Deni tidak langsung meletakkan gagang setelah sambungan terputus. Sistem telepon rumah merekam waktu, durasi, dan suara penelepon karena sebelumnya sudah dipasang atas saran petugas. Ia menyimpan berkas tersebut lalu menghubungi nomor pendamping penyelidikan.
'Jangan telepon balik,' kata petugas. 'Kirim rekamannya dan catat kalimat tepat yang dia gunakan.'
Gea menuliskan ucapan perempuan itu selagi ingatannya masih jelas. Tidak ada permintaan uang untuk dirinya sendiri. Penelepon hanya meminta laporan dibuka di depan kedua keluarga dan berjanji ancaman berhenti jika hal itu dilakukan.
'Itu tetap bentuk tekanan,' ujar Deni. 'Dia masuk rumah sakit, pakai identitas orang, dan bawa Kelana.'
'Iya. Keluhannya boleh diperiksa, caranya tetap salah,' jawab Gea.
Petugas datang malam itu untuk mengambil salinan rekaman. Nomor yang terlihat berasal dari layanan telepon internet dan sudah tidak aktif. Penelusuran membutuhkan permintaan resmi kepada penyedia. Rekaman suara akan dibandingkan dengan video pelatihan vendor yang mungkin masih menyimpan suara Mila.
Petugas memutar rekaman sekali lagi menggunakan pengeras suara kecil. Perempuan itu berusaha membuat suaranya lebih berat, tetapi pada beberapa kata terdengar intonasi aslinya. Ada suara kendaraan dan pengumuman samar di belakang.
'Kemungkinan dia menelepon dari tempat umum,' ujar petugas. 'Kami akan cocokkan bunyi pengumumannya dengan terminal atau pusat perbelanjaan. Jangan unggah rekaman ini karena suaranya bisa berubah jadi bahan tebakan publik.'
Gea menyetujui. Ia sudah melihat bagaimana potongan foto dan dokumen menimbulkan cerita yang salah. Rekaman hanya disimpan oleh keluarga serta penyidik.
Deni juga menyerahkan riwayat telepon rumah. Ada dua panggilan kosong pada sore hari, masing-masing hanya beberapa detik. Petugas menduga penelepon sedang memastikan nomor aktif dan siapa yang biasanya mengangkat.
'Mulai sekarang pengasuh jangan jawab nomor tidak dikenal,' kata Deni.
'Kita kasih tahu alasannya tanpa bikin dia takut,' tambah Gea. 'Dan jangan larang Kelana pegang telepon biasa tanpa penjelasan.'
Mereka sepakat mengalihkan panggilan asing ke pesan otomatis untuk sementara.
'Kalau memang Mila, apa kami boleh bertemu?' tanya Deni.
'Bukan sekarang. Kami harus memastikan keselamatan dan hak semua pihak. Jangan membuat janji akan membuka data pegawai kepada publik.'
Deni mengangguk. Ia lalu menelepon papanya serta keluarga Arman. Pertemuan audit disepakati berlangsung dua hari lagi dengan pemeriksa independen. Data penerima dana akan disamarkan, kecuali orang tersebut memberi izin atau memang berkaitan langsung dengan keluarga.
Keluarga Arman bertanya apakah kalimat rekening kedua berarti ada warisan Arman yang tidak pernah mereka ketahui. Papanya Deni tidak menyangkal atau membenarkan. Ia hanya mengatakan audit sedang mencocokkan semua transaksi perusahaan dan dokumen pribadi yang tercampur.
Kerabat laki-laki meminta izin membawa akuntan sendiri. Papanya Deni setuju selama akuntan menandatangani aturan kerahasiaan data pasien dan pekerja. Keputusan itu membuat pemeriksaan tidak hanya bergantung pada orang yang dipilih perusahaan.
'Kami nggak mau nanti hasilnya dianggap milik satu pihak,' kata papanya Deni. 'Setiap pertanyaan boleh diajukan lewat auditor.'
Mamanya Deni juga bersedia membuka catatan biaya perawatan yang pernah dikelolanya. Ia hanya meminta nama rumah sakit, diagnosis, dan rincian terapi kakaknya tetap ditutup dari laporan umum.
'Kami cukup melihat jumlah serta tujuan kategori,' jawab keluarga Arman. 'Kami nggak perlu tahu isi sesi pengobatan.'
Gea melihat kedua keluarga mulai mampu membedakan keterbukaan dari rasa ingin tahu. Itu jauh berbeda dari masa ketika mereka sama-sama menjauh setelah Arman meninggal.
'Kita jangan berdebat lewat telepon,' kata Gea. 'Besok semua pertanyaan dicatat supaya dijawab pemeriksa, bukan keluarga yang sedang cemas.'
Kerabat perempuan menyetujui. Dia juga mengirim tangkapan layar pesan anonim terakhir yang mereka terima. Pesan itu menyebut dana Arman dipakai membayar rumah sakit tanpa persetujuan keluarga ayah.
Deni hampir mengatakan keluarga mereka memang berhak memakai dana untuk perawatan kakaknya. Gea menyentuh tangannya dan pria itu berhenti.
'Kita belum tahu dana yang dimaksud sama atau enggak,' kata Gea. 'Tunggu audit.'
Setelah urusan selesai, mereka memeriksa Kelana. Anak itu tidur sambil memeluk boneka dan tidak mendengar telepon. Deni menutup pintu perlahan kemudian duduk di ruang tengah bersama Gea.
'Kamu capek karena aku ajak masuk ke masalah keluarga terus,' ucapnya.
'Aku istri kamu. Ini juga keluarga aku sekarang. Tapi aku memang capek.'
'Besok kamu istirahat. Aku urus audit.'
'Besok aku mau lihat hasil ujian dan ada kelas. Jangan atur jadwal aku karena kamu merasa bersalah.'
Deni tersenyum tipis. 'Baik. Kamu tentukan sendiri.'
Gea menyandarkan kepala di bahunya. Mereka tidak membicarakan rekening lagi malam itu. Deni mematikan ponsel kerja selama setengah jam dan menemani istrinya minum susu hangat. Ketenangan kecil itu tidak menyelesaikan masalah, tetapi membuat mereka tidak kehilangan rumah di tengah penyelidikan.
Keesokan pagi, pemeriksa independen menemukan satu nomor rekening pada rancangan Arman yang tidak tercantum dalam laporan dana penutupan proyek. Nomor itu bukan milik perusahaan. Rekening tersebut merupakan rekening titipan pribadi yang dibuka Arman bersama istrinya untuk biaya darurat keluarga.
Nama penerima pada salinan telah ditutup dengan kotak hitam karena dokumennya pernah ikut dalam laporan proyek. Hal itulah yang mungkin dianggap Mila sebagai nama yang dihapus.
'Siapa yang mengelola setelah Arman meninggal?' tanya Deni.
Pemeriksa belum menjawab sebelum mendapat izin membuka data. Ia hanya mengatakan rekening sudah ditutup sesuai prosedur dan seluruh uang dipindahkan melalui transaksi yang tercatat.
Pada siang hari, dokter rumah sakit menghubungi mereka. Kata pulang yang ditulis ibu Kelana sudah dibahas dalam terapi. Perempuan itu menunjuk taman di luar bangsal, bukan rumah keluarga. Ia ingin keluar kamar dan duduk di tempat yang biasa dipakai kunjungan.
'Jadi bukan minta pulang dari rumah sakit?' tanya Deni.
'Belum. Jangan memberi makna lebih jauh. Tapi dia mampu menyampaikan keinginan yang spesifik.'
Tim akan mengajaknya ke taman dengan pengawasan. Belum ada pertemuan dengan Kelana. Deni menerima meski sempat kecewa pada harapannya sendiri.
'Aku tadi sudah membayangkan dia pulang ke rumah Mama,' aku Deni setelah telepon berakhir.
'Wajar kamu berharap. Tapi dia berhasil bilang ingin keluar ke taman. Itu tetap langkah besar.'
Deni mengangguk. Ia menulis perkembangan tersebut di buku catatan keluarga agar tidak hanya mengingat hasil yang besar. Dua puluh menit di taman, satu kata yang jelas, dan kemampuan meminta berhenti adalah kemajuan yang nyata.
Mereka tidak langsung memberitahu Kelana tentang kata pulang. Gea hanya mengatakan ibunya sedang berlatih duduk di luar kamar. Kelana senang dan menggambar taman dengan dua bangku.
'Yang satu buat Ibu. Yang satu buat Kelana nanti,' katanya.
'Kita simpan sampai dokter bilang waktunya tepat,' jawab Gea.
Sore hari, hasil penelusuran rekening diberikan kepada pemilik data. Rekening itu memang dipakai untuk biaya perawatan ibu Kelana serta kebutuhan anaknya setelah kecelakaan. Pengelola sementara yang ditunjuk bank adalah mamanya Deni, bukan Deni sendiri.
Tidak ada uang masuk dari perusahaan. Tidak ada penerima yang dihapus. Ada nama pasien yang disamarkan untuk melindungi catatan kesehatannya.
Namun, satu penarikan tunai dalam jumlah besar dilakukan sehari sebelum rekening ditutup dan belum memiliki kuitansi dalam berkas keluarga.