Mereka mengangkat tas ransel itu dari basement dengan cara yang paling membosankan dalam seluruh pekerjaan — pelan, dua orang, satu per satu, melewati lorong-lorong neon seperti mengangkat peti mati — dan menurunkannya di kendaraan penampung di luar, di bawah langit malam yang basah, dengan seluruh blok sudah dikosongkan dan tidak ada satu pun dari ratusan pasien di atasnya yang terbangun.
Di mobil komando, dengan device mati di tangan forensik dan kopi panas di tangan semua orang, satgas itu membaca malam itu seperti membaca bab dalam buku — dan bab ini, semua sepakat, adalah bab yang paling aneh sejauh ini.
"Karena tidak ada tikungan," kata Surya. "Lima device pertama penuh tikungan. Gerbang terbalik. Fotolistrik. Anti-SOP. Yang ini? Timer palsu dan satu pendulum di kait tas. Ini jebakan yang bisa dibaca anak tahun kedua — dan dia sendiri yang menulisnya di kartunya, dengan marah: jebakan anak kelas dua. Kenapa seorang jenius menurunkan kualitas soalnya di panggung keduanya sendiri?"
"Karena panggung kedua ini bukan soal," kata Arenta. Ia sedang memandang kartu laminasi itu di bawah lampu mobil komando, dan di kepalanya potongan-potongan itu sedang jatuh ke tempatnya, satu per satu, seperti klik-klik kecil dari rangkaian yang menutup dengan benar. "Panggung pertama adalah ujian — dia ingin tahu apakah aku masih membaca. Panggung kedua ini adalah alat ukur yang berbeda: dia ingin tahu seberapa cepat. Sebelas menit, Surya. Dia menulisnya sendiri di kartunya — sebelas menit. Dia tahu persis berapa lama kami bekerja, artinya dia menonton, artinya panggung ini dibuat untuk mengukur waktu kami di bawah tekanan nyata dengan penonton nyata di atas kepala kami." Ia meletakkan kartu itu. "Dia sedang mengkalibrasi. Untuk akademi. Untuk ujian akhir yang sudah dijanjikannya dua kali. Dia membutuhkan dua angka: apakah aku masih bisa membaca — ya, sembilan per sepuluh — dan berapa cepat kami bekerja di bawah tekanan — sebelas menit untuk jebakan sederhana. Dengan dua angka itu, dia akan membangun soal terakhirnya: soal yang waktu penyelesaiannya dipotong tepat di bawah kemampuan kami."
Ruangan itu diam. Di luar, malam berjalan dengan lampu-lampu kota yang berkedip, dan basement rumah sakit itu kembali menjadi gudang kertas yang sunyi, dengan ratusan pasien di atasnya yang tidur tanpa tahu bahwa malam itu hidup mereka dipegang sebelas menit oleh dua pasang tangan.
Dan Surya menambahkan satu potongan terakhir dari labnya malam itu juga: komponen device basement itu cocok dengan batch pembelian terakhir dari rekening yang sekarat — dan merek-mereknya berbeda dari kebiasaan, dibeli dari toko-toko yang berbeda pula, dengan tergesa. Dia tidak lagi menimbun, kata kepala forensik itu. Dia sudah masuk ke tabungan terakhirnya, dan berbelanja seperti orang yang tahu toko-toko akan segera tutup. Semua angka di papan itu menunjuk ke satu arah yang sama: percepatan.
"Jadi undangan itu jebakan," kata Rendi, pelan. "Datang sendiri — sungguhan kali ini. Kalau Ibu datang sendiri ke akademi, Ibu berjalan ke soal yang dibangun persis untuk mengalahkan Ibu — dengan waktu yang dipotong dari hasil pengukuran malam ini."
"Kalau aku datang sendiri, ya," kata Arenta. "Tapi dia menulis undangan itu dengan satu kesalahan — kesalahan yang sama yang dibuatnya sejak ruang latih lima belas tahun lalu. Dia mengira aku akan datang sendiri karena aku selalu datang. Dia membaca kebiasaanku dan menulisnya sebagai takdir." Ia memandang sekeliling mobil komando itu — Surya, Bara, Rendi, dan di radio, keheningan Hutahaean yang mendengarkan dari markas. "Tapi kebiasaan bukan takdir, Rend. Kebiasaan hanyalah halaman yang sudah dibaca — dan pembaca yang baik tidak pernah membiarkan halaman yang sudah dibaca menentukan halaman berikutnya. Aku tidak akan datang sendiri ke akademi. Aku akan datang dengan kalian semua — dengan satuan ini, dengan rencana, dengan setiap mata yang sudah belajar membaca di gudang yang berbau timah tua. Dan itu adalah satu halaman yang tidak ada di bukunya, karena bukunya ditutup dua belas tahun yang lalu, di sidang etik, ketika dia memutuskan bahwa korps ini adalah musuhnya. Dia tidak tahu korps yang sekarang. Korps yang sekarang adalah halaman yang belum pernah dibacanya."
Suara Hutahaean masuk dari radio, datar dan puas seperti orang yang sudah mendengar semua yang perlu didengarnya: "Kalau begitu rapat besok pagi pukul delapan. Kita mulai menulis jawaban untuk undangan terakhir itu — dan kita menulisnya dengan huruf kita sendiri, bukan hurufnya. Bawa semua yang kita punya: garis waktu empat warna, serpihan di bahunya, kurir, rekening yang sekarat, dan satu operator yang tidak akan datang sendiri. Akademi itu panggungnya — tapi lakonnya, mulai besok, lakon kita."
Malam itu, di buku kerjanya, Arenta menulis: panggung kedua selesai. timer palsu, pendulum di kait, sebelas menit di bawah ratusan pasien yang tidur tanpa tahu. dia mengkalibrasi untuk ujian akhir — dan dia membuat kesalahan keduanya: menunjukkan bahwa dia sedang mengkalibrasi. dan di bawahnya, dengan huruf yang lebih besar dari biasanya, ditulis seperti janji: AKU TIDAK AKAN DATANG SENDIRI. itu bukan keberanian — keberanian sudah lama bukan pertanyaan. itu pembacaan: surat itu dua arah, dan surat yang dua arah tidak boleh dijawab oleh satu tangan. Dimas turun sendiri ke gang itu empat belas bulan lalu karena aku membiarkannya. Itu tidak akan terjadi lagi. Tidak di akademi. Tidak di mana pun. Tidak pernah lagi.