Mamanya Deni menatap catatan penarikan itu dengan bingung. Ia mengingat pembayaran rumah sakit, pengasuh Kelana, dan biaya pemakaman Arman, tetapi tidak mengingat mengambil uang tunai sebesar itu sehari sebelum rekening ditutup.
'Mama selalu transfer kalau bayar rumah sakit,' katanya. 'Kalau tunai paling buat kebutuhan Kelana, nggak sebanyak ini.'
Pemeriksa tidak langsung menyimpulkan uang hilang. Rekening tersebut memakai dua tanda tangan saat Arman masih hidup. Setelah kematiannya, bank membatasi transaksi sampai dokumen pengelola sementara selesai. Penarikan bisa terjadi sebelum pembatasan tercatat.
'Tanggalnya tiga hari setelah kecelakaan,' kata keluarga Arman. 'Arman sudah meninggal.'
'Karena itu kami minta salinan formulir penarikan dari bank,' jawab pemeriksa. 'Bisa jadi tanggal pembukuan berbeda dari tanggal permintaan.'
Deni bertanya apakah tanda tangan mamanya dipakai. Pemeriksa belum memiliki formulir fisik. Ia meminta keluarga tidak saling menuduh sampai bank mengirim dokumen.
Pertemuan audit dilakukan di ruang kantor yang netral. Data pegawai lain sudah disamarkan. Laporan menunjukkan dana proyek perusahaan dan rekening keluarga Arman tidak pernah bercampur. Kesalahan terjadi karena satu halaman rekening pribadi ikut dipindai dalam map kerja.
Auditor menunjukkan daftar urutan halaman. Rekening pribadi berada di antara laporan biaya perjalanan Arman dan rancangan bantuan kontrak. Mila yang bertugas menyiapkan map kemungkinan melihat tiga dokumen itu sebagai satu rangkaian, padahal sumber serta statusnya berbeda.
'Kenapa halaman pribadi bisa ada di sana?' tanya Deni.
Laras menjelaskan melalui keterangan tertulis bahwa Arman sering menyimpan tanda terima rumah sakit dalam tas kerja supaya tidak hilang. Setelah kecelakaan, isi tas dipindahkan terburu-buru ke lemari proyek. Tidak ada daftar pemisah yang dibuat.
Papanya Deni mengakui perusahaan seharusnya menyaring dokumen sebelum vendor memindai. Ia meminta salinan pribadi yang masih berada di server kerja dipisahkan, dikunci, dan diserahkan kepada keluarga sesuai prosedur, bukan dihapus diam-diam.
'Kesalahan penyimpanan ini milik perusahaan,' katanya. 'Kesalahan penafsiran belum tentu milik Mila seorang. Tapi pemalsuan tetap perkara lain.'
'Jadi dugaan rekening kedua itu memang ada, tapi bukan rekening perusahaan,' ujar Gea.
'Benar,' jawab auditor. 'Dan penyebutan nama dihapus kemungkinan berasal dari penyamaran data pasien, bukan penghilangan penerima.'
Keluarga Arman menerima penjelasan, meski mereka mengaku kecewa tidak pernah diberi tahu ada dana darurat. Mamanya Deni mengatakan saat itu semua orang sedang berduka dan hubungan kedua keluarga memburuk. Ia tidak sengaja mengambil hak mereka, tetapi memang gagal memberi kabar.
'Saya seharusnya mengajak kalian melihat laporan sejak awal,' katanya. 'Bukan karena uangnya milik kalian, tapi karena ini menyangkut Arman dan Kelana.'
Kerabat perempuan mengangguk. 'Kami juga pergi. Kami nggak bisa menuntut diberi kabar kalau nomor telepon saja jarang kami jawab.'
Tidak ada yang merasa benar sepenuhnya. Gea melihat audit itu membuka kesalahan komunikasi yang lebih lama daripada ancaman Mila.
Bank mengirim formulir pada sore hari. Penarikan ternyata diajukan Arman satu hari sebelum kecelakaan, bukan sesudah meninggal. Transaksi baru dibukukan tiga hari kemudian karena jumlahnya memerlukan pemeriksaan. Tanda tangan pada formulir cocok dengan Arman.
Di kolom tujuan tertulis pembayaran awal tempat tinggal sementara dan pendampingan keluarga. Nama penerimanya adalah lembaga tempat Ratri bekerja.
Ratri dihubungi melalui petugas. Ia memeriksa arsip keuangan dan menemukan pembayaran tersebut tidak pernah dicairkan lembaganya. Arman sempat membayar uang muka untuk paket pendampingan selama enam bulan, tetapi transaksi dikembalikan setelah kecelakaan karena layanan belum dimulai.
'Pengembaliannya ke mana?' tanya Deni.
'Ke rekening asal melalui bank. Kalau rekeningnya sudah ditutup, biasanya dana masuk ke rekening penampungan sampai pengelola memberikan instruksi.'
Pemeriksa menemukan transaksi pengembalian dalam catatan bank. Uang itu kemudian dipindahkan ke rekening pengelola mamanya Deni dan dipakai bertahap untuk perawatan. Semua jumlah cocok. Kuitansi yang dianggap hilang sebenarnya berupa pengembalian, bukan pengeluaran.
Akuntan dari keluarga Arman mencocokkan sendiri nomor referensi bank. Ia meminta satu hari untuk memeriksa ulang sebelum menandatangani kesimpulan. Tidak ada yang mendesaknya menerima hasil saat itu juga.
'Kami ingin yakin, bukan karena nggak percaya kalian,' katanya.
'Memeriksa itu memang tugasnya,' jawab Deni. 'Kami juga ingin laporan yang bisa diuji.'
Gea memperhatikan suaminya tidak lagi menganggap pertanyaan sebagai serangan. Sikap itu membuat pertemuan tetap tenang walaupun persoalannya menyangkut uang dan masa lalu.
'Berarti nggak ada uang yang lenyap,' kata Gea.
'Sejauh dokumen yang diperiksa, tidak ada,' jawab auditor. 'Kami tetap akan menyelesaikan laporan tertulis.'
Deni merasa lega, tetapi juga kesal. Mila telah memakai potongan data untuk menuduh tanpa melihat transaksi lengkap. Gea mengingatkan bahwa Mila mungkin memang hanya melihat halaman rancangan dan penarikan tanpa akses pada pengembalian.
'Kalau dia mau bertanya, jalurnya ada,' kata Deni.
'Jalurnya dulu menutup tiketnya tanpa penjelasan. Kita sudah mengakui itu. Sekarang dia tetap harus bertanggung jawab atas ancaman.'
Papanya Deni memutuskan hasil audit akan diberikan kepada kedua keluarga dan penyidik. Ringkasan umum mengenai dana vendor juga akan dibuat tanpa nama pasien atau Kelana. Perusahaan tidak akan mempublikasikan rekening keluarga hanya untuk membuktikan diri kepada akun anonim.
Di luar ruang audit, Deni bertanya apakah Gea menyesal ikut campur. Gea menggeleng. Ia justru senang kedua keluarga mampu duduk bersama tanpa menjadikan uang sebagai alasan bertengkar.
'Tapi setelah ini aku mau pulang dan belajar lihat nilai ujian,' katanya.
'Aku antar.'
Nilai Gea sudah muncul ketika mereka tiba di rumah. Hasilnya baik, tetapi bukan tertinggi. Gea tersenyum lega karena semua pekerjaan dinilai tanpa Deni di ruang kelas.
Dia membuka rincian rubrik dan menemukan satu bagian analisisnya mendapat nilai lebih rendah. Deni sempat melihat layar, tetapi tidak memberi komentar sebelum Gea meminta.
'Menurut kamu bagian ini kurang di mana?' tanya Gea.
'Aku bisa baca sebagai teman diskusi setelah nilai final dan kunci penilaiannya terbuka. Tapi sekarang lebih baik kamu tanya dosen yang memeriksa.'
Gea setuju. Besok ia akan meminta umpan balik melalui jam konsultasi yang tersedia untuk semua mahasiswa. Deni tidak memakai pengalamannya sebagai mantan pengajar untuk mengubah hasil.
Kelana kemudian membuat kartu kecil bertuliskan selamat untuk Gea. Hurufnya belum rapi, tetapi perempuan itu menyimpannya di samping foto komidi putar.
'Aku boleh bangga?' tanya Deni.
'Boleh. Jangan bilang karena kamu mantan dosennya.'
'Karena istri aku pintar.'
Gea memukul bahunya pelan. Mereka lalu menunjukkan nilai itu kepada Kelana yang tidak mengerti angka, tetapi ikut bertepuk tangan karena melihat Mamanya senang.
Malamnya polisi memberi kabar hasil perbandingan suara. Kemiripan dengan rekaman orientasi vendor cukup kuat, tetapi belum menjadi bukti tunggal. Mereka juga menemukan alamat kerja terbaru Mila dari data pajak vendor.
Petugas mendatangi alamat tersebut dan menemukan Mila sudah tidak masuk selama tiga hari.