Perlu tiga detik bagi Arenta untuk membaca pilihan itu — dan dua di antaranya dihabiskannya untuk hal yang lebih penting dari pilihan itu sendiri: untuk membaca device di dada Rendra dari jarak dua meter, dengan mata yang sudah dua puluh tahun membaca dari jarak berapa pun.
Panel dua menit yang berjalan. Muatan kecil — muatan untuk satu orang, bukan untuk satu gang; cukup untuk membunuh pemakainya, cukup untuk melukai siapa pun dalam radius dua-tiga meter, tidak cukup untuk menjangkau ujung gang kalau orang-orang mundur sekarang. Dan di bawah panel itu, satu kabel penentu yang terlihat — terlihat, dengan sengaja, dengan sopan, dengan ruang yang disisakan untuk tangan operator. Device yang dibangun untuk dibaca di dua menit, oleh satu pembaca, di satu gang.
Surat terakhir yang sesungguhnya. Bukan device untuk membunuhnya — device untuk mengujinya satu kali lagi, di depan semua orang, dengan taruhan yang sebenarnya: kalau kau benar tangan yang tidak pernah salah, buktikan di tubuhku, sekarang, atau mundur dan biarkan aku menutup bukuku sendiri dengan satu ledakan yang akan menjadi judul berita besok pagi.
"Semua mundur," kata Arenta, tanpa berbalik, dengan suara yang tidak naik satu derajat pun. "Bara — semua mundur, bawa Nita ke garis aman, sekarang. Itu perintah lapangan dan aku yang mengambil tanggung jawabnya: radius tiga meter dari device itu berarti hanya satu orang yang perlu berdiri di dalamnya, dan orang itu bukan kau, bukan Rendi, bukan siapa pun kecuali orang yang device ini ditujukan. Mundur. Sekarang."
"Bu—" suara Rendi, dari ujung gang, dengan Nita di antara dua tangannya.
"Mundur, operator. Itu perintah. Dan bawa adik Dimas pulang — itu pekerjaanmu malam ini, dan tidak ada yang lebih penting darinya di seluruh dunia ini."
Dan gang itu bergerak mundur — cepat, prosedural, dengan Nita yang berbalik satu kali di ujung gang dengan wajah yang akan diingat Arenta: bukan wajah yang meminta, wajah yang mempercayai, wajah yang berkata aku tahu kau akan pulang. Dan kemudian gang itu kosong kecuali dua orang — dua meter dari satu sama lain, dua belas tahun dari satu sama lain, dua menit yang berjalan di antara satu sama lain.
"Satu menit lima puluh detik," kata Rendra, tanpa melihat panelnya — karena operator berpengalaman tidak pernah menatap timer, dan Rendra, di atas segalanya, adalah operator berpengalaman. "Ceritakan padaku cara kerjanya, Arenta. Bacakan keras-keras — seperti tadi, seperti selalu. Surat terakhir tidak boleh dibaca dalam diam."
Dan Arenta bergerak maju satu langkah — ke jarak satu meter, jarak kerja — dan mulai membaca device di dada lawannya dengan suara yang datar dan tangan yang sudah terangkat:
"Muatan kecil, satu tujuan: pemakainya. Panel dua menit yang bukan timer palsu — timer jujur, karena surat terakhir ditulis dengan timer jujur. Satu kabel penentu, terlihat, dengan ruang yang disisakan — dan di bawahnya, satu lapisan yang kau bangun untukku secara khusus, karena aku sudah membaca semua lapisanmu dan kau tahu aku akan mencarinya." Tangannya bergerak, membuka jaket itu lebih lebar dengan dua jari, membaca sisi-sisinya. "Anti-getar? Tidak — kau tidak akan memasang anti-getar di tubuhmu sendiri di gang yang sempit; satu guncangan salah dan bukumu selesai tanpa pembaca. Fotolistrik? Tidak — gelap di sini untuk kita berdua. Tidak, Rendra, lapisanmu kali ini lebih halus dari itu, dan aku sudah membacanya: kabel penentu ini bukan satu. Dia dua — kembar, identik, berjalan berdampingan dari terminal yang sama. Seperti di rumah masa kecilku. Seperti di kanal dua malam lalu. Satu mematikan device ini. Satu memicu muatan sekunder kecil di jaketmu — cukup untuk satu tangan, tidak cukup untuk dua orang. Kau tidak sedang mengujiku dengan waktu. Kau mengujiku dengan pilihan — seperti biasa, seperti selalu. Kau ingin aku menebak di dua menit terakhir dari bukumu."
Dan Rendra tersenyum — senyum yang penuh, senyum yang pertama kalinya utuh malam itu, senyum seorang perakit yang soal terbaiknya sedang dibaca dengan benar di depan matanya:
"Satu menit dua puluh detik. Dan kau sudah membaca sampai ke lapisan terakhir. Nilai sempurna untuk pembacaan, Arenta — seperti biasa, seperti selalu." Matanya tidak berkedip. "Tapi membaca dan memilih adalah dua hal yang berbeda. Dua kabel kembar, satu menit, dan tanganku tidak bisa memberitahumu — karena tanganku berdiri di sisi lain dari soal ini. Pilih. Tebak. Atau baca — kalau kau bisa membaca dalam satu menit, di atas tubuh yang bernapas, di gang tempat kau kehilangan Dimas."
Dan Arenta tidak menebak. Tentu saja tidak menebak — dua puluh tahun tidak pernah menebak, dua belas surat tidak pernah menebak, dua detik di rumah masa kecilnya tidak pernah menebak. Ia melepas sarung tangannya — sarung kerja tipisnya, bukan suit, karena malam ini tidak ada suit — dan meletakkan dua ujung jarinya di pangkal dua kabel kembar itu, di titik di mana keduanya keluar dari terminal yang sama, dan menutup matanya.
Dan membaca ketegangan di pangkalnya dengan kulit telanjang — seperti di rumah masa kecilnya, seperti mengajari Rendi di kanal, seperti satu-satunya cara membaca yang tidak bisa ditipu oleh mata: kabel yang menarik lebih kencang ke dinding adalah kabel yang menuju muatan; kabel yang netral adalah kabel yang menuju pemutus. Dan di pangkal dua kabel kembar itu, di bawah ujung jarinya yang sudah dua puluh tahun menjadi alat ukur terbaik di korps itu, ketegangan itu berkata — kecil, tapi ada, selalu ada: kabel kiri menarik ke bawah, ke sabuk, ke muatan. Kabel kanan netral.
"Empat puluh detik," kata suara Rendra, dari atas, dari jauh.
"Aku tahu," kata Arenta. Dan menempatkan penjepitnya di atas kabel kanan — dan berhenti satu detik, satu detik penuh, ritual terakhir, pembacaan ulang dari terminal ke pangkal dengan mata yang terbuka dan ujung jari yang telanjang — dan di dua detik yang tersisa, di jarak yang selama ini menjadi nama dari segala yang ditakutinya, ia menutup penjepitnya.
Klik.
Dan panel dua menit itu berhenti di angka dua detik — dan padam.