Hari-hari setelah malam itu terasa bagai mimpi buruk bagiku. Tiap malam aku akan berteriak kencang karena mimpi buruk yang kualami. Mimpi yang seolah memaksaku mengulang kembali kejadian itu. Kejadian di mana aku dengan nikmat menelan segumpal daging manusia dengan lelehan saus berwarna merah dan berbau begitu amis bercampur aroma besi berkarat, yang bernama darah.
Aku tidak bisa lagi menikmati tidurku seperti biasa. Mimpi itu membuatku ngeri ketakutan dan memaksaku untuk membuka mata lebar-lebar. Kucuran keringat selalu membasahi tubuhku setelah aku dipaksa bermimpi buruk dan bangun dari tidur. Setelahnya, rasa mual biasanya langsung melanda tubuhku. Bergejolak dari perutku dan naik ke atas hingga membuatku langsung berlari tergesa-gesa menuju kamar mandi dan memuntahkan segala isi maka