Device tanpa tanda tangan itu dibongkar Surya di lab selama empat hari — dan hasilnya membawa kabar baik dan kabar buruk dalam satu map.
Kabar baik: tidak ada tangan kedua. Analisis solderan, pilihan komponen, dan kebiasaan konstruksi semuanya cocok dengan satu tangan — tangan yang sama dengan lima device sebelumnya, tangan yang dikenal seluruh satgas seperti tulisan tangan sendiri. Device itu karya Rendra Pakpahan, tanpa keraguan teknis.
Kabar buruk: karya dari tangan yang sedang berubah. "Tiga titik solder dikerjakan dua kali," kata Surya, menunjuk foto-foto perbesaran di ruang operasi. "Komponen miring dipasang dengan tekanan berlebih — bekas jari yang menekan terlalu keras, meninggalkan lekukan di plastiknya. Dan satu kesalahan yang tidak pernah ada di device-device sebelumnya: satu jalur yang dipotong lima milimeter terlalu pendek, lalu disambung dengan jumper. Dia tidak pernah menyambung dengan jumper. Jumper adalah pengakuan salah ukur." Ia meletakkan foto-foto itu. "Dia sedang bekerja dalam kondisi yang tidak pernah dialaminya sebelumnya: tanpa bengkel, tanpa arsip, tanpa waktu yang cukup, dengan seluruh negeri menonton wajahnya. Dan tangannya mulai memperlihatkannya. Orang ini sedang didikte oleh keadaan untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun — dan dia membencinya."
Dan dari kabar buruk itu, Arenta membangun peta yang paling penting dari seluruh perburuan — peta yang digambarnya di papan ruang operasi dengan tiga lingkaran yang saling menimpa, dan yang kemudian akan dipakai untuk membaca setiap langkah berikutnya: peta kebutuhan.
"Orang yang bersembunyi punya tiga kebutuhan yang tidak bisa dihapus," katanya, mengetuk lingkaran pertama. "Komponen. Device tanpa tanda tangan itu membuktikan dia masih membangun — dan membangun berarti membeli, dan membeli berarti toko, kurir, atau mencuri. Kita sudah menutup toko-toko dengan fotonya. Kurir pertamanya sudah masuk perlindungan. Jadi dia turun ke opsi-opsi yang lebih kasar: mencuri dari gudang-gudang elektronik, membeli lewat orang-orang baru yang belum kita kenal, atau — dan ini yang paling mungkin — memanen dari sumber yang tidak dijaga: elevator rusak, panel listrik gedung kosong, barang-barang bekas. Pasang mata di tempat-tempat itu."
Lingkaran kedua: "Tempat. Dia butuh ruang untuk bekerja — meja, listrik, sunyi. Tidak bisa kontrakan dengan nama baru; wajahnya di mana-mana. Jadi: gedung-gedung kosong, gudang mati, kolong, kapal-kapal tua di pelabuhan kecil, rumah-rumah yang menunggu dirobohkan. Kita sudah membakarnya satu per satu selama berminggu-minggu — dan setiap yang kita bakar mempersempit pilihannya. Dia sekarang tinggal di tempat-tempat yang bahkan tidak layak disebut persembunyian. Dan orang yang tinggal di tempat yang tidak layak mulai membuat pilihan yang tidak layak."
Dan lingkaran ketiga — yang ditepuknya terakhir, dan yang paling lama dibicarakannya: "Ego. Ini kebutuhan yang paling besar dari ketiganya, dan satu-satunya yang tidak bisa dicuri atau disewa. Dia butuh dibaca. Dua belas tahun menulis untuk satu pembaca — dan sekarang pembacanya sibuk memburunya dengan ratusan orang, dan tidak ada surat yang bisa dikirimnya tanpa membakar dirinya sendiri. Orang dengan kebutuhan seperti itu akan melakukan satu dari dua hal: menulis lebih keras — device tanpa tanda tangan dengan paku, kemarin — atau mencari jalan untuk berbicara langsung." Ia memandang sekeliling ruangan. "Dan berbicara langsung berarti kontak. Kontak berarti jejak. Jadi kita siapkan telinga di semua tempat yang mungkin dipakainya berbicara: telepon-telepon yang pernah dihubunginya, alamat-alamat yang pernah dikiriminya surat, dan satu orang yang paling mungkin dipilihnya untuk diajak bicara."
Hutahaean mengangkat wajahnya dari papan. "Kau."
"Bukan aku," kata Arenta, dan ruangan itu berhenti. "Aku terlalu dijaga — dia tahu itu; mendekatiku sama dengan menyerah. Tidak. Kalau dia ingin berbicara dan tidak bisa kepadaku, dia akan pergi ke orang kedua yang paling dibacanya di buku ini. Orang yang halamannya sudah ditandainya sejak lama dengan tulisan halaman ini untuk nanti." Ia mengambil napas, dan mengatakannya, karena kebenaran di ruangan itu adalah prosedur: "Nita. Adik Dimas. Satu-satunya orang di buku ini yang menyakitiku tanpa harus menyentuhku — dan dia sudah membuktikan di nisan itu bahwa dia tidak keberatan menginjak rumah orang yang berduka."
Ruangan itu diam dalam cara yang berbeda dari diam-diam sebelumnya. Bara yang akhirnya bicara, pelan: "Maka kita jaga dia seperti barang bukti paling berharga di kota ini."
"Kita jaga dia," kata Hutahaean, dan menulisnya di papan sebelum rapat itu berakhir, "dan kita tidak memberitahunya bahwa kita menjaganya karena dia mungkin dihubungi — karena orang yang tahu dirinya umpan adalah orang yang berubah perilakunya, dan Rendra akan membaca perubahan itu dari satu kilometer. Nita dijaga tanpa tahu dia dijaga, dengan tim terbaik yang kita punya, siang dan malam. Dan kalau telepon itu datang — dan telepon itu akan datang, cepat atau lambat — kita sudah ada di sana sebelum dering pertama selesai."
Malam itu, Arenta pulang dengan berat baru di dadanya — berat dari keputusan yang benar yang melibatkan orang yang dicintainya tanpa seizinnya, berat yang sudah dikenalnya dari malam di Kapuk lima belas bulan lalu — dan menulis di buku kerjanya: peta kebutuhan selesai. komponen, tempat, ego. dan di lingkaran ketiga itu, tanpa bisa kuhindari, berdiri Nita. dan di bawahnya: aku sudah berjanji tidak akan pernah lagi membiarkan seseorang turun sendirian. sekarang aku harus menjaga janji itu untuk orang yang tidak tahu sedang dijaga — dan ketika semua ini selesai, aku akan menceritakan semuanya kepadanya, dan menerima amarahnya, karena amarahnya akan benar dan aku tidak akan membela diri. itu harga dari membaca, dan aku sudah lama berhenti menawar harga itu.