Aland yang sudah mengerti maksud lirikan mata Heyla merubah posisi duduknya dan ekspresi wajahnya.
"Gue udah buat jadwal, jadi karena rata-rata mata pelajaran yang susah itu matematika, kimia, dan fisika jadi jadwal kita kumpul itu minimal 3 kali seminggu yah" terang Malia selaku penanggung jawab kelompok
"Terus gimana dengan pelajaran lain?" Tanya Aland keheranan
"Kita bakalan ganti sesekali dengan Biologi atau bahasa Inggris, kalo bahasa Indonesia menurut gue belajar masing-masing bisa lah yah dirumah"
"Oh yaudah" Ucap Saskia yang juga kelompok mereka
"Oh iya, gue mau nambahin" Ucap Rial tiba-tiba
"Apa?" Tanya Malia
"Gue dimasukkan ke kelompok ini biar Lo dan Elo ngajarin kita bertiga kan?" Ucap Rial sambil menunjuk Malia dan Aland bergantian
"Jadi, gue kasih tahu diawal jangan paksa gue buat belajar dan naikin nilai, terus Bu Yuni bilang minimal 2 kali seminggu kan? Jadi gue bakalan hadir dua kali dalam seminggu. Lo gak usah takut mengenai tanggung jawab sebagai ketua kelompok. Karena gue mengetuai diri gue sendiri" ucap Rial
"Gak bisa gitu dong, kalo..."
"Malia" ucap Heyla agar Malia tidak berdebat, ia sangat mengenal Rial, salah satu teman tongkrongan saat kelas satu SMA. Laki-laki itu memang bandel dan malas belajar. Tapi saat ia sadar mengenai nilai nya yang hampir tinggal kelas dia dengan mudahnya menaikkan nilainya dengan sedikit belajar. Tipikal orang jenius yang tak sadar akan kejeniusan nya.
"Daripada debat lebih baik kita mulai belajar karena pasti nanti masih-masing kita mau ada kegaitan lain" ucap Heyla
Akhirnya Malia mengalah dan membuka buku matematika nya. Dia memulai menjelaskan materi yang berada dikelas. Dengan sebuah buku besar ditengah ia menjelaskan panjang lebar. Dan diperhatikan oleh mereka semua, kecuali Aland tentunya.
"Gimana? ngerti?" Ucap Malia
"Gue kurang paham sih Mal" ucap Saskia
"Em..... Gimana kalo kita bahas soal aja. Sekaligus diajari " ucap Aland
"Yap! Gue juga setuju karena langsung praktek itu lebih bagus" ucap Heyla lagi
Malia menyetui ide Aland dan memberi instruksi untuk mengerjakan soal yang berada dibuku paket mereka. masing-masing mereka mencoba mengerjakan 5 buah soal sendiri terlebih dahulu..
Aland sibuk menatap soalnya sambil berfikir tanpa menulis dan mencoret buku untuk menjawab soal, sedangkan Malia sedang asik menghitung di buku. Saskia melirik cara Malia sedangkan Rial sedang mencoret dengan cepat, entah itu menghitung atau yang lain tak ada yang tahu. Heyla yang memang tidak ahli matematika pusing sendiri. Dia hanya berhasil menjawab dua soal yang belum tentu benar.
"Bisa?" Ucap Malia pada Rial karena ia sudah selesai
"Lagi nyoba" cueknya
Malia melirik Saskia dan akhirnya mengajarinya. Mereka membahas soal Saskia perlahan-lahan.
Aland sudah dari awal lebih dahulu siap dibanding Malia tapi laki-laki itu malah bersantai dikursi nya.
"Apaan sih soal ini" batin Heyla
Merasa bosan tidak ada kerjaan Aland melirik buku Heyla
"Apa lihat-lihat?" s***s Heyla menutup hasil jawabannya.
Aland menarik buku Heyla sampai buku itu berada ditangan nya. Heyla hanya membiarkan Aland memeriksa dua buah soal yang ia kerjakan dengan susah payahnya.
"Salah, dan satu lagi salah ditengah jalan" ucap Aland
"Salah dimana?" Ucap Heyla sambil menarik bukunya
Aland mengambil pulpennya, dan membuat buku Heyla berada ditengah mereka berdua.
"Jadi gini, cara mudahnya Lo tinggal ......"
Aland mulai menjelaskan dengan perlahan-lahan, Heyla memperhatikan buku nya dan sesekali melihat ke Aland untuk mendengarkan laki-laki yang menjadi tutornya sekarang.
"Gila, baru sekarang gue sadar Aland itu ganteng banget" batin Heyla yang melihat Aland dengan dekat
"Gimana? Ngerti?" Tanya Aland
"Hah? Belum... ulang-ulang" ucap Heyla berusaha fokus kembali
"Lo merhatiin gak sih?" Tanya Aland
"Gue merhatiin kok, kapasitas otak gue aja memang gini kalo matematika"
"Nilai Lo yang lain ancur juga tuh"
Heyla tidak bisa menjawab Aland, siapa biang dia bodoh,Bahasa Inggris nya bagus, apalagi skor TOEFL nya. Semua mata pelajaran dia pahami tapi dia sembunyikan. Kecuali matematika dkk, yaitu fisika dan kimia. Tapi fisika Heyla sebenarnya lumayan bagus karena fisika itu rumusnya jelas, tidak seperti matematika.
"Kalo gak mau ngajarin, jangan nge ledek Lo" kesal Heyla menarik kembali bukunya
Heyla menopang kepalanya dengan tangan kiri sehingga wajahnya menghadap kekanan untuk mengabaikan Aland yang berada dikiriya. Tangan kanannya asik menggoyangkan pulpen sambil berfikir.
"Sini gue ajarin" bujuk Aland karena terlanjur kesal
"Bodo" ucap Heyla
Saskia dan Malia sesekali melirik dan memperhatikan drama Aland dan Heyla, Rial hanya tertawa melihat tingkah Heyla. Mereka dua termasuk akrab karena Heyla sangat pengertian pada teman-teman nya.
Aland kehabisan akal, akhirnya dia mendorong tangan Heyla yang menopang kepalanya. Kepala Heyla hampir membentur ke meja tapi Aland langsung menangkap kepala Heyla dengan tangannya
Plakkkk
"Lo Gilak yah?!" Kesal Heyla dengan suara yang lumayan keras
"Suara nya!" Teriak penjaga perpustakaan
Heyla malu karena pengunjung perpustakaan memperhatikan kearahnya.
"Sumpah Land ko ngeselin anjimmm" batin Heyla yang kembali dengan posisi duduk anak baik-baik
"Sini gue ajarin" ucap Aland lagi, tidak kunjung mendapat respon dari Heyla yang kesal Aland menarik buku Heyla perlahan agar berada ditengah mereka berdua, otomatis Heyla mengikut saja kemana bukunya itu pergi.
"Oke perhatiin baik-baik, kalo kecepatan bilang terus kalo belum paham bilang" ucap Aland sebelum mulai menjelaskan. Heyla hanya menganggukkan kepalanya.
Aland kembali mengajarkan Heyla cara menjawab soal miliknya, setelah Heyla Merasa paham ia diberi soal buatan Aland untuk dikerjakan sendiri.
"Wah... Lo pande juga yah jelasin. Seharusnya ketua kelompok kita itu lo Land" ucap Malia
"Gue gak sabaran ngajarin orang jadi gak cocok" ucap Aland
"Buktinya Heyla aja bisa Lo ajarin"
"Setelah dia marah" ucap Aland lagi sambil tersenyum merasa lucu. Malia jarang melihat senyum Aland itu, bahkan Saskia juga beruntung bisa melihat nya. Heyla tidak sadar kalo Malia dan Saskia sedang merasa cemburu dan tak adil sekarang, Heyla hanya asik menjawab soal yang diberikan Aland.
"Siap, coba periksa" antusias Heyla yang merasa jawabannya sudah pasti benar
Aland mengambil buku Heyla dan memeriksanya, soal yang ia berikan tidak jauh berbeda cara pengerjaan nya dengan soal yang ia jelaskan tadi.
"Bagus kok" ucap Aland
"Yeesss" ucap Heyla pelan, tentu saja ia senang, jarang dia paham matematika
"Lo gimana?" Tanya Aland pada Rial
"Udah selesai" ucap Rial
"Sini gue periksa"
"Gue aja" potong Malia, ia mengambil buku Rial dan memeriksanya.
"Dua soal bagus kok, kita bahas 3 soal lagi bareng yah" ucap Malia
Mereka membahas tiga buah soal rial bersama yang dijelaskan oleh Malia dan Aland bergantian. Aland berstatus sebagai wakil kelompok mereka untuk pemateri kedua.
"Udah jam segini, gue harus pergi" ucap Rial
"Yaudah gue rasa hari ini segini aja deh" ucap Malia
Mereka semua setuju dan segera membereskan barang-barang mereka. Heyla memasukkan buku yang ia bawa kedalam Tote bag nya.
"Gue duluan yah" ucap Saskia yang lebih dahulu pergi meninggalkan meja dan keluar dari perpustakaan
"Gue cabut, ada yang mau nebeng? Gak ada yaudah" cuek Rial bahkan tanpa ada jeda untuk menunggu jawaban dari yang lain, ia pergi menyusul Saskia yang sudah diluar
"Yok" ucap Aland sendiri tanpa jelas mengatakan kepada siapa
"Rumah Lo kearah mana Land?" Tanya Malia
"Ke jalan khatib"
"Gue boleh nebeng gak?, Soalnya gue gak bawa kendaraan" ucap Malia
"Tap-"
"Halo Bang? Oh iya ini Ela lagi di......" Heyla mengeluarkan ponselnya dan ber akting seolah mendapat telfon dari salah satu abangnya, entah itu Leri atau Atrus. Ia tahu Aland hendak mengatakan ia pulang bersama dirinya jadi ia harus memotong perkataannya itu dengan aktifngnya yang seolah akan dijemput sang Abang.
"Gimana Land?" Tanya Malia lagi
"Gue-"
"Eh diluan yah, Abang gue Dateng" ucap Heyla untuk memperjelas kode pada Aland agar tidak menyebutkan namanya. Ia juga langsung berlari. Meninggalkan Malia dan Aland
"Yaudah" ucap Aland
Malia tersenyum dan mereka berjalan keluar perpustakaan bersama, mereka menuju parkiran tempat Aland memarkirkan motornya.
Aland memeriksa sekitar apakah Heyla belum pulang, tapi ia tidak menemukan gadis itu.
Heyla berada di samping gedung, ia langsung bersembunyi saat keluar tadi. Bahkan dirinya sempat bertemu dengan Rial dan Siska yang pulang bareng.
"Gue naik yah" ucap Malia sebelum naik ke boncengan
Setelah Malia berhasil naik mereka berdua pergi melesat ke jalanan.
"Akhirnya pergi juga mereka" ucap Heyla sambil keluar dari persembunyiannya
"Gue naik apa yah? Taksi online atau bus" batin Heyla kebingungan, ia memperhatikan sekitar sambil berfikir mengendarai jasa apa
"s**l gue lupa kartu bus, di saku seragam sekolah"
"Dah lah, taksi aja" ucap Heyla menyerah, ia berjalan ke veteran jalan dan mencari taksi lewat. Sebuah taksi biru pun berhenti didepannya dan ia masuk duduk dibangku belakang.
Dilain tempat Malia sedang berada dibonceng an Aland. Sejak awal perjalanan tadi dia terus mengajak Aland berbicara, dan kebanyakan dia mendominasi cerita mengenai dirinya.
"Land Lo belajar matematika dimana? Kok Lo ahli banget sih?"
"Gue belajar privat"
"Serius? Gue juga guru privat Matematika loh untuk anak SMP, gue punya banyak murid tapi karena kita kelas tiga orang tua gue nyuruh berhenti dulu, soalnya takut buat gue kecapean"
"Oooh...." Ucap akan berusaha akrab
Akhirnya setelah waktu yang lama Malia menunjuk kearah rumahnya, dan sialnya ia mengarahkan Aland agar berhenti tepat di depan gerbang rumahnya. Disana sedang ada ayah Malia yang sedang duduk diters rumah.
"Gue cabut"
"Ehh... Gak mau masuk dulu?" cegah Malia
"Gue ada urusan lain"
"Oh, yaudah deh... Bye Land" senyum sumringah Malia
Aland pun pergi mencari jalan menuju apartemennya yang tidak terlalu jauh. Setelah beberapa kali melewati persimpangan akhirnya Aland sampai dijalan yang sudah mendekati apartemennya, beberapa meter didepan ia melihat Sebuah siluet gadis yang ia kenal, pakaian yang ia kenakan juga sama.
"Waahh.... Cuman diantar sampe sini mbak?" Ucap Aland berhenti dipinggir jalan tempat Heyla berada.
Heyla yang melihat Aland berada didepannya merasa seolah tertangkap basah melakukan perbuatan dosa besar. Padahal ia hanya bohong kecil-kecil an.
"Iya Abang gue ada kerjaan lain jadi nurunin gue disini"
"Emang Lo punya Abang? Bukannya Lo pindah dari.... kampung?" Ucap Aland ragu takut Heyla tersinggung
"Iya gue pindahan dan tinggal sama bibi gue yang kebetulan beranak dua berjenis kelamin laki-laki"
"Ooh... "
"Yaudah pulang sono"
"Yaudah, eh gue mau nongkrong nanti malam, gue pengen mie khas Lo itu ucap Aland
"Khas gue?"
"Yang kena mata gue"
"Hahhaha.... Tuh kan ketagihan Lo. Okeh kalo gue sempat nanti gue kesana"
Aland kembali melanjutkan perjalanan begitu juga dengan Heyla.
.
.
.
~Jangan lupa beri komentar dan follow Author nya yah ❤️~