Deni meminta bagian keuangan mencari laporan dana santunan tanpa mengubah arsip lama. Ia tidak mau perusahaan hanya mengatakan dokumen itu tidak ada. Jika Mila pernah mengajukan keluhan, harus ada catatan penerimaan atau penolakan.
Papanya Deni menemukan tiket pengaduan dari dua tahun lalu. Mila menulis bahwa saat memindai map Arman, ia melihat daftar pembayaran untuk keluarga pegawai proyek yang mengalami kecelakaan kerja. Ia mempertanyakan mengapa namanya tidak ada meski kontraknya diputus setelah proyek berhenti.
Tiket itu sempat diteruskan dari vendor ke bagian keuangan perusahaan. Seorang staf menjawab berdasarkan daftar penerima tanpa menjelaskan dasar program. Mila membalas dua kali dan meminta pertemuan, tetapi tiket ditutup karena ia bukan pegawai langsung.
'Secara administrasi mungkin sesuai,' ujar papanya Deni, 'tapi cara kita menjawab buruk. Kita membiarkan orang merasa tidak didengar.'
Deni mengangguk. Ia teringat pertengkarannya dengan Gea. Tidak didengar tidak membenarkan tindakan buruk, tetapi penolakan tanpa penjelasan sering membuat masalah tumbuh dalam diam.
'Perusahaan harus membuka ulang jalur keluhan vendor,' katanya. 'Bukan untuk memberi Mila uang yang bukan haknya. Supaya orang lain mendapat alasan yang jelas dan kesempatan mengajukan bukti.'
Papanya setuju dan meminta perbaikan dilakukan terpisah dari penyelidikan pidana. Mereka tidak boleh menawarkan uang baru agar ancaman berhenti.
'Tapi kecelakaan Arman bukan kecelakaan kerja,' kata Deni. 'Dia sedang menjemput Kelana.'
'Dana ini bukan santunan kematian Arman,' jawab papanya. 'Ini dana penutupan proyek untuk pegawai kontrak yang kehilangan pekerjaan. Vendor pemindai tidak termasuk karena mereka masuk setelah proyek ditutup.'
Gea membaca tiket tersebut. Jawaban perusahaan saat itu hanya satu kalimat bahwa Mila bukan penerima. Tidak ada penjelasan mengenai perbedaan status pekerja.
'Jawabannya benar, tapi terlalu singkat,' kata Gea. 'Dia mungkin pikir ada uang yang sengaja ditahan.'
'Itu tetap nggak membenarkan ancaman atau pencurian identitas,' ujar Deni.
'Tentu enggak. Tapi motifnya mulai terlihat.'
Bagian keuangan memeriksa pembayaran. Semua pegawai proyek yang memenuhi syarat tercatat menerima dana. Tidak ada uang atas nama Mila atau Laras. Laporan itu bisa diaudit tanpa membuka data pribadi penerima kepada publik.
Pemeriksa independen diminta mencocokkan jumlah dana keluar dengan daftar penerima dan rekening perusahaan. Hasil awal tidak menunjukkan rekening kedua. Namun, ada satu catatan rancangan program yang dibuat Arman sebelum kecelakaan. Ia mengusulkan bantuan tambahan untuk keluarga pekerja kontrak bila proyek berhenti mendadak.
Semua halaman rancangan diberi nomor dan disimpan agar tidak ada bagian yang dipilih sendiri untuk membentuk cerita baru. Kedua keluarga boleh melihat hasil audit setelah data pegawai disamarkan.
Usulan itu belum disetujui dan tidak pernah memiliki dana. Di bagian atasnya tertulis rancangan, tetapi jika halaman tersebut dilihat terpisah, seseorang bisa mengira ada program yang sudah berjalan.
'Mungkin itu yang Mila lihat saat memindai,' kata Gea. 'Dia baca daftar rencana sebagai daftar pembayaran.'
'Kita tetap perlu dengar dari dia,' jawab petugas.
Polisi menduga Mila mencari map Laras karena perempuan itu menjadi staf administrasi yang menandatangani daftar pembayaran. Surat wali Arman mungkin ditemukan secara tidak sengaja lalu dipakai untuk menekan keluarga dan perusahaan agar menanggapi.
'Kenapa bawa Kelana dan ibunya?' tanya Deni. 'Dia bisa ajukan keluhan lagi.'
'Mungkin karena keluhan pertama diabaikan. Mungkin juga ada alasan lain,' jawab petugas. 'Kita belum memiliki keterangannya langsung.'
Hari itu Kelana menjalani pertemuan kedua dengan keluarga Arman. Atas pilihannya, pertemuan kembali dilakukan di rumah orang tua Deni. Mereka membaca buku cerita dan membuat kue sederhana. Kelana belum memakai panggilan Nenek, tetapi sudah berani meminta bantuan mengambil tepung.
Kerabat perempuan tidak menyinggung hal itu. Ia mengikuti arahan anak dan pulang setelah satu jam. Sebelum pergi, Kelana memberikan gambar kecil tentang Arman di langit.
'Ini boleh dibawa,' katanya.
'Terima kasih. Nanti kami simpan baik-baik.'
Deni melihat hubungan itu bertumbuh tanpa mengurangi cara Kelana berlari memeluknya setelah pintu tertutup. Rasa takutnya belum hilang, tetapi tidak lagi mengendalikan keputusan.
Kabar dari rumah sakit juga cukup baik. Ibu Kelana mampu menulis satu kata di bawah gambar boneka: pulang. Dokter menjelaskan kata itu belum berarti pasien siap kembali ke rumah. Pulang bisa menunjuk Arman, Kelana, atau keinginannya meninggalkan ruang terapi.
'Kita jangan bilang ke Kelana dulu,' kata Gea. 'Dia bisa mengira ibunya pulang besok.'
Deni setuju. Ia meminta dokter mengeksplorasi makna kata tersebut dalam sesi berikutnya tanpa memberi jawaban yang diharapkan keluarga.
Di kampus, Gea menyelesaikan ujian terakhir. Nilainya belum keluar, tetapi ia merasa mampu mengerjakan tanpa bantuan Deni. Putri dan Fian mengajaknya makan bersama malam nanti. Gea menghubungi Deni dan menjelaskan rencana, bukan meminta izin seperti anak kecil.
'Pulang jam berapa?' tanya Deni.
'Mungkin jam sembilan. Rangga sama Serli juga ikut.'
'Kabari kalau pindah tempat. Aku jemput kalau kamu mau.'
'Aku mau dijemput. Tapi jangan masuk terus bikin mereka kaku.'
Deni tertawa. 'Iya, bocah.'
'Jangan mulai.'
Malam itu Gea menikmati makan bersama teman-temannya. Daffa datang belakangan setelah diundang Serli, tetapi menjaga sikap dan tidak minum. Mereka belum kembali sedekat dahulu, namun suasana tidak lagi dipenuhi kemarahan.
Putri bertanya bagaimana rasanya status pernikahan tidak lagi rahasia. Gea mengaku lebih lega, walaupun beberapa tatapan di kampus masih membuatnya tidak nyaman.
'Setidaknya sekarang gue nggak perlu bohong kalau dijemput,' katanya.
'Terus kami boleh ledek Pak Deni di depan lo?' tanya Fian.
'Boleh, asal jangan keterlaluan.'
Rangga mengangkat gelas minuman. 'Untuk Gea yang akhirnya berhenti pura-pura patah hati karena dosennya nikah.'
Semua orang tertawa, termasuk Gea. Daffa hanya tersenyum dan tidak memakai suasana itu untuk meminta kedekatan kembali. Serli juga menikmati makan tanpa sibuk mengawasi apakah Daffa memesan alkohol.
Ketika waktu menunjukkan hampir pukul sembilan, Gea mengirim kabar kepada Deni sebelum pria itu bertanya. Jawaban Deni hanya mengatakan mobil sudah menunggu di tempat yang disepakati.
Deni menunggu di parkiran tepat waktu. Gea masuk ke mobil dengan wajah ceria dan menceritakan ledekan Putri sepanjang perjalanan. Deni mendengarkan tanpa memeriksa siapa saja yang duduk di sebelahnya atau meminta melihat ponsel.
Sesampainya di rumah, telepon ruang kerja berbunyi. Nomor tidak dikenal meminta bicara langsung dengan Deni. Gea berdiri di sampingnya ketika sambungan dibuka melalui pengeras suara.
'Saya bukan mau mengambil Kelana,' suara perempuan terdengar serak. 'Saya juga nggak peduli siapa yang jadi wali.'
'Anda Mila?' tanya Deni.
Perempuan itu tidak menjawab pertanyaan tersebut. Ia hanya mengatakan laporan dana Arman yang ditemukan perusahaan bukan laporan lengkap.
'Ada rekening kedua,' lanjutnya. 'Nama penerimanya dihapus setelah Arman meninggal. Kalau kalian mau ancaman berhenti, buka laporan itu di depan kedua keluarga.'
Sambungan terputus sebelum petugas bisa melacak lebih jauh.