Dia menghilang di antara dua pintu — antara pintu lift di lantai tiga RS dan pintu ruang jaga di ujung koridor, sejauh dua puluh dua langkah, di sift malam yang sepi, di jam ketika rumah sakit paling kekurangan mata.
Tim yang menjaganya — dua orang terbaik yang dipilih Hutahaean sendiri, yang berdiri di koridor itu sejak berminggu-minggu tanpa pernah terlihat olehnya — menemukan lift itu kosong dan koridor itu kosong dan satu kain putih kecil di lantai dengan bau yang membuat kepala penjaga pertama ringan selama beberapa detik: obat bius, dari dalam rumah sakit sendiri, dipakai oleh orang yang tahu rumah sakit seperti orang yang sudah membaca denahnya seribu kali.
Tidak ada yang melihat apa-apa. Tidak ada kamera yang menangkap apa-apa — kamera koridor itu mati sebelas menit, sebelas menit yang oleh teknisi RS dicatat sebagai gangguan rutin yang sudah tiga kali dilaporkan dan tidak pernah diperbaiki. Orang itu tidak menembus penjagaan. Orang itu membaca penjagaan — jadwal sift, pola koridor, kamera yang rusak — dan berjalan masuk melalui halaman yang tidak dijaga siapa pun: halaman yang bertuliskan rumah sakit tidak pernah memperbaiki kamera yang rusak di sift malam.
Panggilan itu sampai ke Arenta pukul tiga pagi — jamnya, jam yang sudah dua puluh tahun menjadi miliknya — dan ia tiba di RS dengan dunia yang menyempit ke ukuran satu koridor, dan berdiri di atas kain putih kecil itu, dan membaca ruangan itu seperti membaca device: dua puluh dua langkah, lift, kamera mati, tidak ada keributan, tidak ada satu pasien pun yang terbangun.
Dan di meja jaga, di bawah papan jadwal yang rapi, menunggu satu amplop cokelat dengan dua titik di sudutnya.
Amplop itu dibuka dengan tangan yang tidak gemetar — tangan itu tidak boleh gemetar, tidak malam ini, tidak pernah lagi — dan di dalamnya satu lembar dengan satu kalimat, dan kalimat itu dibaca Arenta dua kali, dan kemudian diucapkannya keras-keras kepada orang-orang yang berdiri di sekelilingnya dengan wajah-wajah yang sudah kehilangan warnanya:
"Datang sendiri. Buku ini ditutup oleh dua orang, atau ditutup oleh tidak ada orang sama sekali. Malam tanggal itu, di tempat yang sama, pada jam yang sama. Dia akan ada di panggungnya — dan kau akan datang untuk membacanya, karena kau selalu datang."
Dan di bawah kalimat itu, tanpa nilai, tanpa salam: dua titik.
Malam tanggal itu adalah besok malam.
Rapat darurat itu berlangsung empat puluh menit — dan empat puluh menit itu adalah empat puluh menit yang paling berbahaya dalam seluruh kasus itu, karena empat puluh menit itu adalah waktu yang dibutuhkan satu ruangan penuh orang pintar untuk memutuskan apakah akan melakukan hal yang paling mereka takuti: membiarkan salah satu dari mereka berjalan sendiri ke dalam panggung yang dibangun untuknya.
"Kita tidak membiarkannya pergi sendiri," kata Bara, dan kalimat itu keluar seperti pukulan di meja. "Datang sendiri adalah syarat pembaca, bukan syarat kita. Kita sudah menulis aturan itu sejak akademi: tidak ada yang turun sendirian lagi. Tidak untuk buku mana pun."
"Dan kalau kita datang berdua, dia mengakhiri bukunya sekarang juga — dengan Nita di dalamnya," kata Surya, pelan, dengan kebenaran yang kejam dari orang yang pekerjaannya adalah kebenaran. "Dia memegang satu-satunya variabel yang tidak bisa kita baca: device yang dipasangnya di Nita, atau di dekatnya, atau di sekitarnya. Kita tidak tahu bentuknya. Dan sampai kita tahu bentuknya, syarat datang sendiri adalah syarat yang hidup."
Dan Arenta berdiri di tengah ruangan itu — dengan amplop di tangannya, dengan jam tiga paginya yang sudah lewat, dengan Nita yang berdiri di suatu tempat di buku orang lain — dan berbicara dengan suara yang oleh orang-orang di ruangan itu kemudian akan digambarkan dengan satu kata yang sama: selesai. Bukan tenang — selesai, seperti orang yang sudah membaca sampai ke halaman terakhir dan hanya tinggal membacanya keras-keras:
"Dengar aku, semuanya, karena aku hanya akan mengatakannya sekali. Aku akan datang sendiri — terlihat sendiri. Itu syarat panggungnya, dan syarat itu menjaga Nita tetap hidup sampai aku bisa membacanya. Tetapi tidak ada satu pun dari kalian yang tidak ikut. Pasar Dua Lapis berdiri penuh seperti yang direncanakan untuk malam tanggal itu — empat puluh orang, dua lapis, semua posisi. Rendi dengan partitur cahaya dan waktu di posisi baca. Bara dengan perimeter yang menutup di detik yang sudah disepakati — dan detik itu adalah detik ketika device-nya mati, bukan sedetik pun sebelumnya, karena Nita berdiri di antara kita dan dia, dan satu gerakan yang salah adalah satu gerakan terakhir." Ia memandang keliling ruangan itu, satu per satu. "Aku tidak turun sendirian ke gang itu. Aku sudah menulisnya, dan buku kerjaku tidak pernah bohong. Aku turun terlihat sendirian — dan itu adalah dua hal yang berbeda sejauh surat ini dari ruang sidang. Dia ingin satu pembaca di panggungnya. Dia akan mendapatkan satu pembaca. Dan dia tidak akan melihat empat puluh orang yang datang bersama pembaca itu — karena dia membaca orang, dan kita akan menjadi pasar. Itu rencananya. Dan sekarang, tolong, bantu aku menyiapkan diri untuk membaca device yang dipasangnya di adik Dimas."
Tidak ada yang bergerak selama satu detik. Dan kemudian Hutahaean — komandan itu, enam tahun, yang sudah menua dua tahun dalam sembilan bulan — mengangguk satu kali, dan menulis di papan dengan huruf-huruf yang besar:
MALAM TANGGAL ITU. DIA DATANG TERLIHAT SENDIRI. KITA DATANG SEBAGAI PASAR. DEVICE MATI DULU, BARU DUNIA BERGERAK. DAN KITA BAWA PULANG SEMUA ORANG — KETIGA-TIGANYA.
Dan malam itu, di buku kerjanya, dengan tangan yang akhirnya boleh gemetar di dalam apartemennya yang sunyi, Arenta menulis: Nita ada di dalam bukunya. dua puluh dua langkah, satu kain putih, sebelas menit kamera mati. dan di bawahnya: aku sudah berjanji kepada Dimas untuk menjaga adiknya, dan janji itu sekarang berdiri di tengah panggung dengan device di tubuhnya. besok malam aku turun untuk membacanya pulang. itu satu-satunya kalimat yang penting sekarang. itu satu-satunya kalimat yang akan kubiarkan ada di kepalaku sampai semuanya selesai: aku turun untuk membacanya pulang.