Device itu ditemukan pada hari Sabtu di sebuah acara publik — pasar malam mingguan di alun-alun kecamatan, dengan panggung dangdut, dengan anak-anak yang berlari dengan gulali, dengan ribuan orang yang tidak tahu apa-apa — oleh seorang petugas kebersihan yang hanya ingin memindahkan tong sampah dan menemukan tong itu terlalu berat untuk dipindahkan.
Panggilan masuk dengan kode yang membuat seluruh mesin berputar dalam hitungan menit: device di tengah kerumunan, tidak bisa menunggu, ribuan nyawa di dalam radius.
Arenta tiba dengan tim Bara di tengah evakuasi yang berjalan dengan disiplin yang dilatih bertahun-tahun: polisi lokal membentuk cincin, pedagang ditarik keluar, panggung dangdut dimatikan di tengah lagu dengan suara gitar yang terputus seperti leher yang dipatahkan. Dan di tengah alun-alun yang mendadak kosong itu, tong sampah itu berdiri sendirian seperti satu-satunya benda di dunia.
X-ray portabel ditembakkan dari sudut menyerong, dua kali, dan gambarnya naik ke layar — dan Arenta, yang membaca dari mobil komando dengan Rendi di sisinya, memandang gambar itu dan merasakan sesuatu yang tidak pernah dirasakannya di depan device mana pun dari tangan itu: kebingungan.
Karena device di layar itu tidak rapi.
Bukan kasar seperti amatir — tangan yang membangunnya jelas tangan yang tahu. Tetapi tidak rapi: kabel-kabel yang berjalan lebih jauh dari yang dibutuhkan, sambungan yang dikerjakan dua kali di tiga titik, satu komponen yang terpasang miring seperti dipasang dengan tangan yang bergetar atau tangan yang marah. Dan yang paling aneh dari semuanya, yang paling tidak mungkin: tidak ada tanda tangan. Tidak ada dua titik di sudut papan. Tidak ada catatan laminasi. Tidak ada ruang yang disisakan untuk tangan operator — ruang itu, kesopanan itu, tidak ada di device ini.
Device ini tidak ditulis untuk dibaca. Device ini ditulis untuk meledak.
"Robot bisa masuk," kata Bara. "Terbuka, datar, tidak ada halangan. Kita kerjakan dengan hierarki penuh, tanpa manual, tanpa risiko."
"Tidak," kata Arenta, dan suaranya keluar lebih cepat dari biasanya, dan seluruh mobil komando memandangnya. "Jangan robot. Bukan karena bahaya robotnya — karena device ini mengharapkan robot. Lihat susunannya: terlalu terbuka, terlalu mudah, seperti pintu yang dibiarkan tidak terkunci di rumah yang semua pintunya selalu terkunci. Dia membangun device yang bisa dikerjakan robot — dan di sinilah tikungannya: robot akan menang dengan device ini, dan tidak akan belajar apa-apa, dan besok atau lusa device kedua datang yang tidak bisa dikerjakan robot, dan kita sudah tertidur oleh kemenangan yang murah." Ia berdiri, dan mulai mengambil suitnya. "Dan ada satu alasan lagi, Bara, dan ini lebih penting dari taktik: device ini tidak ada tanda tangannya. Aku harus membacanya dari dekat, dengan mataku sendiri — karena kalau ini benar tangannya tanpa tanda tangannya, maka buku itu sudah berubah bentuk, dan aku harus tahu menjadi bentuk apa sebelum kita semua membacanya salah."
Justifikasi diucapkan keras-keras, supaya tercatat: device di tengah kerumunan, karakter belum terbaca penuh, X-ray tidak cukup karena muatan terbungkus logam tong, disruptor berisiko memicu pemicu getar yang terlihat di gambar. Dan Arenta turun ke alun-alun yang kosong itu dengan suit tiga puluh kilogram dan Rendi sebagai matanya, melalui cincin evakuasi, menuju tong sampah yang berdiri sendirian di tengah panggung yang gelap.
Dari dekat, device itu bahkan lebih asing. Marah — itu satu-satunya kata untuknya. Device yang dibangun dengan amarah: komponen-komponen yang dilempar ke tempatnya dengan keahlian yang menolak untuk jelek dan amarah yang menolak untuk rapi. Pemicu getar di dasar tong, timer yang berjalan di panel yang sengaja dipasang menghadap ke atas seperti tantangan, dan satu hal lagi yang ditemukan Arenta ketika membaca sampai ke lapisan terdalamnya, satu hal yang membuat tangannya berhenti di udara untuk waktu yang lama:
Muatan itu dibungkus dengan paku.
Ratusan paku kecil, dipadatkan di sekeliling muatan utama, dirancang untuk terbang ke segala arah di tengah kerumunan. Tidak ada device Rendra yang pernah dibungkus apa pun — muatannya selalu murni, selalu bersih, selalu dihitung untuk merusak struktur dan bukan manusia, karena dalam bukunya yang bengkok itu, manusia adalah pembaca dan pembaca tidak boleh dilukai, hanya boleh dikalahkan.
Device ini dibuat untuk melukai orang. Sebanyak-banyaknya.
Dan Arenta menjinakkannya dengan tangan yang dingin dan hati yang lebih dingin — dua puluh dua menit, pembacaan penuh, pemicu getar diisolasi pertama, timer dimatikan kedua, sumber daya dilepas ketiga, muatan dinyatakan mati dengan tiga verifikasi — dan ketika ia berdiri dan melepas helmnya, malam itu sudah turun sepenuhnya ke alun-alun, dan panggung dangdut yang gelap itu memandangnya seperti penonton yang tidak bernapas.
"Ini bukan surat," katanya kepada Hutahaean dan Bara di mobil komando, dengan kartu kosong di tangannya — tidak ada laminasi, tidak ada nilai, tidak ada apa pun. "Dengar aku baik-baik, karena ini mengubah bukunya: surat-suratnya selalu punya aturan, dan aturan pertamanya adalah tidak melukai penonton. Device ini melanggar aturan pertamanya. Paku di muatan itu bukan untuk struktur — paku itu untuk manusia. Dia sudah melewati garisnya sendiri." Ia meletakkan kartu kosong itu di meja seperti meletakkan diagnosis. "Ada dua cara membacanya, dan dua-duanya buruk. Pertama: dia putus asa — rekening habis, wajah dikenali, perpustakaan hilang, dan orang yang putus asa berhenti menulis dan mulai melempar. Kedua, dan ini yang lebih kutakuti: device ini bukan karyanya sendiri. Dia mulai mengajar orang lain — murid, pengikut, tangan kedua. Dan kalau ada tangan kedua di luar sana yang belajar dari bukunya, maka buku ini tidak akan selesai ketika dia tertangkap. Buku ini akan terus menulis dirinya sendiri."
Dan malam itu, di buku kerjanya, Arenta menulis satu baris dengan huruf yang lebih besar dari biasanya, digarisbawahi dua kali, seperti catatan Dimas sebelas hari sebelum Kapuk: DEVICE TANPA TANDA TANGAN. PAKU DI MUATANNYA. BUKU ITU BERUBAH HARI INI — DAN KITA HARUS BERUBAH LEBIH CEPAT.