaitu di jalanan Kota Windhill.
Seorang anak kecil yang berkeliaran di jalanan membuat penduduk setempat menjadi risih. Dengan terpaksa Pedro berpindah-pindah tempat, mencari makan dari tempat sampah, dan tidur di mana pun ia tidak diusir oleh penduduk ataupun polisi. Sampai suatu saat seorang pria membawanya pergi dengan paksa. Anak kecil yang tidak mempunyai tempat tinggal pastinya berharap ia akan makan dan tidur di tempat yang layak saat orang membawanya pergi. Namun ekspektasi itu berbanding terbalik dengan kenyataannya.
Pedro dikurung di dalam sebuah ruangan kosong yang tidak mempunyai kaca jendela. Ia tidur di atas lantai tanpa alas apapun dan hanya diberikan makan makanan sisa. Mungkin pada awalnya Pedro masih dapat bersyukur telah diselamatkan oleh pria itu dari dinginnya musim dingin bila berada di luar rumah. Namun rasa syukur itu tidak akan pernah diucapkan oleh Pedro bila dari awal ia mengetahui motif pria itu membawa dirinya ke rumahnya. Berkali-kali Pedro disiksa di ruangan kecil itu dan membuat trauma pada diri Pedro yang sangat sulit disembuhkan hingga kini. Saat itu Pedro hanya digunakan sebagai objek kekêrasan oleh seorang pria yang mengalami gangguan kejiwaan karena ditinggal oleh pacarnya.
Nick tidak dapat menahan tangisannya setelah mendengar keseluruhan cerita dari Pedro. Pedro berusaha tersenyum dan berusaha membuat Nick tenang. Ia mengatakan bahwa bila tidak ada Ethan yang saat itu masih dikenal sebagai Skyf, maka dirinya tidak akan bisa bertahan hingga saat ini. Oleh karena itu Pedro merasa berhutang budi pada Ethan dan bersedia melakukan apa pun yang diperintahkan oleh Ethan.
Masa lalu Pedro yang kelam tidak akan pernah dilupakan oleh Nick. Betapa malangnya seorang anak laki-laki yang tidak mengetahui siapa orang tuanya dan malah disiksa oleh orang asing hingga menimbulkan trauma. Oleh karena itu Nick tidak menyesal telah menampar Near saat Near menyinggung tentang orang tua dari Pedro. Bahkan Nick menyesal hanya menampar saja. Ia ingin sekali memarahi Near dengan berbagai kalimat yang baru terpikirkan selama perjalanan pulang dari Desa Kukree. Tapi bila Nick melakukannya, mungkin saja Pedro sudah pulang sendiri tanpa dirinya.
Dua buah nasi kari beserta minuman yang dipesan oleh Nick dan Pedro sudah diletakkan di meja. Terlepas dari emosi yang bergejolak, Nick dan Pedro tidak dapat menahan rasa laparnya lagi dan langsung melahap makanan di depan mata mereka. Bagaikan mendapatkan oase di padang gurun, Pedro menghembuskan nafas lega saat mengunyah sesendok nasi yang dipenuhi dengan kuah kental berwarna kuning kecoklatan.
Nick tertawa melihat wajah Pedro yang berekspresi kembali. Ternyata hanya makanan yang bisa membuatnya menjadi normal seperti sedia kala. Merasa turut senang atas kembalinya Pedro yang ia kenal, Nick memotong setengah hamburg berlapis keju yang berada di piringnya lalu menaruhnya di atas piring Pedro.
Pedro memandang Nick selama beberapa saat sambil tetap melanjutkan gerakan mengunyah di dalam mulut. Nick melemparkan wajah bertanya-tanya dengan bola mata membesar, senyuman segaris lurus dan kepala yang dimiringkan ke arah kanan.
"Nick… aku tidak mengerti lagi kenapa kamu begitu baik padaku," kata Pedro dengan wajah serius setelah semua makanan selesai masuk ke dalam perut.
"Kamu juga berbuat baik padaku, kan? Berarti kita impas bukan?"
"Maksudku... Aku bukan siapa-siapa bagimu, tapi mengapa kamu membelaku dibandingkan orang yang ingin kamu cari sekian lama?"
Nick memajukan bibirnya dan bola matanya berputar searah jarum jam. Ia memang memikirkan tentang Near sepanjang perjalanan namun tidak berhasil menemukan jawaban.
"Sesungguhnya banyak yang ingin kupertanyakan pada Near juga. Aku juga tidak tahu apakah Near mengalami hal yang berat selama dua tahun ini dan membuatnya menjadi aneh seperti itu. Tapi tetap saja perkataannya itu benar-benar menyakitkan, bukan?" Nick menghela nafas sebelum ia melanjutkan ucapannya. "Dan kamu adalah teman baikku, Pedro. Bahkan aku sudah menjadikan kamu, Ethan, dan Olly sebagai keluargaku. Keluarga adalah orang yang selalu ada di saat kita susah maupun senang, bukan?"
Perlahan-lahan Pedro membuka mulutnya dan senyuman terukir pada wajahnya. Alisnya mengerut. Matanya dikedipkan beberapa kali. Saat ini wajah Pedro sudah memperlihatkan ekspresi yang hampir menangis.
"Jadi jangan pernah mengatakan kamu bukan siapa-siapa lagi…. Hei, Pedro… kamu kenapa?"
"Ini… tangisan kebahagiaan," kata Pedro masih tertawa dengan air mata bercucuran.
"Bisa-bisanya kamu tertawa sambil menangis seperti ini."
Nick ikut tersenyum dengan lega melihat emosi yang terpendam telah diluapkan oleh Pedro. Tidak berniat menghentikan tangisan itu, Nick memberikan Pedro beberapa lembar tisu dan malah menyuruhnya terus menangis.
"Terlihat lemah di depan orang lain itu memang menyebalkan ya. Tapi entah kenapa aku benar-benar bersyukur orang itu adalah kamu, Nick."
"Tentu saja… kalau di depan Olly mungkin dia akan diam membatu sehingga kamu tidak bisa tertawa seperti ini."
Pedro tersenyum. Memandangi salah satu anggota keluarga di hadapannya dengan penuh kebahagiaan.
"Terima kasih sudah menerimaku sebagai keluarga, Nick…"
Keluarga. Sejak kecil Pedro hanya mengartikannya sebagai orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain. Karena itulah ia merasa tidak akan pernah bisa merasakan yang namanya mempunyai sebuah keluarga.
Namun saat ini Pedro mendengar satu kata ajaib terucap oleh Nick dengan yakin. Hati Pedro yang kosong dan dingin kini telah diisi dan dihangatkan oleh sebuah pengakuan bahwa ia adalah salah satu bagian dari sebuah keluarga.