Setelah berbincang-bincang dengan Keanu selama beberapa jam di Pehme Tera Bar, Ethan berteleportasi kembali ke kamar di apartemennya. Ethan keluar dari kamarnya saat jam makan malam tiba dan membuat Nick dan Pedro langsung menatap ke arah pintu yang terbuka.
"Kalian memilih makan makanan yang ada di kulkas atau ikut denganku makan di bawah?"
Ajakan dari Ethan membuat Nick dan Pedro berpandangan satu sama lain. Tak lama kemudian kedua anak muda itu langsung beranjak dari sofa dan mengikuti Ethan yang sedang memakai sepatu di depan pintu ruangan apartemen.
"Kembalikan jam tangan itu," kata Ethan menyodorkan tangannya saat Nick keluar ruangan dan berada di koridor lantai 39.
"Kenapa… harus dikembalikan?"
"Tidak ada gunanya kan kalau hanya dititipkan di perpustakaan? Aku mencari kalian berdua hingga mengecek cctv. Ternyata kalian hanya berada lima menit di dalam gedung."
Karena Nick hanya menunduk dan tidak bereaksi, Ethan membuka tali jam tangan pada tangan kiri Nick, melepaskan dari tangan, dan memasukkan jam tangan tersebut ke dalam sakunya.
"Mulai sekarang kamu harus menjaga diri kalian masing-masing. Kamu yang akan menentukan sendiri bagaimana keadaan bahaya yang harus dihadapi dan harus dihindari. Karena mulai sekarang aku tidak akan mengawasi kamu setiap lima menit sekali hanya untuk memastikan kamu baik-baik saja. Kamu juga dengar itu kan, Pedro? Kalian paham?"
Nick dan Pedro mengangguk. Salah satu tujuan pernyataan Ethan adalah saat ini ia sudah memberikan kebebasan lebih terhadap Nick. Namun Nick menyadari ada sesuatu di balik kalimat yang diucapkan oleh Ethan. Dalam kalimat Ethan tersirat rasa kekhawatirannya selama ini terhadap keselamatan Nick.
Selama perjalanan dari lantai 39 hingga ground floor, Nick berjalan dengan pikiran melayang ke mana-mana. Selama ini ia selalu merasa terkekang karena sebuah jam tangan yang selalu mengawasinya. Ia merasa bahwa Ethan tidak memercayainya dalam bertindak dan membuat keputusan. Tapi di sisi lain selama ini Nick tidak pernah sadar bahwa Ethan rela menghabiskan waktunya hanya untuk melihat handphonenya terus menerus dan memastikan bahwa Nick tidak dalam kondisi bahaya. Nick merasa seharusnya ia bisa mengerti Ethan sudah berkorban demi memberikan ruang pada dirinya untuk bergerak.
Komunikasi antara Ethan dengan Pedro sudah kembali normal saat berada di restoran yang terdapat di gedung apartemen. Ethan sudah menyuruh Pedro untuk memanggil pelayan restoran dengan bahasa kasual. Pedro pun sudah berani bertanya tentang tingkat kematangan daging pada Ethan. Makan malam yang dilewatkan oleh ketiga penghuni apartemen 3903 tampak seperti hari-hari sebelumnya. Walaupun begitu Nick masih belum banyak berbicara dan memaksakan untuk tersenyum saat ditanya.
Selama makan malam bersama Pedro membahas apa yang terjadi di Desa Kukree dan juga kombinasi makanan yang membuatnya bahagia : nasi kari untuk makan siang dan meltique steak untuk makan malam. Lalu di akhir cerita Pedro pun membuka aibnya sendiri kepada Ethan bahwa ia menangis karena perkataan Nick. Pedro ingin menunjukkan pada Ethan betapa bahagianya saat ia disebut sebagai keluarga.
Ethan memandangi Nick yang sedari tadi tidak berbicara. Nick hanya tersenyum melihat perkataan Pedro dengan sesekali memberikan lauknya pada Pedro untuk dicoba. Saat Ethan tidak sengaja menangkap arah pandangan Nick padanya, Nick hanya tersenyum lalu melanjutkan makannya kembali.
"Aku tetap mau bekerja," kata Nick saat Ethan menyuruh dirinya dan Pedro kembali ke atas.
"Bukankah dari cerita Pedro hari ini sangat kecapaian?"
"Tidak apa-apa."
Nick dan Ethan berpamit pada Pedro karena mereka akan melanjutkan perjalanannya menuju tempat kerja. Jalan yang sama. Tempat kerja yang sama. Suasana bar yang sama. Namun sepanjang perjalanan dari apartemen menuju Pehme Tera Bar hati Nick dipenuhi kegelisahan. Akhirnya Nick memberanikan diri untuk berbicara empat mata dengan Ethan saat sedang berada di ruang ganti baju tempat kerjanya.
"Aku minta maaf… karena tidak memikirkan kondisimu terlebih dahulu."
"Sudahlah… aku sudah berpikir dan memutuskannya. Tidak perlu dibahas lagi," kata Ethan mengerenyitkan dahinya pada gadis yang dicapnya terlalu sensitif.
"Aku… akan ikut denganmu..."
"Lalu saat bersamaku kamu akan merasa dikekang lagi lalu meminta kebebasan kembali?"
"Aku… hanya ingin mengetahui kondisimu. Selama ini hanya kamu yang mengkhawatirkan kondisiku sedangkan aku tidak pernah menanyakan apa-apa tentangmu. Terkadang aku memang benar-benar tidak ingin kembali ke tempatku dulu. Tapi saat melihatmu terus menerus mencari informasi tentang orang yang mengutusmu dan mengkhawatirkanku dari jauh, aku merasa aku terlalu egois."
Ethan sempat bingung dalam merespon perkataan Nick karena gadis di depannya ini bisa mengubah pikiran secepat itu. Dari asalnya Nick menjunjung tinggi kebebasan, sekarang ia ingin melihat dari sudut pandang orang lain setelah mengetahui kesulitan yang dialami oleh Ethan.
Bila Ethan menelaah lebih lanjut, masa lalu Nick memang penuh dengan pengekangan. Setiap sikap dan perkataan seorang Putri Charlotte yang sedikit menyimpang dari peraturan, ia akan didisiplinkan dengan peraturan kerajaan. Dan setelah ia mencoba menaati peran sebagai tuan putri, para petinggi kerajaan lebih menjunjung tinggi nilai Putri Alice dibandingkan dirinya sehingga ia memilih untuk mencari pelarian di luar istana. Saat itu tak ada yang benar-benar mengerti bahwa pola perilaku seorang Putri Charlotte yang membangkang dibentuk oleh kondisi yang tidak mendukung. Tidak ada yang memberitahukan sebaiknya ia melakukan apa saat gagal, karena orang-orang di kerajaan hanya akan mengecapnya sebagai orang gagal ataupun menguatkannya hanya karena perasaan iba.
Selama ini Nick menangkap bahwa ia selalu salah. Namun ia tidak pernah mengerti bagaimana seseorang mengkhawatirkannya. Selama ini Nick hanya tahu bahwa ia dikekang, diawasi, dan tidak dipercaya dapat berkelahi. Namun ia tidak tahu bahwa Ethan luar biasa khawatir saat jam tangannya dimatikan, karena bisa saja terjadi sesuatu padanya.
Kalau saja Nick tidak mempunyai empati yang tinggi, bisa saja ia tidak akan pernah menyadari maksud dari perkataan Ethan. Tapi Nick memang seorang gadis yang sensitif, sehingga ia tidak bisa mengabaikan perasaan bersalahnya saat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Setelah mengetahuinya, kamu mengikutiku, lalu apa yang akan kamu lakukan?"
Nick tidak dapat menjawab. Perkataan Ethan memang selalu beberapa langkah di depan. Sedangkan perkataan Nick seringnya tidak memikirkan terlalu jauh ke depan.
"Aku juga minta maaf karena membentakmu."
Nick menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mengerucutkan bibirnya. "Tidak apa-apa. Mungkin aku harus dibentak dulu baru sadar."
Ethan melihat wajah Nick sambil tertawa kecil. Saat itu Ethan berpikir bahwa betapa kejamnya ia telah membentak wajah yang manis seperti ini hingga ketakutan seperti tadi sore. Ia mendekatkan tangannya ke atas kepala Nick, lalu mengelusnya perlahan.
"Karena kamu sudah mengelus kepalaku lagi, bolehkah aku memelukmu?"
Setelah Ethan mengangguk sebagai tanda izinnya, Nick langsung mendekatkan badannya pada sosok di hadapannya. Kedua tangan Nick membuat lingkaran pada badan Ethan dan kepalanya terbenam di d**a Ethan. Segala kegelisahan Nick pada hari ini terbayarkan dengan memeluk Ethan selama beberapa saat.