Jalur terakhir itu, seperti yang sudah diduga Arenta sejak jalur pertama, bukan jalur yang sulit secara teknis — melainkan jalur yang dijaga oleh satu-satunya penjaga yang tidak bisa dibaca dari papan: kabel orang-mati itu sendiri.
Kabel dari papan di dada Nita itu berjalan ke saku kiri Rendra — dan di dalam papan, jalur pemicunya bercabang menjadi dua sebelum keluar: satu cabang menuju detonator kecil di sabuk belakang, satu cabang menuju sirkuit pengawas yang menjaga kabel tetap hidup. Device yang jujur berarti device yang bisa dibaca — dan dibaca jujur, susunannya berkata satu hal dengan jelas: selama sirkuit pemicu di papan ini mati lebih dulu, tombol di tangan Rendra akan berubah menjadi tombol yang tidak terhubung ke apa-apa. Urutannya harus benar: pemicu dulu, sumber daya kemudian, detonator terakhir. Potong sumber daya dulu dan sirkuit pengawas akan membaca kematiannya sebagai serangan — dan menjawab melalui kabel yang sama dengan cara yang tidak perlu dijelaskan kepada siapa pun di gang itu.
Maka Arenta mengerjakannya dalam urutan yang benar, dengan tangan yang sudah dua puluh tahun tidak pernah salah urutan — dan dengan suara yang terus berbicara, karena Rendra sudah meminta pembacaan itu dibacakan keras-keras, dan karena setiap kata yang diucapkannya adalah satu detik lagi untuk dunia di luar gang:
"Pemicu utama: tombol tekan di tangan kirinya, sirkuit terbuka selama ditekan. Aku mengisolasinya dulu di papan — bukan di kabelnya, karena kabelnya dijaga oleh tangannya. Titik isolasi pertama di sini, di terminal ketiga." Tangannya bergerak — dua jari, satu alat, satu gerakan yang sudah dilakukannya ribuan kali di ruang-ruang latih dan puluhan kali di lapangan. "Terminal ketiga diangkat. Sirkuit pengawas masih membaca device hidup. Tombolnya masih hidup. Tapi suaranya sekarang hanya sampai ke papan — tidak lebih jauh."
"Nilai untuk caranya: sepuluh," kata Rendra, tiga meter darinya, dengan suara yang aneh — suara seorang guru yang sudah lama tidak menilai pekerjaan yang layak dinilai. "Kebanyakan operator akan memotong kabelnya langsung. Kau tidak. Kau mengisolasi di papan dulu, seperti membuka Gerbang dari daun yang benar. Dua belas tahun, Arenta, dan tanganmu tidak menua satu hari pun."
"Tangan tidak menua kalau terus bekerja," kata Arenta, tanpa mengangkat matanya. "Tangan menua kalau berhenti. Dan tanganku tidak pernah berhenti — bahkan di empat belas bulan yang kau kira menghancurkannya. Itu satu hal lagi yang tidak pernah kau baca dengan benar tentangku, Rendra: kau pikir Kapuk membuatku berhenti. Kapuk membuatku berhenti turun — bukan berhenti bekerja. Aku mengajar. Aku membaca. Dan setiap taruna yang kujarkan membaca adalah satu tangan lagi di dunia ini yang akan membaca surat-surat sepertimu di masa depan." Terminal keempat diangkat, diverifikasi, dicatat. "Sumber daya berikutnya. Baterai ganda, dua sel, seri — dilepas satu-satu, tidak pernah dua sekaligus, karena dua sekaligus adalah untuk orang yang tergesa, dan aku tidak pernah tergesa. Itu pelajaran pertama yang kaujarkan kepadaku, dua puluh tahun lalu, di ruang latih: jangan pernah tergesa di depan device yang sabar. Lihat — aku masih menggunakannya. Murid yang rajin, katamu kepada Yosua. Kau benar. Aku memang rajin."
Sel pertama terlepas. Tidak ada bunyi yang salah. Sel kedua terlepas, dan papan itu kehilangan separuh suaranya — dan di dalam sabuk di punggung Nita, detonator kecil itu berdiri tanpa perintah dan tanpa daya, dua kali lumpuh, menunggu kalimat terakhirnya.
Dan Arenta berhenti sejenak — bukan karena ragu; karena ritual. Ritual terakhir sebelum potongan terakhir, yang sudah dilakukannya di setiap device sejak dua puluh tahun: satu napas penuh, satu pembacaan ulang dari terminal pertama sampai terminal terakhir dengan mata, satu konfirmasi bahwa tidak ada satu pun yang terlewat. Device yang jujur, dibaca jujur, harus dijawab jujur.
"Detonator terakhir," katanya. "Satu kabel. Satu potongan. Dan setelah potongan ini, device di tubuhnya mati seluruhnya — dan tombol di tanganmu, Rendra, menjadi tombol yang terhubung ke kebenaran: bahwa kau tidak pernah bisa membunuh pembaca yang membaca dengan benar." Ia menempatkan penjepitnya di atas kabel itu — dengan mata yang tidak menatap apa pun kecuali kabel, dengan napas yang diatur dalam irama tulang, dengan seluruh dunia yang menyempit ke ukuran dua milimeter. "Untuk Dimas," katanya, pelan. "Dan untuk semua gang selebar bahu di dunia ini, di mana pun mereka berdiri."
Klik kecil.
Dan papan di dada Nita itu mati — seluruhnya, dengan patuh, dengan satu lampu kecil yang berubah dari merah menjadi gelap seperti mata yang akhirnya boleh terpejam. Device yang jujur itu selesai dibaca, sampai halaman terakhir, oleh pembaca yang tidak pernah salah.
"Aku tidak bisa merasakannya lagi," kata Nita, dengan suara yang pecah di tengah untuk pertama kalinya malam itu — dan kemudian menahannya kembali, karena ia sudah lama melewati takut, dan orang yang sudah melewati takut bahkan merayakan dengan disiplin. "Kak. Aku tidak bisa merasakannya lagi — sabuknya. Rasanya seperti bukan apa-apa lagi."
"Karena sabuk itu memang bukan apa-apa lagi," kata Arenta, dan meletakkan tangannya satu detik di atas papan yang mati itu — satu detik, satu sentuhan, satu janji yang ditepati — sebelum berdiri, dan berbalik menghadap tiga meter di mana seorang perakit berdiri dengan tombol mati di tangannya.
Dan dari atap di balik antena, di kejauhan, satu tangan mengangkat senter kecil — dan satu kedip panjang berjalan melalui malam: device mati. Partitur dimulai.