Perlu empat menit bagi pasar dua lapis untuk menutup diri di sekeliling gang itu — empat menit yang direncanakan seperti partitur: petugas kebersihan yang berjalan lebih dekat dengan sapunya, pedagang kopi yang memindahkan gerobaknya dua meter ke kiri, pembeli-pembeli dengan keranjang yang berhenti di titik-titik yang sudah dihafal. Empat menit yang harus diisi dengan suara — karena Rendra berdiri dengan satu tombol mati di tangannya dan satu wajah yang sedang membaca perubahan di udara, dan empat menit pertama setelah device mati adalah empat menit paling berbahaya dalam buku mana pun.
Dan Nita yang mengisinya — dengan satu-satunya senjata yang dimilikinya, yang ternyata adalah satu-satunya senjata yang dibutuhkan: cerita.
"Kau tahu apa yang kulakukan setiap pagi, sebelum berangkat sift?" katanya, kepada Rendra, dari kursi lipatnya, dengan sabuk mati di tubuhnya dan suara yang sudah berdiri kembali. "Aku menyeduh kopi. Terlalu manis — selalu terlalu manis, dua sendok penuh, karena kakakku menyeduh kopi terlalu manis dan tidak ada satu pun di rumah kami yang berani mengubahnya setelah dia pergi. Ibuku menyeduh terlalu manis. Aku menyeduh terlalu manis. Kami berdua tidak pernah membicarakannya — kami hanya melakukannya, setiap pagi, seperti orang menjaga api kecil."
Rendra tidak menjawab. Tangannya di saku tidak bergerak. Tetapi matanya — mata yang sudah dua puluh tahun membaca orang — bergerak ke wajah Nita, dan tinggal di sana.
"Dan di dasar gelasnya, kakakku selalu menggambar dua titik kecil dengan spidol. Di semua gelasnya — di rumah, di pos jaga, di mana pun. Ibuku pernah memarahinya karena gelas-gelasnya jadi jelek, dan dia tertawa dan berkata itu kode, Bu, kode orang dalam, jarak dua detik — dan tidak pernah menjelaskannya, karena lelucon orang dalam tidak dijelaskan." Nita memandang Rendra lurus, dan suaranya tidak bergetar lagi sekarang. "Aku tahu sekarang apa artinya. Kau yang mengajarkannya kepadanya — lewat korps, lewat kode lama itu. Dua titik. Jarak antara sirkuit menutup dan muatan menyala. Jarak yang kau jadikan nama untuk semua yang kau takuti. Dan kakakku menggambar dua titik itu di gelas kopinya setiap hari — bukan sebagai tantangan, bukan sebagai surat. Sebagai lelucon. Sebagai cara orang yang tidak takut pada dua detik menertawakannya sambil minum kopi yang terlalu manis."
Ia berhenti sejenak — dan kalimat berikutnya keluar dengan pelan, dengan berat yang sudah disimpannya sejak malam penculikannya:
"Kau membunuh orang yang menertawakan dua detikmu setiap pagi, Rendra. Bukan pembaca yang menantangmu — orang yang menganggap kode keramatmu itu lucu untuk digambar di gelas kopi. Itu yang kubawa ke sini malam ini. Bukan takutku. Bukan dendamku — dendam sudah lama kuserahkan ke ruang sidang yang akan datang. Yang kubawa adalah ini: kakakku lebih manusia dari seluruh bukumu. Dan kau tahu itu. Dan itu — bukan polisi, bukan pengadilan, bukan hukuman — itu yang akan membuatmu tidak bisa tidur di semua malam yang tersisa."
Dan gang selebar bahu itu menjadi sangat sunyi — sunyi yang berbeda dari semua keheningan malam itu, sunyi yang berdiri di dalam satu orang yang sudah dua belas tahun menulis dan baru saja dibaca oleh orang yang tidak pernah belajar membaca rangkaian.
Rendra memandang Nita untuk waktu yang lama — dan untuk satu detik, satu detik penuh, sesuatu melintas di wajah itu yang tidak pernah ada di surat-surat mana pun: bukan nilai, bukan tantangan, bukan dingin. Sesuatu yang lebih tua, yang sudah dua belas tahun dikubur di bawah dua belas tahun — dan yang hanya melintas satu detik sebelum wajah itu menutup kembali seperti papan yang ditutup.
"Gelas kopi," katanya akhirnya, dengan suara yang lebih pelan dari yang pernah didengar malam itu. "Dua titik di gelas kopi. Aku menghabiskan dua belas tahun menulis surat dengan kode itu — dan dia menghabiskan setiap pagi menertawakannya dengan kopi yang terlalu manis." Ia menggeleng, sekali, pelan, seperti orang yang menemukan satu komponen yang tidak cocok di rangkaian yang sudah dihafalnya. "Itu detail yang tidak ada di berkas mana pun. Itu detail yang tidak bisa kubaca dari jarak berapa pun."
Dan Arenta, yang berdiri di antara keduanya dengan mata yang membaca wajah perakit itu seperti membaca papan yang berubah, tahu bahwa inilah detiknya — detik ketika buku itu berdiri di tepi halaman terakhirnya, dan satu dorongan kecil bisa menutupnya dengan dua cara yang berbeda: dengan ledakan, atau dengan kata-kata.
Maka ia mendorongnya — dengan satu kalimat, dengan cara yang sudah dipelajarinya dari dua puluh tahun membaca tangan dan dua belas bulan membaca surat-suratnya:
"Turunkan tanganmu dari saku itu pelan-pelan, Rendra. Tombol itu sudah mati sejak lima menit lalu, dan kau sudah tahu itu sejak lima menit lalu — karena kau pembaca juga, dan kau membaca papanku mati dari caraku berdiri. Surat terakhirmu sudah dibaca sampai selesai. Sekarang pilih halaman penutupmu: ruang sidang, dengan dunia yang mendengar — atau gang ini, dengan tidak ada yang mendengar. Aku sudah membacamu dua belas tahun. Aku tahu kau tidak memilih panggung tanpa penonton."
Dan di luar gang itu, tak terdengar oleh siapa pun di dalamnya, pasar dua lapis menutup dirinya seperti buku yang ditutup perlahan — dan empat puluh orang mulai bergerak.