Sekitar pukul lima sore Nick dan Pedro sudah berada di koridor lantai 39 apartemen. Jam tangan sudah diambil dari perpustakaan dan kini sudah kembali melingkar di tangan kiri Nick. Perjalanan kedua remaja berumur tujuh belas tahun menuju Desa Kukree telah selesai hari ini.
“Ah, Ethan! Kamu sudah kembali…"
Sontak Nick kaget saat melihat seseorang sedang duduk di kursi pantry sedangkan dalam bayangannya Ethan masih berada di kota lain. Seharusnya bayangan Nick tidak salah karena Ethan baru saja memberikan informasi bahwa ia akan pulang malam sekitar sepuluh menit yang lalu.
"Mengapa kamu kaget melihat pemilik ruangan berada di ruangannya sendiri?"
Pertanyaan Ethan terdengar normal, tapi saat ini Nick menangkap gestur yang tidak biasa. Seperti ada yang salah, tapi Nick tidak tahu apa itu.
"Kamu baru saja mengatakan akan pulang malam. Tidak jadi kah?"
Sementara Nick masih berusaha mengajak bicara Ethan dengan kasual, Pedro sudah mengambil sekaleng minuman soda dari kulkas dan meminumnya. Setelah puas meminum soda beberapa teguk, Pedro baru sadar ada yang salah. Ethan tengah menatap Nick dengan tatapan tajam dan dingin. Membuat orang yang melihatnya saja ingin segera melepaskan diri dari pandangan itu.
"Aku hanya bertanya sekali. Nick Halberd, kamu baru saja pergi ke mana?"
Kalimat yang diucapkan Ethan tidak lazim digunakan dalam kondisi normal. Tentu saja seharusnya Ethan tahu persis di mana Nick dan Pedro berada karena ia bisa melacak dari handphonenya yang telah disambungkan pada jam tangan Nick. Apalagi dengan tambahan kata "hanya bertanya sekali" telah menekankan bahwa Ethan telah mengetahui bahwa Nick dan Pedro tidak berada di tempat seharusnya.
"Ethan…. Kami…"
"Aku tidak bertanya padamu!" bentak Ethan saat Pedro mengeluarkan suara. Pedro langsung membungkam mulutnya sendiri. Bahkan ia menahan nafasnya karena baru pernah melihat wajah Ethan yang semarah itu.
Nick hanya bisa mematung di depan pintu masuk dengan bola mata yang mengikuti Ethan yang tengah menghampirinya. Perbedaan tinggi di antara Nick dan Ethan membuat intimidasi lebih terasa intens. Ethan tidak mengeluarkan suara kembali. Menunggu orang di hadapannya bereaksi terhadap pertanyaannya.
"Kami… pergi ke Desa Kukree, Ethan…"
Jawaban Nick tidak membuat pandangan Ethan berubah. Suara Nick yang bergetar pun tidak membuat Ethan iba.
"Apakah aku pernah mengizinkanmu pergi ke sana?"
"Tidak…"
"Apakah aku sudah tidak dianggap lagi sebagai orang yang diutus untuk mengawasimu?"
"Tidak, Ethan… aku…"
"Lalu apa yang kamu pikirkan, hah?!"
Teriakan Ethan membuat Nick memejamkan matanya ketakutan. Bibir Nick bergetar. Perkataan yang ingin diucapkannya tertahan sehingga hanya mengeluarkan suara berdesis yang bergantian dengan hembusan nafasnya yang tak teratur.
Nick bersusah payah membuka matanya namun tidak berani memandang balik mata Ethan. Kepalanya ditekuk dan bibirnya yang bergetar digigit karena tidak berhasil berbicara. Nampaknya tidak hanya suara yang hilang akibat rasa takut tapi juga semua pemikiran Nick yang telah ia susun selama ini.
Ethan mengalihkan pandangan dari wajah yang sudah tidak bisa terfokus padanya. Ia mengambil nafas panjang dan menghembuskannya lewat mulut dengan perlahan. Berusaha menurunkan emosinya sedikit demi sedikit.
"Apakah kamu ingin keluar dari tempat tinggal ini?"
Volume suara Ethan sudah jauh lebih pelan. Namun makna dari pertanyaannya masih tetap membuat Nick terintimidasi. Nick menggeleng berkali-kali tanpa menatap wajah lawan bicaranya.
"Apakah kamu ingin mendapatkan kebebasan untuk pergi ke mana saja yang kamu inginkan?"
Kali ini Nick tidak menggeleng karena memang kebebasan itulah yang ia inginkan. Sejak awal Nick hanya ingin merasa bebas dan tidak terikat dengan statusnya sebagai putri kerajaan. Ia tidak ingin dibedakan dengan rakyat biasa dan terus bersembunyi. Kalau bisa ia malah tidak ingin kembali menjadi Putri Charlotte, baginya hidup sebagai Nick Halberd sudah jauh lebih menyenangkan dibandingkan sebelumnya.
"Ti...dak bisakah itu ter...jadi?" Akhirnya suara Nick kembali, walaupun ia mengeluarkan kata demi kata dengan terseret-seret. "Aku… hanya ingin hidup.. seperti orang lain…"
"Keluarlah."
"Ethan! Nick hanya ingin…"
"Kalau kamu ingin menemaninya, silahkan kalian berdua keluar. Aku memberimu tugas untuk mengawasinya, bukan ikut membantunya keluar dari jalur," kata Ethan dengan wajah dan nada yang kecewa terhadap Pedro. Pedro dan Nick bergeming sambil menundukkan kepala. Tidak ada satu pun yang beranjak dari tempatnya masing-masing.
Sekali lagi Ethan memandangi Nick yang masih memandangi lantai sambil mengerenyitkan dahi sebelum ia masuk ke dalam kamar dan membanting pintunya. Membuat Nick memejamkan mata sesaat.
Pedro segera menghampiri Nick dan memandanginya dengan khawatir. Selama ia berada bersama Ethan, baru pernah Pedro mendengar Ethan mengusir seseorang dari tempat tinggalnya. Pedro khawatir dengan Nick yang masih syok dengan kondisi saat ini. Tapi ia lebih khawatir kalau-kalau Nick langsung pergi dan meninggalkannya karena perkataan Ethan.
"Salahkah aku hanya ingin menjadi seperti orang biasa yang dapat berjalan-jalan sesuka hati?" tanya Nick setelah Pedro menyuruhnya duduk dan memberikannya sûsu cokelat hangat. Suara Nick sudah kembali tenang namun perasaannya belum.
"Mungkin hanya belum saatnya, Nick."
"Tidak akan pernah terjadi… Ethan tidak akan mengizinkanku untuk bebas bila masih berada di sini."
"Jadi...apakah kamu akan pergi?"
Nick menggeleng. Seperti kata Nick pada Pedro sebelumnya, ia sudah menganggap kedua orang yang tinggal bersamanya sebagai keluarga. Tidak mungkin ia bisa meninggalkan perhatian dari keluarga yang diidamkannya selama tujuh tahun silam begitu saja.
Pandangan Nick berlabuh pada pintu kamar Ethan yang tertutup. Dalam pikiran gadis itu pastilah Ethan sedang mengurung diri di kamar dalam keadaan emosi. Tapi nyatanya tidak. Ethan tidak sedang berada di kamarnya.
"Aku cukup terkejut ketika kamu memberikan pesan akan datang ke sini dalam beberapa detik. Tapi ya… selamat datang."
Keanu memberikan salam pada Ethan yang baru saja muncul dari pojok ruangan Keanu di lantai dua Pehme Tera Bar. Seperti ritual yang selalu dijalankannya saat ada tamu masuk ruangannya, Keanu mendekati rak dan mengambil salah satu botol wine dari sana. Tanpa disuruh Ethan langsung mengambil tempat duduk di sofa.
Wajah Ethan masih terlihat datar dan misterius di mata Keanu. Jadi Keanu tidak bertanya-tanya apa pun. Hanya menuangkan wine di gelas yang kosong untuk diberikan pada tamu tersebut.
"Aku baru saja memarahinya," kata Ethan menginisiasi percakapan.
"Wow… setelah dua tahun…"
"Aku juga telah mengusirnya." Keanu terdiam mendengar pernyataan kedua dari Ethan. Ethan mengatakannya tanpa ekspresi yang berubah sama sekali lalu melanjutkan kalimatnya. “Entah apa yang dipikirkan anak itu. Apakah kejadian dua tahun lalu belum dapat membuatnya jera?”
“Bukannya ia memikirkan tentang kebebasan? Saat bercerita kamu sering sekali membahas tentang kebebasan.”
“Dia bukan hanya ingin kebebasan. Dia memang seorang anak yang banyak maunya.”
“Hei… teman lamaku,” kata Keanu sambil menuangkan kembali wine pada cangkir Ethan kemudian cangkirnya sendiri. “Bukannya kamu bersikap tidak adil padanya?”
“Tidak adil? Tentang apa?"
"Di satu sisi kamu memperlakukannya sebagai anak kecil, namun di sisi lain kamu membiarkannya sebagai orang dewasa. Kamu terus berusaha menjaganya agar dia tidak terluka. Tapi kamu juga mengharapkan dia mengerti apa itu arti dari terluka."
"Dia sudah pernah terluka, Keanu. Berkali-kali."
"Sebanyak apa ia terluka hingga ia dapat memposisikan diri sebagai dirimu?"
"..."
"Aku mengerti kamu sudah mempunyai banyak pengalaman. Tapi percayalah, aku pernah merawat dan membesarkan seorang anak hingga aku mempunyai cucu yang juga kubesarkan sendirian. Sedangkan kamu baru membesarkan anak orang lain selama dua tahun."