Empat puluh orang itu menutup gang dalam sembilan puluh detik — dan sembilan puluh detik itu, seperti semua bagian dari malam itu, sudah ditulis partiturnya jauh-jauh hari: bukan serbuan, karena serbuan adalah untuk orang yang panik, dan tidak ada satu pun dari empat puluh orang itu yang panik; melainkan penutupan, lapis demi lapis, seperti tangan yang menutup di atas lilin.
Lapis pertama: ujung-ujung gang ditutup oleh orang-orang yang tadinya pasar — petugas kebersihan yang meletakkan sapunya dan berdiri dengan rompi yang berubah arti, pedagang kopi yang mengunci gerobaknya dan tidak bergerak dari sudutnya, pembeli-pembeli dengan keranjang yang berhenti menjadi pembeli. Lapis kedua: atap-atap — mata-mata yang sudah berdiri sejak seminggu turun dari persembunyiannya, dan gang selebar bahu itu, untuk pertama kalinya dalam dua malam, tidak lagi menjadi tempat yang tidak terlihat dari mana-mana. Dan lapis ketiga: Rendi dan Bara, dari dua ujung, dengan langkah yang sudah dilatih, dengan senjata yang tetap di sarungnya karena perintah terakhir dari rapat terakhir adalah perintah yang paling penting dari semua: tidak ada yang menembak. Tidak malam ini. Malam ini ditutup dengan tangan, bukan dengan api — karena api adalah cara bukunya, dan buku ini ditutup dengan cara kita.
Dan Rendra Pakpahan berdiri di tengah gang itu dan membaca penutupan itu — dengan mata yang bergerak dari ujung ke ujung, dengan wajah yang menghitung, dengan satu tangan yang masih di saku memegang tombol yang sudah mati.
Dan ia menekannya.
Bukan karena percaya tombol itu hidup — Arenta benar, ia sudah membacanya mati dari cara Arenta berdiri, dari lampu kecil yang berubah di papan, dari dua belas tahun membaca device. Ia menekannya karena buku harus ditutup dengan gerakan terakhir, karena surat terakhir tidak boleh berakhir tanpa satu tindakan, karena tangannya sudah dua belas tahun menulis dan tidak tahu cara berhenti tanpa satu bunyi klik terakhir.
Klik. Dan tidak ada apa-apa. Tidak ada ledakan, tidak ada jawaban — hanya bunyi klik kecil dari satu tombol yang terhubung ke kebenaran, di tengah gang yang sedang menutup, di malam yang sudah dimenangkan oleh urutan yang benar.
"Sudah kubilang," kata Arenta, pelan. "Sudah selesai dibaca, Rendra. Sampai halaman terakhir."
Dan kemudian gang itu menjadi gerakan — gerakan yang prosedural, yang dilatih, yang sudah dihafal empat puluh orang seperti menghafal langkah apel: Arenta bergerak lebih dulu, ke kursi lipat, dengan dua gerakan yang membuka sabuk mati itu dari tubuh Nita dan satu gerakan yang menariknya berdiri; Rendi dari ujung timur, dua langkah panjang, dan tubuhnya berdiri di antara Nita dan dunia seperti tembok yang sudah dipersiapkan sejak malam gladi resik; dan Nita — adik Dimas, perawat dua puluh tujuh tahun, sandera yang sudah melewati takut — ditarik keluar dari titik sempit itu dengan dua tangan di sekelilingnya dan satu kalimat yang diucapkannya berulang-ulang seperti napas: aku baik-baik saja, aku baik-baik saja, aku baik-baik saja.
Dan Rendra tidak berlari.
Itu yang akan diingat semua orang yang ada di sana — bahwa di akhir bukunya, dengan empat puluh orang menutup dari segala arah, dengan perpustakaannya hilang dan namanya menjadi berita dan tombolnya mati di tangannya, Rendra Pakpahan tidak berlari. Ia berdiri di tengah gang selebar bahu itu, di titiknya yang paling sempit, di tempat yang sama di mana satu setengah tahun lalu satu rangkaiannya berubah pikiran, dan memandang penutupan itu seperti memandang sesuatu yang sudah dibacanya sejak lama dan akhirnya tiba.
"Tentu saja kau tidak datang sendiri," katanya kepada Arenta, dari tiga meter, dengan sesuatu yang hampir seperti senyum di sudut mulutnya — senyum yang mengenali, senyum seorang pembaca yang membaca jawaban terakhir. "Aku menghitungnya delapan puluh persen. Kau selalu datang — tetapi kau tidak pernah lagi datang sendiri, sejak akademi. Itu satu halaman yang kau ubah dalam bukumu, dan aku membacanya terlambat. Nilai untuk itu: sepuluh."
"Berlutut, tangan di kepala," kata Bara, dari enam meter, dengan suara komandan lapangan yang tidak menawar. "Perlahan. Satu gerakan salah dan kita membaca ini selesai dengan cara yang berbeda."
Dan Rendra memandang Bara — memandangnya seperti memandang sesuatu yang menarik tetapi kecil — dan kemudian kembali ke Arenta, dan berkata satu kalimat yang membuat semua orang di gang itu berhenti bergerak untuk satu detik:
"Belum selesai, Arenta. Ada satu halaman lagi — dan halaman ini tidak bisa kalian baca, karena halaman ini ada di tubuhku."
Dan tangannya bergerak — bukan ke saku tombol, ke kerah jaketnya sendiri — dan membukanya dalam satu gerakan, dan di bawah jaket itu, diikat di dadanya dengan kerapian yang sudah dikenal dunia: satu device kecil, dengan satu panel angka yang menyala merah dan mulai berjalan dari dua menit.
"Dua menit," kata Rendra, dengan tenang yang utuh, dengan mata yang hanya untuk Arenta. "Device terakhirku. Di tubuhku sendiri, karena aku tidak pernah meminta orang lain membaca apa yang tidak kuberani baca sendiri. Semua orang mundur dari gang ini — kalian tahu jarak aman, kalian yang mengajarkannya kepadaku. Kecuali kau, Arenta. Kau tinggal — kalau kau berani membaca satu device terakhir, di tubuh lawanmu, di dua menit, di gang tempat semuanya dimulai. Atau kau ikut mundur, dan membaca akhir buku ini dari layar berita seperti semua orang. Pilihanmu. Selalu pilihanmu — itu satu-satunya hal yang tidak pernah bisa kucabut darimu, dan aku sudah dua belas tahun mencobanya."
Dan gang selebar bahu itu, untuk terakhir kalinya, menjadi sunyi seperti dua detik.