Untuk mengerti betapa dalam pasar ini terjerat, orang harus duduk di warung kopi Mak Itoh dari pukul tiga sampai matahari naik dan mendengarkan saja. Sarip melakukannya hampir tiap hari, sambil mengaso di antara muatan, dan perlahan ia mulai menyusun gambaran yang membuat dadanya sesak.
Semua bermula dari hal yang masuk akal. Seorang pedagang butuh modal pagi untuk kulakan. Bank betulan terlalu jauh, terlalu banyak syarat, dan tidak mau melihat orang yang lapaknya cuma selebar pintu. Maka datanglah bank harian. Pinjam dua ratus ribu pagi ini, kembalikan dua ratus dua puluh besok pagi. Cuma dua puluh ribu, pikir orang. Murah, cepat, tidak pakai jaminan, tidak pakai tanda tangan. Cukup namamu dicatat di buku bersampul plastik milik Jagur.
Yang tidak orang hitung adalah waktu. Dua puluh ribu sehari terdengar kecil sampai kau gagal bayar sekali. Lalu bunga berbunga. Lalu pinjaman ditambah untuk menutup pinjaman lama. Lalu mesin hitung — Jagur selalu menyebut mesin, seolah-olah dirinya hanya pesuruh angka — terus berputar, dan dalam tiga bulan utang dua ratus ribu menjelma jadi dua juta, lalu lima.
"Bunga itu, Rip," kata Pak Soleh, penjual ikan yang lapaknya paling ramai di los basah, "kayak air laut. Makin kamu minum, makin haus. Nggak pernah habis."
Sarip kenal Pak Soleh sejak ia masih bocah. Lelaki itu dulu yang sering memberinya kepala ikan untuk dibakar saat ia kelaparan. Sekarang punggung Pak Soleh juga membungkuk, bukan karena usia, tapi karena beban yang tak kelihatan. Sarip memperhatikan, dalam dua pekan terakhir, lapak Pak Soleh makin kosong. Bukan karena dagangannya laku, tapi karena ia tak lagi mampu kulakan banyak. Hampir semua keuntungannya lenyap ke buku bersampul plastik.
Lalu pagi itu, mesin menagih lunas.
Jagur datang tidak sendiri. Dua anak buahnya membawa gerobak kosong dan tali. Mereka berhenti di depan lapak Pak Soleh dengan ketenangan yang sudah Sarip kenali sebagai pertanda buruk.
"Pak Soleh," kata Jagur, membuka buku. "Sudah lima hari nunggak. Mesin nggak bisa nunggu. Hari ini lapaknya kita ambil dulu, ya. Timbangan, etalase, kursi. Buat nutup sebagian. Sisanya nanti kita omongin."
Pak Soleh berdiri, tangannya terkepal. "Itu lapak satu-satunya yang saya punya, Bang. Kalau diambil, saya makan apa? Anak saya sekolah pakai apa?"
"Itu bukan urusan mesin, Pak." Jagur bahkan tidak mengangkat suara. "Mesin cuma ngitung. Bapak yang tanda tangan dulu — eh, bapak yang setuju dulu. Sekarang waktunya bayar."
Dua anak buah mulai mengangkat etalase kaca. Pak Soleh menahan, dan salah satu anak buah mendorongnya hingga terjengkang ke tumpukan es. Para pedagang lain di sekitar berhenti, menatap, tapi tak ada yang maju. Sarip tahu kenapa. Maju berarti namamu masuk daftar berikutnya. Solidaritas di pasar ini nyata, tapi ia tumbuh di bawah ketakutan, seperti rumput di bawah batu.
Dada Sarip panas. Kakinya bergerak setengah langkah maju, dan ia merasakan tuas di belakang matanya mulai bergetar, dunia mulai melambat di pinggir. Bunyi es yang berderak melambat menjadi gemeretak panjang. Lalu suara Wak Damiri menggema di kepalanya: bukan buat menyelamatkan dompet Bu Surti, bukan buat melawan Jagur.
Sarip mengepalkan tangan dan menahan tuas itu. Ia menelan tuas itu kembali, dan dunia kembali normal, dan rasa pening tetap datang meski lebih ringan — seperti tubuhnya menghukumnya bahkan untuk niat. Ia berdiri di sana, gemetar, sambil melihat Pak Soleh dikalahkan oleh angka.
Maka Sarip melakukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan tanpa sabuk pendek. Ia maju sebagai kuli, bukan sebagai apa pun yang lain.
"Bang Jagur," katanya, suaranya tidak gagah, malah agak gemetar. "Etalase itu berat. Biar saya yang angkat ke gerobak. Biar nggak pecah, biar nggak ada yang luka."
Jagur menatapnya, heran. Anak buahnya menatapnya seperti melihat orang dungu. Tapi tawaran kuli untuk mengangkat barang adalah hal yang paling wajar di pasar ini, sehingga tidak ada yang curiga. Sarip mengangkat etalase itu pelan-pelan, dan dalam proses itu, ia sengaja memperlambat segalanya — bukan dengan sabuk pendek, hanya dengan tubuhnya yang lamban — memberi waktu Pak Soleh bangun, memberi waktu Mak Itoh menyelinap memanggil orang-orang, memberi waktu kepada pagi untuk menjadi saksi.
"Anak saya," bisik Pak Soleh saat lewat di sampingnya, suaranya pecah. "Tolong, Rip."
"Saya nggak bisa apa-apa, Pak," bisik Sarip balik, dan itu kejujuran yang paling menyakiti dirinya sendiri. "Saya cuma kuli."
Lapak Pak Soleh dilucuti pagi itu. Timbangan, etalase, kursi plastik, bahkan terpal. Pak Soleh duduk di lantai basah memandangi ruang kosong yang tadinya hidupnya. Para pedagang lain perlahan kembali ke lapak masing-masing, menunduk, masing-masing menghitung diam-diam berapa hari lagi sebelum giliran mereka.
Sarip mengantar gerobak muatan itu sampai mulut pasar karena ia kuli dan diupah untuk itu, lalu kembali dengan langkah berat. Ia duduk di samping Pak Soleh, tidak berkata apa-apa, karena tidak ada kata yang cukup. Ia ingin memakai sabuk pendek. Ingin sekali. Tapi ia tahu sekarang, lebih jelas dari sebelumnya, bahwa sabuk pendek tidak bisa mengembalikan etalase yang sudah diangkut, tidak bisa membayar utang, tidak bisa mematikan mesin. Sabuk pendek hanya bisa menundukkan satu pukulan dalam satu kejap, dan membuat hidung Sarip berdarah sebagai gantinya. Melawan angka tidak bisa dilakukan dengan kepalan tangan.
Ia pulang siang itu dan, untuk pertama kalinya, berpikir bahwa mungkin yang ia butuhkan bukan tangan yang lebih cepat, melainkan kepala yang bisa membaca buku.