Hari pertama kelas sembilan, aku masuk gerbang sekolah dengan kepala tegak. Tahun terakhir. Dua tahun berturut-turut mahkota juara umum tak pernah pindah dari kepalaku. Tahun ini, gelar itu adalah tiket mutlak menuju beasiswa AGe School. Tidak ada alasan untuk kalah.
"Ref! Lo udah lihat anak baru belum?" Nastya menyodorin sebelah earphone-nya sambil setengah berlari menyusul langkahku di koridor. "Dari Pontianak katanya."
"Terus?" jawabku santai.
"Cantik parah. Putihnya pucat, mulus banget, posturnya tegak terus. Kayak... boneka porselen hidup."
Aku mendengus pelan, menatap Nastya dengan sudut mata. "Porselen? Berarti gampang retak, dong? Baru kena ujian harian Bu Ratna juga paling nangis."
Nastya cemberut, tapi argumenku terhenti saat kami masuk kelas. Wali kelas kami berdiri di depan papan tulis, diikuti seorang gadis yang membuat seisi ruangan mendadak hening.
Aku harus akui, kali ini hiperbola Nastya ada benarnya. Gadis itu berdiri dengan kulit putih bersih yang nyaris transparan. Rambutnya hitam legam, lurus, diikat rapi dengan pita sederhana. Namun, bukan penampilannya yang membuatku tak bisa berpaling. Melainkan sikapnya.
Ia tidak tersenyum canggung ke sana kemari. Ia tidak menunduk. Ia hanya berdiri di sana, sepenuhnya menempati ruang, membiarkan puluhan pasang mata mengulitinya tanpa terlihat goyah sedikit pun.
"Perkenalkan, nama saya Shanina Li Az-Zahra," suaranya mengalir tenang, nyaris tanpa riak. "Saya dari Pontianak. Mohon bimbingannya."
Hanya itu. Ia kemudian berjalan menuju bangku kosong di barisan tengah, mengeluarkan buku bersampul kulit tebal, dan mulai membaca. Seolah kami semua ini transparan.
"Sombong amat," bisik Nastya di telingaku.
Aku mengangkat bahu. Namun di dalam d**a, alarm kecilku berbunyi. Insting. Gadis porselen ini bukan sekadar murid pindahan biasa.
Minggu-minggu pertama berlalu, dan Shanina tetap menjadi teka-teki. Saat jam istirahat, ia tidak pernah ke kantin. Ia duduk di mejanya, membaca buku tebalnya, lalu mencoret-coret margin halamannya dengan aksara Mandarin yang rapi.
Aku tidak pernah benar-benar mempedulikannya, sampai suatu sore di bulan September, hujan turun deras dan menahanku di perpustakaan sekolah.
Aku sedang berjongkok di bagian rak sejarah yang sepi, mencari referensi tugas, ketika kudengar suara aneh dari seberang rak. Suara isakan tertahan. Sangat pelan, seolah seseorang sedang membekap mulutnya sendiri agar tidak bersuara.
Didorong rasa penasaran, aku mengintip dari celah buku.
Di lantai sudut ruangan, Shanina duduk bersimpuh. Punggungnya bersandar kaku pada rak. Ponselnya menempel di telinga, tapi suaranya bergetar menahan tangis.
"Tapi Ayah janji pulang tahun ini..." bisik Shanina parau.
Hening sejenak. Lalu Shanina menurunkan ponselnya. Panggilan diputus sepihak. Matanya memerah, air mata mengalir dalam diam membasahi pipi porselennya.
Aku bermaksud mundur, tapi sepatuku berderit di lantai kayu.
Shanina menoleh. Tubuhnya menegang seketika. Dalam hitungan detik yang mengejutkan, ia menghapus air matanya dengan punggung tangan, berdiri, dan merapikan roknya. Perubahan ekspresinya terlalu cepat, terlalu terlatih. Kesedihan itu lenyap, digantikan benteng es yang dingin.
"Sori," bisikku canggung, merasa seperti penyusup. "Gue nggak sengaja."
Shanina memungut ponselnya. Matanya yang sembab menatapku tajam. Tidak ada penjelasan. Tidak ada curhatan klise tentang mengapa ia menangis. Ia hanya membuang muka, berjalan melewatiku tanpa sepatah kata pun, dan meninggalkan aroma samar teh melati di udara.
Aku berdiri mematung. Retakan itu ternyata ada. Gadis sempurna itu menyimpan sesuatu yang rapuh di baliknya. Dan entah kenapa, simpati bodoh sempat menyelinap ke dalam dadaku hari itu.
Simpati yang, sebulan kemudian, kusesali seumur hidup.
Pergeseran takhta itu tidak terjadi lewat satu hantaman keras. Ia merayap masuk pelan-pelan, seperti air yang menenggelamkanmu saat kamu tertidur.
Dimulai dari lomba karya tulis tingkat Jakarta Selatan di bulan Oktober. Menulis adalah teritoriku. Aku sudah menghabiskan malam-malam untuk meriset sejarah kota, menyusun argumen, dan memoles diksi. Saat email pengumuman ditempel di mading, aku tersenyum puas.
Juara 1: Refka Anindya Wiranata.
Juara 2: Shanina Li Az-Zahra.
"Liat, Nas? Teritori gue nggak gampang ditembus," ucapku bangga pada Nastya.
Aku melirik Shanina yang berdiri tak jauh dari mading. Ia hanya menatap namanya di urutan kedua selama beberapa detik, mengangguk kecil seolah sedang mencatat sesuatu di kepalanya, lalu berjalan pergi. Tidak ada raut kecewa. Tidak ada air mata.
Sikap tenang itu justru membuatku kesal. Harusnya dia sadar bahwa di sekolah ini, ada dinding yang tidak bisa ia lompati. Nama gue.
Namun, rasa aman itu hanya bertahan sebulan.
November datang membawa Olimpiade Matematika tingkat kota. Aku belajar sampai begadang, menelan kopi instan hingga lambungku perih, hanya untuk memastikan selisih poin kami tetap jauh. Tapi hari pengumuman itu menjadi tamparan pertama yang membuat duniaku miring beberapa derajat.
Juara 1: Shanina Li Az-Zahra – Emas.
...
Juara 3: Refka Anindya Wiranata – Perunggu.
Aku menelan ludah yang terasa pahit. Selisih poin kami tidak masuk akal—dia melesat jauh ke depan seolah soal-soal sulit itu hanyalah mainan anak TK baginya. Nastya tidak bersorak kali ini. Dia hanya menepuk pundakku pelan, sebuah simpati yang justru terasa seperti hinaan bagiku.
Kehancuran yang sesungguhnya terjadi di lomba ketiga: Presentasi Bahasa Inggris.
Ini seharusnya menjadi ajang pamer bagiku yang terbiasa cas-cis-cus. Namun, saat aku berdiri di atas panggung dan memegang mik dengan tangan berkeringat, mataku tak sengaja menangap Shanina. Ia duduk di barisan peserta, menatapku dengan mata danau yang begitu tenang—begitu dalam—sampai aku merasa seluruh argumen yang sudah kuhafal mendadak dangkal.
Aku tersandung kata-kataku sendiri. Aku gagap. Aku kehilangan fokus.
Hasilnya? Aku bahkan tidak masuk tiga besar, sementara Shanina kembali naik ke podium dengan piala juara pertama di pelukannya.
Pelan tapi pasti, desas-desus di lorong sekolah mulai berubah arah. Bisikan teman-teman yang dulu memujaku kini terdengar seperti dengung lebah yang menyengat.
"Gila ya si Shanina, anak baru tapi langsung nyapu bersih peringkat kota."
"Refka? Ya... masih oke sih, tapi kayaknya emang udah lewat masanya."
Masih oke? Kata-kata itu lebih sakit daripada makian. Aku bukan orang yang 'masih oke'. Aku adalah yang terbaik.
Malam itu, aku menatap pantulan wajahku di cermin kamar yang tampak lelah. Ternyata, porselen yang dibilang Nastya itu bukan dia. Justru egoku yang mulai menunjukkan retakan halus, sementara Shanina tetap mulus, tak tersentuh, dan perlahan-lahan mengambil alih udaraku.
Setiap malam, kamarku berubah menjadi medan perang. Bayangan beasiswa AGe School mulai menjauh, digantikan sosok gadis porselen yang bahkan tidak pernah terlihat berkeringat saat berlari melewatiku. Egoku yang selama ini kupoles mengkilap, perlahan mulai menunjukkan retakan kasar.
Puncaknya terjadi di bulan Desember. Hari pembagian rapor.
Aku berdiri berdesakan di koridor luar, mengintip dari balik kaca nako kelas. Di dalam, Ibu duduk di bangkuku, mengenakan batik terbaiknya, bersiap menyambut tradisi tahunan kami: dipanggil ke depan sebagai orang tua peraih peringkat pertama.
Di depan kelas, Wali Kelas mengetuk meja, meminta perhatian ibu-ibu yang asyik mengobrol.
"Baik, Bapak dan Ibu. Sebelum saya bagikan rapor secara pribadi, saya akan mengumumkan juara kelas semester ini."
Tanganku mencengkeram kusen jendela hingga buku-buku jariku memutih.
"Peringkat ketiga, Dimas Hermawan."
Suara tepuk tangan ibu-ibu terdengar riuh. Dimas yang berdiri tak jauh dariku di koridor langsung bersorak tertahan sambil tos dengan teman-temannya.
"Peringkat kedua..." Wali kelas tersenyum. "...Refka Anindya Wiranata."
Duniaku mendadak kedap suara. Senyum Ibu di dalam kelas membeku sedetik, sebelum ia buru-buru menutupi kekagetannya dengan tepuk tangan canggung. Ibu bahkan sempat menoleh ke jendela, mencariku dengan tatapan bertanya yang menyayat hati. Maaf, Bu, batinku pedih.
"Dan peringkat pertama kita..." Suara wali kelas kembali mengudara, bangga. "Shanina Li Az-Zahra."
Tepuk tangan di dalam kelas menggema lebih keras.
Aku membalikkan badan dengan kasar, membelah kerumunan anak-anak di lorong, mencoba mencari udara. Napasku memburu. Di dekat pilar mading, aku menemukannya.
Shanina berdiri di sana. Reaksinya setenang hari pertama ia masuk kelas—seolah ini bukan hal besar, seolah ini hanya satu lagi hari biasa. Beberapa anak memberinya selamat, dan ia hanya membalas dengan anggukan kecil.
Mata kami bertemu di tengah hiruk-pikuk lorong kelas.
Tidak ada kilat kemenangan di matanya. Atau setidaknya, senyum puas. Tapi tidak ada apa-apa. Matanya datar, menyimpan penerimaan yang justru lebih menyakitkan daripada ejekan. Seolah angka yang baru saja diumumkan bukanlah prestasi, melainkan fakta biasa yang tak perlu dirayakan.
Rahangku mengeras. Ia hanya memegang buku di dadanya lebih erat, lalu mengalihkan pandangan tanpa sepatah kata.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Bukan karena marah. Aku sudah terlalu lama menang untuk tidak tahu cara kalah dengan kepala tegak.
Yang menggangguku adalah pertanyaan lain—pertanyaan yang lebih susah dijawab.
Gadis yang menangis sendirian di lantai perpustakaan itu, yang membaca buku tebal bukan untuk pamer tapi karena butuh teman—gadis itu baru saja mengalahkanku tanpa kelihatan berusaha.
Tapi di sudut kepala yang paling belum bisa kudiamkan, pertanyaan itu masih bergema.
Mengapa aku peduli?
Aku membuka buku di depanku, tapi tidak ada satu kata pun yang masuk. Di sudut kepala yang paling bising, ada keinginan aneh yang tidak berani aku akui.
Aku harus menang lagi. Bukan untuk balas dendam.
Tapi karena aku ingin dia tahu bahwa aku ada.