Sebisa mungkin Aiden memeluk Rinai, menenangkan gadis itu dan tidak akan membiarkan sedetik pun Rinai panik attack. Sebenarnya, Rinai bukan saat hampir dilecehkan saja trauma, ia pernah sekali dikurung papanya seharian hanya karena meminta uang.
Kadang, kenangan super menyakitkan seperti itu memang sering mampir tanpa aba-aba dan membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa lantaran hatinya terlalu sakit untuk bergerak sedikit saja.
Menunggu beberapa saat, barulah lift bergerak normal, lampu pun menyala. Cepat-cepat Aiden mengambil langkah untuk keluar. “Kamu pasti sangat takut sekali ya? Sampai-sampai kamu pucat banget. Kita ke apotik ya, kita beli obat untuk membuat kamu tidak selemas ini. Atau kamu mendingan kembali ke kamar aja dan tunggu Rose sampai datang..”
“Tapi..”
“Tenang, aku