Nama perempuan dari vendor itu adalah Mila Kartika. Ia bekerja sementara selama pemindaian arsip Arman, lalu mengundurkan diri sebelum kontrak tiga minggu selesai. Alasan yang tercatat hanya masalah keluarga. Nomor telepon dan alamatnya sudah tidak aktif.
Kontrak menunjukkan Mila bertugas menyiapkan dokumen sebelum dipindai, bukan mengoperasikan mesin. Ia membuka map, melepas penjepit, memberi nomor halaman, lalu menyerahkan tumpukan kepada petugas lain. Posisi itu memberinya kesempatan melihat banyak tanda tangan dan nama.
Daftar pelatihan keamanan data memuat tanda tangannya, tetapi kolom pengembalian kartu akses kosong. Vendor dahulu hanya mengirim surel bahwa kartu hilang dan biaya penggantian sudah dipotong dari pembayaran terakhir.
'Kartu yang hilang mungkin dipakai untuk meyakinkan staf pengadaan bahwa dia orang lama,' ujar pemeriksa.
'Tapi sistem pintu sudah berubah. Kartunya nggak bisa membuka sendiri,' jawab papanya Deni.
'Benar. Karena itu dia tetap butuh kartu tamu dan orang dalam.'
Kegagalan prosedur lama dan baru saling bertemu. Deni meminta audit vendor diperluas ke semua proyek, bukan hanya karena keluarganya menjadi korban.
Deni tidak pernah bertemu Mila. Papanya juga tidak mengenalnya karena vendor dikelola bagian administrasi. Polisi meminta perusahaan menyerahkan berkas kontrak, daftar akses, dan pembayaran tanpa menghubungi keluarga perempuan itu sendiri.
'Foto kartu kerja dua tahun lalu belum cukup untuk memastikan perempuan di kamera adalah dia,' kata petugas. 'Postur mirip dan pembayaran terhubung, tapi kita tetap butuh verifikasi.'
Deni setuju. Staf pengadaan diperlihatkan beberapa foto secara acak, bukan hanya foto Mila. Ia menunjuk Mila sebagai perempuan yang menemuinya, tetapi petugas mencatat pengenalannya bisa dipengaruhi ingatan setelah melihat berita internal.
'Dia bilang namanya bukan Mila,' ujar staf tersebut. 'Dia pakai nama saudara Laras.'
'Apa Anda pernah melihatnya sebelum hari itu?'
'Sepertinya pernah waktu pemindaian lama, tapi saya nggak yakin.'
Pemeriksaan jejak pembayaran menunjukkan uang pertama berasal dari dompet digital atas nama orang yang sudah meninggal. Akun itu dibuat menggunakan data lama dan diisi melalui gerai tunai. Polanya sama dengan penyewaan mobil: identitas orang lain dipakai untuk memutus jalur.
Gerai tempat pengisian berada dekat terminal tujuan staf pengadaan mengantar perempuan tersebut. Kamera gerai hanya menyimpan rekaman tujuh hari dan waktunya sudah lewat. Namun, struk digital menunjukkan nomor referensi yang sama dengan dua pembayaran lain kepada akun anonim.
Satu pembayaran digunakan membeli alamat surel sementara. Yang lain masuk ke jasa percetakan daring, tetapi pesanan dibatalkan sebelum dikirim. Polisi menduga perempuan itu mencoba beberapa cara membuat dokumen sebelum akhirnya datang ke percetakan langsung.
'Dia merencanakan ini, bukan marah spontan setelah lihat gosip,' kata Deni.
'Iya, tapi gosip mungkin memberi waktu yang dia tunggu untuk menyebarkannya,' jawab Gea.
Gea membaca laporan setelah pulang kuliah. 'Kalau dia benar Mila, kita tetap belum tahu kenapa dia cari surat Arman.'
'Mungkin dia lihat sesuatu saat memindai.'
'Atau seseorang menyuruh dia.'
Deni mengangguk. Mereka sepakat tidak menyebut nama Mila kepada keluarga besar. Keluarga Arman hanya diberi tahu bahwa satu mantan tenaga vendor sedang dicari untuk dimintai keterangan.
Hari itu keluarga Arman mengirim buku cerita lama sesuai izin Kelana. Mereka tidak datang mendadak. Di halaman pertama ada tulisan tangan Arman yang memberi tanggal ketika Kelana lahir. Anak itu meminta Deni membacakan sebelum tidur.
Kelana sempat bertanya apakah buku itu harus dikembalikan. Deni mengatakan keluarga Arman memberikannya untuk disimpan, tetapi mereka boleh membuat salinan halaman tulisan agar kenangan tidak hanya berada di satu rumah.
'Kalau bukunya sobek gimana?' tanya Kelana.
'Kita perbaiki. Benda bisa rusak, ceritanya masih bisa kita ingat.'
Gea menyukai jawaban itu. Mereka sedang belajar tidak menjadikan satu surat, satu foto, atau satu buku sebagai satu-satunya tempat bagi hubungan keluarga.
'Ayah Arman dulu bacanya gimana?' tanya Kelana.
'Ayah nggak tahu persis. Tapi mungkin suaranya lebih jelek dari Ayah,' canda Deni.
'Nggak boleh ledekin orang yang di langit.'
'Iya, Ayah minta maaf.'
Gea duduk di sisi lain ranjang. Mereka membaca bergantian sampai Kelana tertidur. Tidak ada perebutan cerita antara Deni dan Arman. Keduanya hadir melalui cara yang berbeda.
Setelah keluar kamar, Deni mengatakan ingin mengajak Kelana bertemu keluarga Arman untuk kedua kali minggu depan. Gea setuju jika pendamping dan Kelana juga siap.
'Kamu nggak takut mereka semakin dekat?' tanya Deni.
'Takut sedikit. Tapi kedekatan mereka bukan kehilangan buat kita.'
'Aku masih belajar percaya itu.'
'Aku juga.'
Deni memeluk istrinya. Ia mencium kening Gea lalu menanyakan apakah perempuan itu masih perlu belajar. Gea mengatakan butuh satu jam lagi. Deni tidak merajuk dan memilih menyelesaikan pekerjaan di ruang sebelah.
Keesokan pagi, pemeriksa dokumen bertemu Ratri sekali lagi. Salah satu tanda tangan pada halaman palsu ternyata berasal dari formulir yang dipindai Mila. Catatan Ratri mengenai rencana keluarga juga pernah dicetak di perusahaan Arman. Dengan demikian Mila mungkin memiliki bahan untuk menyusun halaman, tetapi belum ada bukti dialah yang mengirim.
Deni meminta perusahaan menghubungi vendor lama untuk mengetahui mengapa kartu akses Mila tidak pernah ditemukan. Vendor mengakui laporan kehilangan hanya diterima melalui pesan dan tidak pernah dibuatkan berita acara. Mereka bersedia menyerahkan catatan pengawas serta memperbaiki prosedur.
'Jangan cuma cari kesalahan vendor,' kata papanya Deni. 'Perusahaan kita juga menerima laporan itu tanpa pemeriksaan.'
Deni mengangguk. Ia memasukkan kegagalan tersebut ke dalam audit internal. Ancaman keluarga tidak boleh berakhir hanya dengan menemukan satu nama lalu mengabaikan pintu yang membuat penyalahgunaan data mungkin terjadi.
Ratri meminta salinan keterangannya dicatat jelas. Ia tidak ingin namanya terus disebut sebagai wali pengganti di media atau grup keluarga.
'Saya bersedia menjelaskan kepada kedua keluarga, tapi tidak ke akun gosip,' katanya.
Gea setuju. Mereka mengadakan panggilan singkat dengan keluarga Arman. Ratri menjelaskan perannya hanya sebagai mediator. Semua pihak menerima dan sepakat tidak menyebarkan nama Mila maupun dokumen palsu.
Di kampus, ujian Gea berjalan tanpa gangguan. Ponselnya disimpan di luar ruangan sesuai aturan yang sama untuk semua mahasiswa. Ketika selesai, Putri mengajaknya makan dan tidak menanyakan penyelidikan sampai Gea sendiri bercerita.
'Gue senang punya waktu dua jam cuma mikirin jawaban ujian,' kata Gea.
'Aneh. Orang lain justru pengin lupa ujian,' balas Putri.
Mereka tertawa. Gea baru memeriksa ponselnya setelah duduk di kantin. Ada pesan dari Deni yang mengatakan kondisi kakaknya stabil dan rekaman Kelana tidak akan diputar lagi sampai sesi berikutnya.
Ada juga kabar dari polisi. Mereka menemukan Mila pernah mengajukan keluhan pembayaran kepada vendor setelah proyek pemindaian selesai. Keluhan itu menyebut satu laporan dana santunan Arman yang tidak masuk daftar arsip resmi.
Mila mungkin tidak mengejar Kelana. Ia mungkin sedang mencari dokumen keuangan yang menurutnya disembunyikan perusahaan.