Subuh sudah lewat. Pasar mulai menua menjadi siang; los basah ditutup terpal, gerobak diparkir miring, dan tukang panggul satu per satu pulang dengan upah yang muat di kepalan tangan. Sarip tidak langsung pulang. Ia berjalan ke ujung utara pasar, ke deretan kios kelontong tua, tempat Wak Haji Damiri tinggal di balik gudang berisi karung beras pecah dan timbangan jadul.
Wak Damiri sudah tujuh puluhan. Punggungnya membungkuk seperti tanda tanya, tapi matanya masih tajam dan tangannya, kalau menyalami, masih meninggalkan rasa kuat yang tidak wajar untuk orang setua itu. Dulu, kata orang-orang tua di pasar, Damiri adalah jawara. Bukan jawara silat sakti yang melompati atap, melainkan lelaki yang dulu satu-satunya berani berdiri di depan preman pelabuhan saat para pedagang ketakutan. Sekarang ia hanya menjaga kios, menyeduh teh tubruk, dan mengaji pelan-pelan di antara dengkur kucing.
"Kamu pakai lagi," kata Wak Damiri tanpa menoleh, begitu Sarip duduk di bangku kayu di depannya. Bukan pertanyaan.
Sarip menunduk. "Saya nggak tahu, Wak. Saya nggak ingat."
"Hidungmu." Wak Damiri menunjuk dengan dagu. Masih ada noda cokelat kering di lubang hidung Sarip yang luput dari sekaan. "Telingamu masih berdenging?"
Sarip menyentuh telinganya. "Sedikit."
Lelaki tua itu menghela napas panjang, meletakkan gelas teh, dan untuk beberapa saat hanya memandang halaman gudang yang berdebu. Lalu ia mulai bicara, seperti yang sudah berkali-kali ia ceritakan tapi tak pernah bosan Sarip dengar, karena di antara ceritanya selalu ada hal yang baru terungkap.
"Yang kamu punya itu namanya bukan ilmu kebal. Bukan tenaga dalam. Orang-orang tua menyebutnya sabuk pendek. Karena dia tidak panjang, Rip. Tidak bisa kamu pakai semaumu. Dia cuma sepotong waktu — sekejap, secukup tarikan napas — saat dunia melambat dan kamu sempat membaca apa yang mau terjadi. Membaca arah pukulan. Membaca jatuhnya pisau. Membaca celah di lorong yang sempit." Ia mengangkat tangannya yang keriput. "Tapi setiap kali sabuk itu kamu tarik, tubuhmu yang bayar. Bukan musuhmu. Kamu."
Sarip mengangkat wajah.
"Mata kamu gelap sebentar, telinga berdenging, kepala pening sampai mau roboh. Kadang darah keluar dari hidung. Kalau kamu paksa terlalu kuat, terlalu lama, kamu bisa pingsan di tempat — dan di pasar ini, Rip, pingsan di waktu yang salah sama saja bunuh diri." Suara Wak Damiri merendah. "Dulu aku pernah memaksanya tiga kali dalam satu malam. Setelahnya aku buta dua hari. Dua hari penuh, gelap total, cuma bisa meraba dinding. Mengira aku tak akan pernah melihat lagi."
Sarip menelan ludah. "Tapi Wak sembuh."
"Aku sembuh karena aku berhenti." Mata tua itu menatapnya lurus. "Itu yang harus kamu mengerti. Sabuk pendek tidak membunuhmu sekali tebas. Dia mencicilmu. Sedikit demi sedikit. Tiap kali kamu pakai, badanmu menua satu langkah lebih cepat dari yang seharusnya. Telinga yang sering berdenging lama-lama benar tuli. Mata yang sering gelap lama-lama benar rabun. Itu bukan sihir, Rip. Itu cuma badan yang dipaksa membayar utang yang tidak bisa ia bayar."
Mereka diam. Kucing tua melompat ke pangkuan Wak Damiri dan ia mengusapnya tanpa berpikir.
"Kamu masih ingat kenapa aku mengajarimu?" tanya Wak Damiri.
Sarip mengerutkan kening. Ia ingat samar-samar. Ia masih belasan tahun, kuli kecil yatim yang tidur di gudang, sering jadi sasaran tendangan preman karena tidak ada yang membela. Suatu malam Wak Damiri menariknya dari bawah meja, membersihkan luka di bibirnya, dan berkata: aku tidak bisa membuatmu kuat, tapi aku bisa membuatmu cukup cepat untuk lari. Yang Wak Damiri tidak duga, Sarip ternyata bisa menarik sabuk itu lebih panjang dari kebanyakan orang. Itu berkah. Itu juga, kata Wak Damiri, kutukan.
"Aku mengajarimu untuk lari, Rip. Bukan untuk jadi pahlawan." Wak Damiri mengetukkan jari ke dada Sarip. "Tapi aku kenal kamu. Kamu tidak bisa lihat orang lemah ditindas dan diam. Itu kelebihanmu. Itu juga yang akan menghabiskanmu." Ia mencondongkan badan. "Dengar baik-baik. Pakai sabuk itu hanya kalau nyawa kamu sendiri yang terancam. Bukan buat menyelamatkan dompet Bu Surti. Bukan buat melawan Jagur. Kalau kamu mulai pakai dia buat membela orang lain, kamu tidak akan berhenti. Dan suatu hari kamu akan roboh di waktu yang salah, dan tidak akan bangun lagi."
Sarip ingin berkata bahwa ia bahkan tidak sadar telah memakainya tadi pagi. Bahwa tubuhnya bergerak sendiri sebelum kepalanya sempat memutuskan. Tapi ia hanya mengangguk, karena membantah Wak Damiri rasanya seperti membantah ayah yang tak pernah ia miliki.
Wak Damiri menyeruput tehnya, lalu berkata pelan, lebih kepada dirinya sendiri, "Pasar ini sedang sakit, Rip. Lebih sakit dari zamanku. Dulu preman cuma minta uang keamanan, kasar tapi kelihatan. Sekarang yang mencekik tidak kelihatan. Bunga, utang, mesin hitung. Mereka memeras pakai angka, bukan pakai golok. Dan itu lebih sulit dilawan, karena tidak ada wajah yang bisa kamu pukul."
Sarip teringat Jagur dan buku bersampul plastik di ketiaknya. "Bank harian itu, Wak."
"Bank harian itu cuma tangan. Yang aku tidak tahu, dan harus tahu sebelum aku mati, adalah kepalanya." Wak Damiri menatap jauh, ke arah los yang mulai sepi. "Mereka menyebutnya Koh Sembilan. Tapi aku sudah cukup tua untuk tahu, Rip — nama yang gampang diucapkan biasanya bukan nama yang sebenarnya."
Sarip pulang siang itu dengan kepala yang masih berdenyut. Di sepanjang jalan, ia mencoba mengingat tiga langkah yang ia lakukan pagi tadi, dan tetap tidak bisa. Hanya ada lubang di antara saat ia mengelap keringat dan saat ia bersandar di tiang dengan hidung berdarah. Ia tidak tahu bahwa lubang-lubang seperti itu akan semakin sering datang.