Marshal terus berjalan, menyusuri lorong gelap dengan pikiran yang tidak karuan. Pikiran berkecamuk tanpa ada kedamaian. Sekeras apa pun ia mencoba mengingat apa yang di katakan Mbok Ra, ingatan itu tidak bisa menembus perang di batinnya.
Langkahnya terhenti pada sebuah pohon besar dari sekian pohon yang ada di tempat yang lebih mirip dengan sebuah taman itu. Ya, taman kegelapan milik si makhluk kejam tersebut.
Marshal mengistirahatkan sebentar tubuhnya di bawah pohon itu, melepas segala beban di pikiran dan hatinya. Jika beberapa hari yang lalu, ia adalah Marshal yang hanya tahu cara bermain dan bermain, maka hari ini dia menjelma menjadi sosok penolong yang penuh tanggung jawab, bukan hanya untuk orang lain, tapi untuk dirinya sendiri.
Bukan hanya jiwanya yang butuh kekuatan, batin