" ibuu , aku pulang " Barsha melihat ibunya sedang sibuk menyiapkan makan malam di dapur
" ibu yakin pasti anak ibu yang cantik ini sukses dengan interviewnya ,jadi kapan mulai bekerja nak ? " monica menghampiri Barsha yang sedang duduk di meja makan
" besuk pagi aku mulai bekerja bu dan sekarang aku harus mandi karena sudah sangat gerah " kemudian barsha berdiri berlalu meninggalkan meja makan
" ibu tunggu untuk makan nak "
" siiiyaapp " Sahut barsha sebelum masuk ke kemar untuk mandi .
Selesai membersihkan diri dan makan malam bersama ibu nya ,
Barsha kembali kekamarnya untuk menyiapkan keperluannya bekerja besuk pagi .Setelah smuanya siap , Barsha bersiap untuk tidur agar besuk bisa bangun pagi dan tidak terlambat untuk hari pertama dia bekerja .
" lilin , aku tidak boleh lupa " Barsha lompat dari tempat tidurnya dan pergi kedapur mengambil lilin dan korek api.
Dia meletakkan 2 benda itu ke dalam tasnya dan balik kembali ke tempat tidur .
*******
Tepat jam 6 pagi Barsha bangun dan beranjak dari tempat tidur . 30 menit kemudian dia sudah berada di meja makan untuk sarapan bersama ibunya.
" ibu , aku selesai dan terimakasih untuk sarapan lezatnya " Barsha mengecup kening ibunya dan kemudian berlalu dari meja makan .
" hati hati di jalan nak "
Barsha membalas perkataan ibunya dengan lambai an tangan seraya berjalan menuju taxi yang akan membawanya ke kantor.
' ine hari ini aku mulai bekerja di lantai 60 , aku akan menceritakan smuanya saat kita makan siang nanti , see u later my sweet sun '
ada 6 panggilan tak terjawab dan 10 pesan dari ine yang dari kemarin belum di balas oleh Barsha. Kebiasaan Barsha adalah menyalakan mode silent di ponselnya sehingga dia tidak menyadari bahwa irene dari kemarin siang mencarinya. Untung saja ine bisa menghubungi ibu Barsha untuk menanyakan keberadaan anak semata watang beliau .
' dasar kau kebiasaan , pasang mode aktif di nada dering ponsel mu biar aku bisa menjangkau mu melalui ponsel itu supaya aku tidak kerepotan menemukan mu. aku marah padamu , lunchku adalah kamu yang bayar ' Barsha tersenyum mendapat balasan dari Ine , tapi ya mau bagaimana lagi memang kali ini benar Barsha yang salah .
*******
Sesaat Barsha sampai di lobi gedung perusahaan ,dia mendapati Dover dan Daren keluar dari mobil dan berjalan menuju lift khusus lantai 60 .
" naik " Barsha mendengar suara perintah bos di saat melewati nya . Daren membungkuk untuk menyapa Barsha dan di balas sama oleh nya.
Tidak ada suara apapun selama mereka ber tiga berada didalam lift. Baru setelah pintu lift terbuka Dover membuka suara .
" Barsha ikut keruanganku " ucapnya
" baik " sahut Barsha kemudian mengekor i Dover .
Sejenak Barsha melihat ke arah koridor yang telah terang benderang , dia tersenyum seumringah dan berfikir tidak harus repot repot bawa lilin lagi .
" Barsha buatkan aku kopi , satu sendok gula dan satu sendok creamer, airnya harus panas sekali " Dover memerintahkan Barsha setelah sampai kedalam ruangannya , dia menunjuk ke mini bar yang terdapat mesin pembuat kopi.
" ok " Barsha berjalan ke arah tempat yang di tunjuk oleh Dover . Membuat kopi saja adalah hal yang paling di sukai Barsha , karena dia juga pecinta kopi dan waktu dulu alat pembuat kopinya pun lebih canggih dari pada yang ada di mini bar ini.
" Mr Dover , jenis kopi ini tidak akan terasa enak jika diseduh dengan hanya air panas saja , saya harus menambahkan sedikit air dingin setelah bubuk kopinya saya tuang i air mendidih " Dover yang tadinya sedang mengecek pekerjannnya , menoleh ke Barsha , berdiri dari tempat dudukny dan berjalan menghampiri Barsha
" betulkah itu ? " Dover memperhatikan Barsha yang sedang menyiapkan air untuk di rebus .
" iya dan aku tidak suka dengan mesin anda ini , aku lebih suka menyeduhnya saja " setiap gerakan Barsha tidak luput dari tatapan mata Dover .
" apakah anda punya kursi atau tangga , saya tidak cukup tinggi untuk menjangkau cangkir itu " Barsha menghadap ke Dover dan bertanya padanya. Tidak ada jawaban dari bosnya itu , karena beberapa detik kemudian bosnya lah yang meraih cangkir tersebut .
Tidak ada waktu untuk Barsha sedikit menggeser tubuhnya kekanan atau ke kiri , yang bisa dia lakukan adalah menahan nafas ketika tubuhnya terhimpit oleh tubuh Dover dan meja dapur .
" kau mau berapa cangkir Barsha ? " suara Dover membuat Barsha menegadahkan wajahnya , yang tanpa di duga ternyata Dover sedang menunduk melihatnya , tatapan mereka beradu
" saya ingin 2 cangkir " jawab Barsha menjawab pertanyaan Dover tanpa mengalihkan pendangannya matanya ,begitu pula Dover .
Tangan Dover meraih dua cangkir dengan gerakan yang sangat pelan ,
Dia menikmati pemandangan yang dilihatnya sekarang . Menaruh 2 cangkir di meja dapur tanpa suara dibelakang tubuh Barsha .
" Barsha apakah kamu benar benar tidak meningatku ? " Dover menyelipkan anak an rambut Barsha yang sedikit berantakan ke atas telinganya.
" Maksud Mr Dover apa ? " Barsha menjawab dengan wajah bingung.
"kita pernah bertemu di london dan kau menyelamatkanku dari kecelakaan maut itu "
" ooohhh " Barsha menutup mulutnya menggunakan kedua tanganya , dan mata bulat nya semakin lebar karena kaget dengan apa yang didengarnya .
" Anda ... Anda...apakah sekarang baik baik saja ? apakah anda menderita saat itu ? anda ...." Barsha melihat dan meraba serampangan tubuh Dover untuk memastikan orang dihadapannya sudah baik atau belum. Dover menangkap tangan Barsha yang baginya sangat menggelitik . Tidak ada siapapun orang yang se berani itu meraba atau mengecek tubuh nya tanpa se izinnya
" Barsha jangan sembarangan meraba tubuh seorang pria ,itu membahayakan " Seketika wajah Barsha memerah mendengar ucapan Dover
tiiiiiiiitttttttttttt
suara air diteko mendidih membuyarkan suasana canggung mereka berdua
" bukan itu maksud saya , maaf saya harus mematikan teko itu . Airnya sudah mendidih " Barsha menarik tangannya dari genggaman erat Dover , kemudian bergeser kekanan mengangkat teko yang airnya sudah tidak bergelombang karena mendidih kemudian mengambil cangkir di hadapan Dover.
Dover hanya memperhatikan setiap gerakan hati hati yang di lakukan Barsha . Menuangkan bubuk kopi ke dalam cangkir , menuangkan air mendidih , mengadukkan nya , menuangkan creamer dan gula kemudian mengaduknya kembali. Menambahkan sedikit air dingin kemudian Barsha menyodorkan kopi dihadapannya.
" Aku ingin kamu mencobanya dulu " Dover tidak menerima kopi itu
" hem ? Baiknya " Barsha mengerutkan keningnya mendengar pekataan Dover , kemudian dia meminum sedikit kopi itu
" takarannya pas aku akan membuatkan satu lagi untuk mu " barsha meletakkan secangkir kopi yang sudah dia minum di atas meja
" aku ingin mencicipi nya " Dover berkata dan menarik Barsha ke dalam pelukannya kemudian dengan gerakan yang sangat cepat , bibir nya menyentuh dan menyesap bibir Barsha sejenak ,beberapa detik saja .
" hmmmm ,benar katamu , takarannya pas , terimakasih Barsha " Dover membawa kopi yang berada di atas meja dapur menuju meja kerjanya .
Barsha yang terkejut dengan apa yang bosnya lakukan hanya bisa bengong beberapa saat
' apa , apa yang barusan terjadi ?'
gumamnya dalam hati . Dia menengok ke arah bosnya yang seolah barusan tidak terjadi apapun . Dengan cepat Barsha meninggalkan ruangan bosnya tanpa mengatakan apapun .
' Mr Dover kenapa anda melakukan itu ? '