Jaket itu dibukanya dengan dua jari, senti demi senti, seperti membuka halaman yang ditulis di atas kertas yang terlalu tipis — dan di dalamnya, dipasang di tubuh Nita dengan kehati-hatian yang sakit untuk dilihat, device itu berdiri: bukan rompi kasar dari film-film, melainkan sabuk tipis dari komponen yang dirakit mengikuti lekuk tubuh, dengan muatan kecil yang diletakkan di titik yang paling jahat dari semua titik — di belakang, di antara tulang belikat, di tempat yang tidak bisa dilihat oleh orang yang memakainya dan hanya bisa dibaca oleh orang yang berlutut di depannya.
Dan papan pengendalinya — kecil, sebesar dua telapak tangan, diikat di dada — adalah papan yang oleh Arenta langsung dikenali dengan rasa yang aneh di dadanya, rasa yang sudah lama tidak datang: kekaguman teknis yang murni, yang tidak bisa ditahannya, yang tidak perlu ditahannya, karena kekaguman teknis tidak pernah mengurangi satu milimeter pun dari tekad.
Device itu jujur.
Bukan mudah — tidak pernah mudah — tetapi jujur: setiap jalur terlihat, setiap komponen berkata apa adanya, tidak ada timer palsu, tidak ada kabel kembar yang menipu, tidak ada fotolistrik yang menunggu naungan tangan. Pemicu utamanya bukan waktu, bukan getar, bukan cahaya: pemicu utamanya adalah kabel yang berjalan dari papan itu ke saku kiri Rendra — pemicu orang-mati, dipegang oleh tangan yang berdiri tiga meter darinya. Device itu akan mati jika dijinakkan dengan benar, dan akan menjawab jika orang yang memegang pemicunya menutup tangannya.
"Dia membangun device yang jujur," kata Arenta, pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun — tetapi gang itu sempit, dan suara berjalan, dan Rendra menjawab dari tiga meter:
"Selalu. Aku tidak pernah membangun device yang bohong untukmu, Arenta — bohong adalah untuk penonton, dan kau bukan penonton. Device di tubuhnya bisa dijinakkan. Seluruhnya, dengan benar, oleh tangan yang membaca. Itu bagian dari surat terakhir: aku tidak ingin kau kalah oleh jebakan. Aku ingin kau kalah — atau menang — oleh kebenaran, di depan mataku, dengan seluruh dunia berdiri tepat di luar gang ini tanpa tahu apa-apa." Ia bergerak sedikit, dan kabel di saku kirinya bergerak sedikit, dan di kursi lipat itu Nita menahan napasnya dengan disiplin seorang perawat yang sudah seribu kali menyuruh orang lain menahan napas. "Kerjakan. Dan bicaralah sambil bekerja — surat terakhir tidak boleh dibaca dalam diam. Itu satu-satunya permintaanku, dan kau berhutangku satu permintaan untuk dua belas tahun menulis."
"Apa yang ingin kau dengar?" tanya Arenta, tanpa mengangkat matanya dari papan di dada Nita — karena matanya sudah bekerja sekarang, sudah membaca jalur demi jalur, dan mulutnya boleh bicara asalkan matanya tidak ikut bicara.
"Yang sebenarnya," kata Rendra. "Tentang malam itu. Tentang Dimas. Tentang mengapa kau yang berdiri di luar dan dia yang turun ke gang — dan jangan beri aku versi laporan, karena aku sudah membaca laporannya, dan laporan adalah surat yang ditulis untuk orang yang tidak membaca. Aku ingin versimu. Dengan tanganmu yang bekerja dan mulutmu yang bicara — seperti sekarang. Itu harganya untuk device yang jujur."
Dan Arenta — dengan dua tangannya yang mulai bergerak di atas papan di dada adik Dimas, dengan pemicu orang-mati di saku seorang perakit tiga meter darinya, dengan satu pasar yang berdiri dua lapis di luar gang — mulai berbicara, sambil bekerja, dengan suara yang datar dan tangan yang tidak pernah salah:
"Malam itu ada dua device, dan kami berdua membaca keduanya dari posisi masing-masing selama empat menit sebelum ada yang bergerak. Dimas membaca device gang dari mulutnya; aku membaca device luar dari jarak tiga meter. Dan kami berdua sampai ke kesimpulan yang sama di detik yang sama — karena kami selalu sampai ke kesimpulan yang sama; itulah yang membuat kami menjadi tim, dan itulah yang tidak pernah kau mengerti tentang kami, Rendra, karena kau tidak pernah menjadi tim dengan siapa pun: device gang lebih sederhana secara teknis, tetapi lebih berbahaya secara posisi. Dan Dimas mengambilnya bukan karena dia lebih cepat, bukan karena aku menyuruhnya, bukan karena undian. Dia mengambilnya karena dia selalu mengambil device yang lebih berbahaya secara posisi — sepanjang tujuh tahun kami bekerja, tanpa satu kali pun pengecualian — karena dia berkata bahwa bahaya posisi adalah bahaya yang paling bisa dihafal, dan dia sudah menghafalnya, dan itu tanggung jawabnya." Tangannya tidak berhenti. Jalur pertama ditelusuri, diverifikasi, dicatat di kepala. "Dan aku membiarkannya, karena membiarkan pasanganmu bekerja adalah bagian dari pekerjaan — dan aku akan membiarkannya lagi malam ini, dan besok, dan setiap hari sampai aku mati, karena itu adalah siapa dia, dan mencintai seseorang berarti tidak mengubah siapa dia bahkan untuk menyelamatkannya. Itu versiku, Rendra. Bukan versi laporan. Versiku. Dan sekarang diam — jalur kedua ini membutuhkan seluruh kepalaku."
Dan Rendra diam — dan di dalam diam itu, di gang selebar bahu itu, sesuatu berdiri di antara dua orang itu yang sudah dua puluh tahun tidak berdiri di antara mereka: satu kebenaran yang diucapkan tanpa nilai, tanpa pensil merah, tanpa menang atau kalah.
Di luar gang, tak terlihat dari titik mana pun di dalamnya, pasar dua lapis itu berdiri menahan napasnya — dan di satu atap, di balik satu antena, sepasang mata membaca gang itu melalui teropong malam, dan satu tangan memegang senter kecil, menunggu partiturnya dimulai.