Papanya Deni memerintahkan daftar tenaga vendor dicari melalui kontrak lama. Ada enam orang yang bekerja selama tiga minggu. Mereka memindai laporan proyek, perjalanan, dan serah terima. Seharusnya dokumen pribadi Arman tidak masuk, tetapi pencampuran map membuat kemungkinan itu tetap ada.
'Jangan hubungi enam orang itu dari kantor dulu,' kata Deni. 'Serahkan daftar ke pemeriksa.'
'Kamu yakin nggak mau tahu namanya sekarang?' tanya papanya.
'Pengen. Tapi kalau salah satu memang pelaku, panggilan dari perusahaan bisa bikin dia hilang.'
Papanya mengangguk. Ia melihat putranya jauh lebih mampu menahan reaksi dibandingkan beberapa minggu lalu.
Gea tetap masuk kampus pagi itu. Ujian tengah semester akan dimulai minggu depan dan ia tidak ingin penyelidikan membuat tugasnya tertinggal. Putri membantunya mencari buku referensi, sementara Fian menyiapkan jadwal belajar bersama.
Rangga bergabung membawa catatan kuliah yang sempat tertinggal saat Gea menghadiri pemeriksaan. Mereka membagi materi tanpa memperlakukan Gea seperti orang yang tidak mampu mengejar sendiri. Serli juga mengirim rangkuman meski tidak bisa datang ke perpustakaan.
'Gue baru sadar dua minggu ini hidup lo kayak serial,' kata Putri.
'Gue justru pengin hidup gue balik jadi tugas sama omelan dosen,' jawab Gea.
'Kalau begitu kerjakan latihan ini. Jangan cuma curhat.'
Gea mendengus lalu mengambil lembar soal. Selama satu jam, mereka benar-benar tidak membicarakan Deni, Kelana, atau akun anonim. Waktu belajar biasa itu membuat pikirannya lebih tenang.
'Suami lo nggak ngajarin materi ini?' tanya seorang mahasiswa baru dengan nada bercanda.
'Deni sudah bukan dosen gue. Gue belajar dari bahan kelas yang sama,' jawab Gea.
Dosen yang mendengar tidak memperpanjang masalah. Ia hanya mengingatkan bahwa semua mahasiswa harus memakai sumber resmi dan tidak boleh meminta bocoran dari mantan pengajar. Gea menerima aturan itu tanpa merasa disindir.
Saat jam istirahat, Daffa memberikan tangkapan layar pesan anonim lain. Kali ini pengirim menanyakan nama vendor yang pernah memindai dokumen Arman. Daffa tidak tahu jawabannya.
'Dia pikir lo masih bisa kasih informasi karena pernah bikin gosip,' kata Gea.
'Gue sudah blokir. Tapi akunnya selalu beda.'
'Terus simpan saja. Jangan balas buat menjebak sendiri.'
Daffa setuju. Ia juga menunjukkan bukti sudah menyelesaikan sesi pembinaan privasi digital. Gea menghargai usahanya, tetapi tetap menjaga jarak yang dibutuhkan.
Siang hari dokter menghubungi Deni dan Gea. Gambar boneka membuat ibu Kelana tersenyum dan mampu menyebut dua warna. Tim terapi mempertimbangkan memperdengarkan rekaman suara sangat pendek, tidak lebih dari sepuluh detik, dengan persiapan serta hak berhenti.
Dokter menjelaskan mereka lebih dahulu akan mengukur keadaan pasien pada pagi sesi. Jika tidurnya buruk, terlalu gelisah, atau terus mencari Arman, rekaman ditunda. Persetujuan keluarga bukan perintah bagi tim untuk memutarnya.
'Kalau setelah dengar dia minta Kelana datang?' tanya Deni.
'Kami catat permintaannya, tetapi pertemuan tetap melalui penilaian bertahap. Keinginan pasien penting, begitu juga kesiapan anak.'
Gea setuju. Ia tidak ingin kemajuan satu hari membuat semua batas dibuka sekaligus.
'Apa Kelana harus tahu rekamannya akan didengar Ibu?' tanya Gea.
'Boleh tahu, tapi jangan beri janji akan ada balasan,' jawab dokter. 'Biarkan dia memilih mau merekam atau tidak.'
Malamnya mereka menjelaskan kepada Kelana. Anak itu langsung ingin menyanyikan satu lagu panjang. Deni tertawa lalu mengatakan dokter hanya meminta suara pendek.
'Kelana bilang apa?' tanyanya.
'Apa saja yang Kelana mau,' ujar Gea. 'Kalau berubah pikiran, nggak jadi juga boleh.'
Kelana memikirkan beberapa saat. Ia lalu meminta ponsel Deni diletakkan di meja dan merekam sendiri.
'Ibu, ini Kelana. Kelana sehat. Kelana gambar boneka buat Ibu.'
Rekamannya hanya sembilan detik. Deni ingin meminta tambahan kata sayang, tetapi menahan diri. Pesan itu milik Kelana.
Dokter memutarnya keesokan hari dalam sesi didampingi. Deni dan Gea menunggu kabar tanpa datang ke rumah sakit. Setelah satu kali diputar, ibu Kelana menangis dan memegang gambar. Ia mengatakan Kelana sudah besar, lalu meminta rekaman dihentikan. Tim mengikuti permintaannya.
Dokter menambahkan bahwa pasien mampu menarik napas mengikuti arahan dan kembali duduk setelah beberapa menit. Tidak ada obat tambahan atau pengekangan. Ia sendiri yang meletakkan gambar di meja lalu meminta air minum.
'Itu kemajuan karena dia bisa bilang berhenti,' jelas dokter. 'Bukan hanya karena dia mengingat nama.'
Deni baru memahami bahwa kemampuan menentukan batas juga bagian dari pemulihan. Ia terlalu fokus pada kemungkinan pertemuan sampai hampir melewatkan hal tersebut.
'Dia nggak mau dengar lagi?' tanya Deni dengan sedih.
'Dia bilang berhenti karena lelah, bukan karena menolak Kelana,' jelas dokter. 'Responsnya kuat tapi masih bisa diatur. Kita tidak ulang hari ini.'
Gea menggenggam tangan Deni. 'Satu kali cukup.'
'Aku tahu. Aku cuma berharap dia senang.'
'Menangis dan lelah nggak berarti dia nggak senang. Perasaannya bisa banyak sekaligus.'
Deni menerima penjelasan itu. Ketika Kelana pulang les, mereka hanya mengatakan Ibu sudah mendengar suaranya dan menyimpan gambar. Mereka tidak menceritakan tangisan sebagai sesuatu yang harus diperbaiki anak itu.
'Ibu balas?' tanya Kelana.
'Belum. Ibu butuh istirahat,' jawab Deni.
'Nggak apa-apa. Kelana juga capek habis piano.'
Jawaban polos itu membuat Deni tersenyum. Anak tersebut lalu meminta makan dan tidak terus menunggu ponsel berbunyi.
Malamnya Gea belajar di ruang tengah. Deni membantu Kelana tidur lalu membawakan teh. Ia tidak menawarkan jawaban ujian atau ikut memeriksa materi. Gea menyandarkan kepala sebentar di bahunya sebelum kembali membaca.
'Kamu nggak penasaran materi ujian aku?' tanya Gea.
'Penasaran, tapi aku pernah menyusun bagian mata kuliahnya. Lebih aman aku nggak ikut bahas soal atau kemungkinan jawaban.'
'Kalau aku cuma minta ditemenin belajar?'
'Aku bisa duduk di sini dan diam.'
Deni mengambil laptopnya lalu bekerja di ujung meja. Kehadirannya tidak berubah menjadi bantuan yang nanti meragukan nilai Gea. Sesekali ia mengisi ulang air minum, tetapi tidak membaca catatan yang terbuka.
Gea merasa cara sederhana itu membuat mereka tetap dekat tanpa mengabaikan batas akademik yang baru saja diperiksa kampus atau membuatnya merasa sedang diawasi oleh suaminya sendiri.
'Setelah ujian kita pergi bertiga ya,' kata Deni. 'Ke tempat yang Kelana pilih.'
'Kalau dia pilih toko boneka?'
'Dompet aku yang menangis.'
Gea tertawa pelan. Di tengah urusan berat, mereka masih membutuhkan rencana biasa sebagai keluarga.
Beberapa menit kemudian daftar vendor masuk dari papanya. Lima orang mudah ditemukan dan tidak cocok dengan rekaman perempuan bermasker. Satu orang tidak memiliki alamat terbaru. Foto kartu kerjanya menyerupai bentuk mata serta tinggi perempuan di rumah sakit.
Nama perempuan itu pernah muncul sebagai penerima pembayaran dari dompet digital yang dipakai staf pengadaan.