Rapat itu berlangsung empat jam — rapat terpanjang dalam sejarah satgas kecil itu — dan di atas mejanya, di antara peta akademi dan foto-foto udara, berdiri satu pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan spidol: bagaimana cara datang ke panggung yang dibangun untuk mengalahkanmu, tanpa menjadi bagian dari pertunjukannya.
Hutahaean membuka dengan fakta-fakta yang dingin. Akademi itu sendiri: kampus setengah kosong di selatan kota, dipakai sebagian untuk gudang dan sesekali pelatihan, dengan aula latih lama yang berdiri di sayap timur — bangunan yang dua belas tahun lalu menjadi tempat sidang etik, dan lima belas tahun lalu menjadi ruang kelas dua orang taruna yang tangannya sama-sama cepat. Tiga akses masuk. Terowongan utilitas tua di bawahnya, sebagian besar runtuh, peta yang tidak lengkap. Dan satu kepastian: di suatu waktu dalam empat sampai enam bulan ke depan — jam dari rekening yang sekarat — surat undangan terakhir itu akan menjadi kenyataan di salah satu gedungnya.
"Kita tidak tahu harinya," kata Hutahaean. "Tapi kita tahu tempatnya, dan kita tahu syaratnya: dia ingin satu orang datang sendiri. Pertanyaan pertama rapat ini adalah yang paling tidak nyaman: apakah kita memberinya satu orang itu?"
"Dia tidak akan muncul untuk siapa pun kecuali Arenta," kata Bara. "Itu sudah jelas dari sembilan surat. Tanpa dia di panggung itu, tidak ada pertunjukan — dan Rendra butuh pertunjukannya. Umpan yang benar adalah umpan yang benar-benar dia inginkan."
"Umpan," ulang Arenta, dari ujung meja, dengan nada datar. "Mari kita sebut dengan namanya, supaya tidak ada yang lupa apa yang sedang kita bicarakan: aku berdiri di dalam panggungnya, terlihat, sendirian — dan kalian semua berdiri di luar panggungnya, tidak terlihat, banyak. Dia mendapat penonton yang dia undang; kita mendapat seluruh sisa teater. Itu strukturnya. Pertanyaannya bukan apakah aku masuk. Pertanyaannya adalah apa yang ikut masuk bersamaku tanpa terlihat oleh pembaca paling teliti di dunia."
Dan rapat itu pun membongkar pertanyaan itu selama berjam-jam, dengan kesabaran orang-orang yang pekerjaannya membongkar hal-hal rumit.
Kabel komunikasi: dibuang sejak awal. Kabel apa pun di tubuh Arenta akan dibaca — Rendra akan memeriksa tamunya, dan Rendra tahu semua tempat kabel disembunyikan, karena dia yang dulu mengajari tempat-tempat itu. Solusinya datang dari Rendi, dengan suara yang ragu-ragu sampai Arenta menyuruhnya mengatakannya dengan keras: "Isyarat tangan, Bu. Seperti di basement — tapi lebih jauh. Dia tidak bisa membaca isyarat yang tidak ada di buku mana pun, karena isyarat itu baru — dibuat setelah bukunya ditutup. Kita punya waktu berminggu-minggu. Kita bangun bahasa yang hanya kita berdua yang tahu."
Pelacak: juga masalah. Perangkat elektronik apa pun bisa dideteksi oleh orang yang hidupnya adalah elektronik. Solusinya kimia, bukan elektronik — Surya yang mengusulkannya, dari dunia forensiknya: penanda pasif, zat yang tidak memancarkan apa pun tetapi meninggalkan jejak yang bisa diikuti anjing pelacak atau alat sniffer, disapkan di sol sepatu, tidak terlihat, tidak berbunyi, tidak berdenyut. "Dia memeriksa elektronikmu," kata Surya. "Dia tidak akan memeriksa debu di sepatumu. Tidak ada yang pernah memeriksa debu."
Aturan main: yang paling berat, dan yang diperjuangkan Arenta sendiri di meja itu dengan kedua tangan. "Kalau dia menangkap basah perimeter kita, dia kabur — dan panggung ini berulang. Jadi perimeter tidak boleh terlihat dari titik mana pun di dalam kampus. Tidak ada seragam, tidak ada kendaraan, tidak ada orang yang berdiri. Semua tim masuk posisi tiga hari sebelum jendela perkiraan, dalam keadaan sipil, dan menghilang ke dalam gedung-gedung dan pekerjaan-pekerjaan yang sah di sekitarnya. Dan satu aturan di atas semua aturan: tidak ada yang bergerak sebelum device-nya mati. Bukan sebelum aku dalam bahaya — sebelum device-nya mati. Karena kalau kita bergerak lebih awal, kita menyelamatkan satu orang dan kehilangan kota; kalau kita bergerak tepat waktu, kita mendapatkan keduanya."
"Dan kalau device-nya dibangun supaya tidak bisa mati tepat waktu?" tanya Bara, pelan. Pertanyaan itu berdiri di meja seperti device itu sendiri. "Dia sudah mengukurmu, Bu. Sebelas menit. Kalau dia memotong waktumu di bawah itu—"
"Maka aku tidak bekerja sendiri di dalam," kata Arenta. "Dan itu adalah bagian terakhir dari rencana ini, dan aku akan memperjuangkannya sampai rapat ini selesai: aku masuk dengan Rendi. Bukan sendiri — tidak pernah lagi sendiri; aku sudah menulisnya di buku kerjaku dan buku kerjaku tidak pernah bohong. Dia akan menerima dua orang, karena device-nya yang akan datang — aku mengenalnya, kalian — device-nya yang akan datang akan menuntut dua pasang tangan. Itu keangkuhannya: dia ingin membuktikan bahwa tidak ada pasangan yang cukup baik untuk rangkaiannya. Dia membutuhkan saksi atas kemenangannya. Dan kebutuhan akan saksi adalah satu-satunya bagian dari egonya yang bekerja untuk kita."
Hutahaean memandangnya lama, lalu memandang Rendi — yang duduk tegak di kursinya dengan wajah yang berusaha terlihat seperti wajah operator dan hampir berhasil — dan kemudian menulis di papan, dengan huruf-huruf yang besar, kerangka rencana yang kemudian akan disalin ke kertas-kertas resmi dengan bahasa yang lebih dingin:
SATU ORANG TERLIHAT. SEMUA ORANG TIDAK TERLIHAT. ISYARAT BARU. DEBU DI SEPATU. TIDAK ADA YANG BERGERAK SEBELUM DEVICE MATI. DUA TANGAN DI DALAM, BUKAN SATU.
Dan di bawahnya, dengan huruf yang lebih kecil, satu baris yang tidak akan masuk ke kertas resmi mana pun: panggungnya, lakon kita.
Rapat itu selesai ketika matahari sudah turun ke gedung-gedung barat, dan orang-orang keluar dari ruangan itu dengan langkah yang berbeda dari ketika mereka masuk — langkah orang-orang yang sudah berhenti menunggu surat dan mulai menulis jawaban. Di koridor, Rendi menyusul Arenta dengan pertanyaan yang sudah disimpannya sejak tadi:
"Bu. Kalau device-nya nanti benar-benar butuh dua tangan — dan aku yang di dalam bersama Ibu — bagaimana kalau tanganku yang kurang cepat? Sebelas menit itu waktu Ibu. Waktuku mungkin lima belas."
Arenta berhenti berjalan, dan memandang anak muda itu — dua puluh empat tahun, satu render-safe di kelurahan, dua sore seminggu di gudang yang berbau timah tua — dan menjawab dengan kebenaran, karena kebenaran adalah satu-satunya bahan bangunan yang diizinkan di korps itu:
"Maka kita berlatih sampai waktumu sepuluh, Rend. Karena pekerjaan ini tidak mengenal orang yang kurang cepat. Pekerjaan ini hanya mengenal orang yang berlatih dan orang yang tidak — dan kau sudah berada di sisi yang benar dari garis itu sejak sore pertama kau berkata tidak masuk akal di gudang itu. Mulai besok, latihan kita naik ke tiga sore seminggu. Dan kita akan membangun bahasa isyarat itu dari nol, kau dan aku — dan ketika panggung itu membuka tirainya, kita akan menjadi dua tangan yang berbicara dalam bahasa yang tidak pernah dibaca bukunya."
Di luar, kota berkedip menyalakan lampu-lampunya, dan di selatan, akademi itu berdiri dalam gelap seperti gedung yang sedang berpikir — dan di suatu tempat di kota itu, jam dari rekening yang sekarat terus berjalan, menuju hari yang sudah dipilih oleh dua belah pihak, tanpa satu pun dari mereka menamai harinya.