Perpustakaan itu dipindahkan dari terowongan ke ruang analisis selama dua hari — dua peti aluminium, satu meja lipat, empat puluh tujuh lembar kertas dari dinding cabang, semuanya didokumentasikan per milimeter, difoto dalam posisi aslinya, baru kemudian diangkat, satu per satu, dengan sarung tangan dan nomor.
Dan kemudian pembacaan itu dimulai — pembacaan yang oleh Surya disebut, dengan kekaguman yang dibencinya sendiri, "membaca satu otak".
Karena itulah isi cabang terowongan itu: bukan bengkel kerja — komponen sudah dipindahkan lebih dulu, tentu saja, tangan itu tidak pernah meninggalkan komponen — melainkan bengkel pikiran. Arsip dari dua belas tahun, dibawa ke mana-mana, dipindahkan dari persembunyian ke persembunyian, dan akhirnya ditinggalkan di dinding yang lembap karena satu malam yang tidak berjalan sesuai rencana.
Empat puluh tujuh lembar itu dibagi Surya menjadi empat keluarga, dan setiap keluarga menceritakan satu bab dari dua belas tahun.
Keluarga pertama: surat-surat yang tidak pernah dikirim. Empat belas lembar, tulisan tangan yang sama, bertanggal dari sembilan tahun lalu sampai dua tahun lalu — surat-surat kepada Arenta yang ditulis di luar negeri, di kamar-kamar kontrakan, di kota-kota pelabuhan, dan tidak pernah dikirim. Beberapa pendek, beberapa panjang. Surya membacanya semuanya sebelum menyerahkannya, dengan wajah yang semakin datar setiap lembarnya — dan ketika Arenta akhirnya membacanya di ruang analisis, dengan dua belas tahun berdiri di sekelilingnya dalam empat warna, ia mengerti kenapa wajah Surya datar.
Surat-surat itu bukan surat kebencian. Surat-surat itu adalah surat dari satu-satunya orang di dunia yang dianggapnya bisa membaca — ditulis seperti orang menulis ke satu-satunya rumah yang pernah dimilikinya. Tentang pekerjaan-pekerjaan demolisi, tentang kota-kota asing, tentang rangkaian-rangkaian yang dilihatnya di industri dan dibongkarnya dalam kepala di malam hari. Dan di semuanya, seperti benang yang tidak pernah putus: nilai. Nilai untuk setiap device yang dilihatnya, nilai untuk setiap pekerjaan yang dikerjakannya, nilai untuk dunia yang menurutnya salah menilai — dan nilai untuk dirinya sendiri, yang tidak pernah, dalam empat belas surat, turun di bawah sembilan.
Keluarga kedua: pengintaian. Delapan lembar — dan lembar-lembar ini yang membuat ruangan menjadi dingin. Catatan-catatan tentang Arenta: jam-jam mengajarnya, rute pulangnya, apartemennya, tokonya, kebiasaannya. Dari tiga tahun terakhir, dari kota ini, dengan kesabaran yang tidak manusiawi. Foto-foto kecil dari kejauhan: Arenta keluar dari markas, Arenta di kedai kopi, Arenta di jendela apartemennya. Dan satu halaman khusus tentang Nita — jadwal sift-nya, nama RS-nya, satu kalimat di bawahnya yang dibaca Arenta tiga kali dengan tangan yang mengepal: adik dari korban, hubungan rusak, potensi jembatan, jangan disentuh dulu — halaman ini untuk nanti.
Keluarga ketiga: diagram. Tujuh belas lembar rangkaian — beberapa dibangun menjadi device yang sudah mereka kenal (Gerbang terbalik, anti-SOP, tas basement), beberapa belum pernah dilihat dunia: desain-desain yang menunggu gilirannya, yang akan menjadi surat-surat berikutnya, masing-masing dengan satu halaman catatan di sampingnya seperti resep dengan nasihat memasak. Dan di bagian bawah tumpukan itu, dengan kertas yang lebih tua dari yang lain, dengan lipatan yang sudah lama, dengan tanggal di sudutnya yang membuat seluruh ruangan berhenti bernapas ketika Surya membacanya keras-keras:
Tanggal itu jatuh tiga minggu sebelum Pasar Kapuk.
Dan diagram itu adalah device kembar — dua rangkaian yang dihubungkan, dua device yang harus dikerjakan dua tangan, satu di gang selebar bahu dan satu di ruang terbuka tiga meter darinya. Device dari malam itu. Device yang membunuh Dimas. Digambar, direncanakan, dan — di catatan pinggirnya, dengan tulisan yang lebih kecil — diuji di atas kertas selama berbulan-bulan sebelum dibangun.
"Ini dia," kata Surya, dan suaranya akhirnya retak di ujungnya, setelah dua hari tanpa tidur. "Ini bukti Kapuk. Bukan jam tangan, bukan kebiasaan — desain aslinya, dengan tanggalnya, dengan tangannya. Dengan ini dan serpihan di bahunya, ruang sidang bisa berdiri."
Dan keluarga keempat — delapan lembar terakhir — adalah keluarga yang dibaca Arenta sendirian, di sudut ruang analisis, setelah semua orang pergi: surat-surat yang tidak pernah selesai. Delapan lembar yang dimulai dan ditinggalkan di tengah kalimat, beberapa dengan coretan, satu dengan bekas air yang bukan air hujan. Surat-surat yang ditulis orang yang sedang berkelahi dengan dirinya sendiri dan kalah — surat-surat di mana, untuk satu-dua kalimat sebelum dicoret habis-habisan, orang itu menulis bukan kepada penantangnya, melainkan kepada temannya. Aku tidak tahu lagi kapan surat-surat ini berhenti menjadi bukti dan mulai menjadi rumahku, tulisnya di satu lembar, sebelum kalimat itu dicoret sampai kertasnya hampir robek.
Arenta membaca delapan lembar itu sampai selesai, dan melipatnya kembali dengan tangan yang pelan, dan duduk lama di ruang analisis yang sunyi, di tengah perpustakaan satu orang yang sudah dua belas tahun menulis untuk dibaca olehnya.
Dan ketika ia akhirnya berdiri dan mematikan lampu ruangan itu, yang dibawanya pulang bukan kebencian yang lebih besar — melainkan pemahaman yang lebih berbahaya: orang yang sedang mereka buru bukan monster. Monster mudah. Orang yang sedang mereka buru adalah seorang pembaca yang kehilangan pembacanya — dan mengganti seluruh dunia dengan satu pembaca, dan menulis kepadanya surat demi surat selama dua belas tahun, karena itu satu-satunya surat yang masih tahu cara ditulisnya.
Dan surat terakhir, pikir Arenta di mobil yang gelap, di jalan pulang yang berkedip lampu, surat terakhir dari orang seperti itu tidak akan ditulis untuk menang. Orang seperti itu sudah lama tidak menulis untuk menang. Surat terakhirnya akan ditulis untuk didengar — dan itu membuatnya lebih berbahaya dari semua device yang pernah dibangunnya, karena orang yang ingin didengar tidak akan berhenti sebelum dunia mendengarnya, dan dunia hanya punya dua cara mendengar: di ruang sidang, atau di berita duka.