Panggung kedua dibuka pada malam hari — dan itu sendiri adalah penyimpangan, karena Rendra selalu bekerja di jam-jam yang bisa dibaca, dan malam adalah jam yang paling sulit dibaca.
Panggilan masuk pukul sembilan malam dari rumah sakit di tengah kota — rumah sakit tempat jari kelingking Arenta dirawat bertahun-tahun lalu, tempat Nita bekerja sekarang. Petugas kebersihan basement menemukan sebuah tas ransel di gudang arsip bawah tanah, di antara rak-rak rekam medis tua, dengan satu kabel yang menjuntai keluar dari resletingnya. Gudang arsip itu berada tepat di bawah sayap rawat inap.
Di bawah ratusan pasien yang tidak bisa dievakuasi.
"Sialan," kata Bara, singkat, di mobil komando yang meluncur melalui malam. "Dia memilih satu-satunya gedung di kota ini yang tidak bisa dikosongkan."
"Itu bukan pemilihan," kata Arenta, yang sudah mengenakan suit sejak mobil masih berjalan, dengan Rendi memeriksa setiap strap-nya seperti yang sudah menjadi ritual mereka berdua. "Itu pernyataan. Dia sedang memberi tahu kita bahwa aturan main sudah berubah. Panggung pertama adalah ujian — sopan, rapi, tidak ada penonton dalam bahaya. Panggung kedua ini adalah tekanan. Dia mengambil orang-orang yang paling tidak bisa bergerak di kota ini dan meletakkannya di atas device-nya — supaya kita bekerja dengan tangan yang dipaksa terburu-buru. Jangan berikan dia itu. Kita tetap lambat. Kita tetap membaca. Dia boleh memilih panggungnya; kecepatan tetap milik kita."
Basement rumah sakit itu sudah dikosongkan dari staf ketika mereka tiba — koridor-koridor rendah dengan lampu neon yang separuh berkedip, dengan bau kertas tua dan kapur, dengan rak-rak arsip yang berdiri seperti lorong-lorong di hutan. Robot tidak bisa masuk penuh: lorong-lorong rak itu terlalu sempit, lantainya dipenuhi kardus-kardus rekam medis yang menunggu digitalisasi selama sepuluh tahun. X-ray portabel ditembakkan dari ambang dengan hasil yang buruk — terlalu banyak logam rak, terlalu banyak bayangan.
Dan disruptor tidak bisa dipakai — satu tembakan di ruang bawah tanah penuh kertas, di bawah sayap rawat inap, adalah berita kebakaran di atas berita bom.
"Maka manual," kata Arenta, dan tidak ada satu pun di mobil komando yang membantahnya, karena hierarki sudah dijalani dan habis, dan di ujung hierarki selalu ada tangan. "Rendi ikut sebagai mata kedua — lorong-lorong itu butuh dua pasang mata, dan aku butuh seseorang yang sudah belajar membaca di gudang yang berbau timah tua."
"Siap, Bu," kata Rendi, dan suaranya hanya bergetar sekali, di awal, dan kemudian berdiri.
Mereka turun berdua — dua sosok dalam koridor-koridor neon yang berkedip, dengan radio terbuka, dengan langkah yang diletakkan satu per satu seperti kata-kata dalam kalimat yang hati-hati. Dan di lorong rak ketiga, di antara arsip-arsip tahun-tahun yang tidak dikunjungi siapa pun, tas ransel itu menunggu — terbuka setengah, dengan papan sirkuit yang terlihat di dalamnya.
Dan Arenta membacanya, dan alisnya turun.
Device itu tidak rapi.
Bukan kasar — tangan Rendra tidak akan pernah bisa kasar. Tetapi tidak rapi — dengan cara yang oleh Arenta langsung dikenali seperti orang mengenali tulisan tangan yang berubah: solderan yang dikerjakan dua kali di satu titik, satu jalur yang dibelokkan dengan kurang anggun, satu komponen yang nilainya benar tetapi mereknya berbeda dari kebiasaannya. Tanda-tanda dari tangan yang bekerja lebih cepat dari keinginannya. Tangan yang ditekan waktu.
"Dia terburu-buru saat membangun ini," katanya ke radio. "Dan device-nya mencerminkan itu: lebih sedikit lapisan, lebih sedikit tikungan, lebih banyak langsung. Ini bukan ujian seperti Gerbang. Ini jebakan murni — dibangun untuk satu tujuan: memaksa kita salah di bawah tekanan." Ia berlutut, pelan, dengan lutut empat puluhan dan suit tiga puluh kilogram, dan mulai membaca lebih dekat. "Timer berjalan. Dua puluh menit. Rendi — mulai catat, dan jangan tatap angkanya. Angkanya bukan urusan kita. Rangkaiannya urusan kita."
Device itu, dibaca dua pasang mata di bawah neon yang berkedip, ternyata adalah sebuah kebohongan yang sederhana — dan kesederhanaannya itulah kejahatannya. Timer yang terlihat adalah timer palsu: angka yang berjalan untuk penonton. Pemicu sesungguhnya bukan waktu, melainkan getaran — sebuah sakelar pendulum kecil yang disembunyikan di dasar tas, yang akan menutup sirkuitnya jika tas itu digeser, diangkat, atau ditembak dengan apa pun. Device yang menunggu untuk dipindahkan. Di basement yang tidak bisa ditembak, di bawah ratusan pasien.
"Kalau kita tidak menyentuhnya, dia tidak meledak — sampai timer palsunya habis, dan kemudian entah apa yang terjadi, karena aku tidak bisa membaca apa yang ada di balik timer palsu tanpa membuka panelnya, dan membuka panel berarti mengangkat tutupnya, dan mengangkat tutup berarti—" Arenta berhenti, dan membaca lagi, dan menemukan jalan ketiga yang ditinggalkan untuknya, seperti selalu ditinggalkan, seperti ruang untuk tangan yang disisakan: "—berarti menyentuh tutupnya dari sisi yang salah. Rendi. Lihat tutup tasnya. Engselnya di kiri, kaitnya di kanan — dan kait kanannya tersambung ke pendulum. Tapi sebelah kiri, di bawah engsel, ada celah. Panelnya tidak harus dibuka dari kaitnya. Panelnya bisa dibuka dari engselnya — pelan, dari bawah, tanpa menggerakkan tas ini satu milimeter pun. Dia menyisakan jalan itu. Dia selalu menyisakan jalan. Itu kesopanannya, dan itu kelemahannya: dia tidak bisa menulis surat tanpa menyisakan ruang untuk pembacanya."
Pekerjaan itu memakan sebelas menit dari dua puluh — sebelas menit dengan dua tangan, satu tua satu muda, bekerja dari bawah engsel dengan gerakan-gerakan yang tidak lebih besar dari napas. Panel terbuka. Jalur pemicu pendulum ditemukan, diisolasi, dimatikan pertama — selalu pemicunya dulu, bukan sumber dayanya, karena sumber daya tanpa perintah adalah lumpuh, tetapi perintah tanpa sumber daya masih bisa menemukan sumber lain. Baru kemudian baterainya dilepas. Timer palsu itu berhenti di angka empat menit, dan tidak ada satu pun di basement itu yang memedulikannya, karena device itu sudah mati sejak tiga menit sebelumnya.
Di bawah papan, seperti biasa: kartu laminasi. Tetapi kali ini tulisannya lebih pendek, dan tintanya lebih tergesa, dan itu adalah pertama kalinya Arenta membaca sesuatu di tulisan tangan itu yang tidak pernah ada sebelumnya — kemarahan:
Kau terlalu lambat membaca perubahan. Sebelas menit untuk jebakan anak kelas dua. Akademi akan menjadi ujian akhirmu, dan tidak ada jalan ketiga di sana. Datang sendiri — sungguhan kali ini.
Dan Arenta berdiri di lorong arsip itu dengan kartu di tangannya, dan tersenyum — senyum yang dingin dan bersih yang tidak pernah dilihat Rendi sebelumnya di wajah instrukturnya — dan berkata ke radio:
"Pak. Kabar baik. Dia baru saja menggertak — dan gertakannya jelek. Orang yang punya rencana bagus tidak pernah memberi tahu rencananya dua kali. Dia memberi tahu akademi dua kali karena dia butuh kami datang ke sana — dan orang yang butuh adalah orang yang kehabisan. Rekeningnya sekarat, waktunya menipis, dan surat-suratnya makin pendek. Buku itu sudah masuk bab-bab terakhirnya. Kita tinggal membaca lebih cepat dari dia menulis — dan malam ini, di bawah ratusan pasien yang tidak pernah tahu apa-apa, kita baru saja membuktikan bahwa kita bisa."