Dua detik itu berdiri di layar yang padam — dan kemudian berjalan lagi, karena waktu tidak pernah berhenti, waktu hanya pura-pura berhenti di kepala orang-orang yang baru saja menyeberanginya.
Di gang selebar bahu itu, di jarak satu meter dari satu sama lain, dua orang berdiri dalam keheningan yang baru: Arenta dengan penjepit di tangan dan sarung kerja yang tergeletak di tanah, Rendra dengan device mati di dadanya dan wajah yang sedang membaca sesuatu yang tidak ada di buku mana pun yang pernah ditulisnya.
Panel padam. Timer mati. Muatan di jaketnya berdiri lumpuh — tanpa perintah, tanpa daya, tanpa suara.
Dan Rendra Pakpahan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya dalam dua belas tahun surat-suratnya: ia tertawa — pelan, pendek, tanpa humor, tawa yang keluar dari tempat di dalam diri yang hanya terbuka oleh satu kejadian yang sudah dihindarinya seumur hidupnya: dibaca sempurna, di dua detik, dengan ujung jari telanjang, di atas tubuhnya sendiri.
"Ketegangan pangkal," katanya. "Lagi. Cara yang tidak ada di buku mana pun — cara yang kaujarkan kepada muridmu, cara yang kupakai untuk membangun dua kabel kembar terakhirku karena aku tahu kau akan menggunakannya, dan aku masih kalah olehnya." Ia menggeleng, pelan, dengan mata yang tidak beranjak dari tangan kanan Arenta. "Aku membangun soal untuk mengalahkan jawabanmu — dan jawabanmu berdiri di luar soal, di tempat yang tidak bisa kujangkau dengan rangkaian mana pun. Dua belas tahun, Arenta. Dua belas tahun aku menulis untuk membuktikan bahwa tanganmu adalah lemparan koin — dan malam ini kau membuktikan, di dua detik, di atas dadaku, bahwa tanganmu bukan koin. Tanganmu adalah tanganmu. Dan itu adalah kalimat yang paling mahal yang pernah kubaca."
Dan Arenta tidak menjawab dengan kata-kata — karena di detik itu, di gang itu, kata-kata sudah selesai dengan dirinya. Ia hanya memandang orang di depannya — jenius dari ruang latih, tangan yang lebih cepat, perakit yang menulis dua belas tahun untuk didengar — dan kemudian ia melakukan hal yang tidak ada di prosedur mana pun dan yang akan diingatnya sepanjang sisa hidupnya: ia mengulurkan tangannya, telapak terbuka, dan berkata satu kalimat yang pendek dan utuh:
"Serahkan alat pemotongmu, Rendra. Perlahan. Buku ini selesai — dan kau akan menutupnya dengan tanganmu sendiri, bukan dengan tanganku, karena penulis menutup bukunya sendiri. Itu satu-satunya sopan yang tersisa."
Dan Rendra memandang telapak yang terbuka itu untuk waktu yang lama — dan kemudian, dengan gerakan yang pelan dan terlihat dari segala arah, ia merogoh saku kanan jaketnya, mengeluarkan satu alat pemotong kabel kecil yang sudah dua belas tahun menjadi perlengkapan tangannya, dan meletakkannya di telapak tangan Arenta — dengan dua jari, seperti orang menyerahkan sesuatu di upacara yang tidak pernah diajarkan siapa pun.
"Untuk ruang sidang," katanya. "Bukan untukmu — jangan salah baca satu-satunya halaman ini, karena kau sudah membaca semuanya dengan benar sejauh ini dan aku tidak mau kau salah di halaman terakhir. Aku menyerah untuk ruang sidang, karena ruang sidang adalah satu-satunya panggung tersisa di mana seseorang akan membaca buku ini keras-keras, dari halaman satu sampai halaman terakhir, di depan dunia. Aku sudah dua belas tahun menulis untuk didengar, Arenta. Dan aku sudah belajar malam ini — di gang ini, dari gelas kopi dan dari dua detik — bahwa dibunuh oleh pembaca yang benar adalah cara yang salah untuk didengar, dan dibaca oleh dunia adalah satu-satunya cara yang benar."
Dan dari ujung-ujung gang itu, dengan isyarat yang sudah dihafal, empat puluh orang itu menutup lapis terakhirnya — dan Bara berjalan masuk dengan borgol di tangannya, dan Rendi dengan mata yang tidak kering, dan malam itu, di Pasar Kapuk, di gang selebar bahu, di titiknya yang paling sempit, satu setengah tahun setelah satu rangkaian berubah pikiran di tempat yang sama, Rendra Pakpahan diborgol dengan dua tangan di belakang punggungnya — tangan yang tidak pernah salah membangun, akhirnya berhenti bergerak.
Dan Arenta memungut sarung kerjanya dari tanah gang, memakainya kembali dengan gerakan yang pelan, dan baru kemudian menyadari bahwa seluruh tubuhnya basah oleh keringat malam itu — dan bahwa tangan kanannya, tangan yang barusan membaca di dua detik di atas dada lawannya, tidak gemetar satu kali pun. Bukan ditahan. Tenang. Seperti kabel yang sudah selesai dengan urutannya.
Dan ketika ia dibawa keluar dari gang itu, melewati garis orang-orang yang berdiri di kedua sisinya seperti dua baris halaman, ia berhenti satu langkah di samping Arenta, dan berkata kalimat terakhirnya untuk malam itu — pelan, hanya untuknya, dengan suara orang yang sudah menutup bukunya dan hanya tinggal menandatanganinya:
"Kamu masih ingat caranya, Arenta. Dua belas tahun, dan kamu masih ingat caranya. Dan untuk pertama kalinya sejak aku menulis kalimat itu — aku mengatakannya bukan sebagai tantangan. Aku mengatakannya sebagai penyerahan. Buku ini milikmu sekarang. Bacakan untuk dunia — sampai halaman terakhir, dengan benar, seperti kau membaca semuanya. Itu satu-satunya warisan yang kumiliki, dan aku menyerahkannya kepada satu-satunya pembaca yang layak membacanya."
Dan mereka membawanya ke dalam malam — melewati pasar yang sudah mulai membuka matanya, melewati lapak-lapak yang bersiap untuk subuh, di antara lampu-lampu petromaks yang menguning — dan Pasar Kapuk berdiri di belakang mereka seperti berdiri selama seratus tahun: tempat orang berdagang, tempat orang hidup, tempat yang tidak pernah menjadi milik satu malam dan tidak akan pernah.