Aku mendongakkan wajah ke atas menikmati bagaimana jalannya gumpalan daging itu perlahan masuk ke dalam tubuhku. Beberapa cairan darah merah telah mengalir mengotori sekitar bibir dan daguku lalu turun menuju leherku. Aku seolah merasa segar, meresapi rasa asing yang baru saja kurasakan itu.
Kedua mataku menatap ke atas dengan tatapan yang menerawang layaknya seorang yang tengah candu akan sesuatu. Aku merasa telah menjadi seseorang yang asing setelah menelan gumpalan daging itu. Perasaan yang sama ketika aku melakukan sesuatu yang brutal tiap kali bertarung dengan salah satu monster di antara mereka.
Meski begitu setitik air mata juga ikut turun dari pelupuk mataku tanpa bisa kucegah lagi. Batinku menjerit keras karena menolak apa yang tengah kulakukan itu. Sayang sekali tubuhku berge