Pasukan kerajaan Monaghan bergerak ke kediaman pribadi Baron di pinggiran kota tepat tengah malam, dengan surat perintah penangkapan yang ditandatangani sendiri oleh Ratu Moana dan dengan Judas yang memimpin langsung dari mobil terdepan. Tiga tim mengepung rumah besar itu dari tiga arah dalam waktu kurang dari dua menit — rumah besar tua yang sudah puluhan tahun menjadi tempat tinggal kerabat kerajaan yang selalu terlihat tidak berbahaya itu.
Operasi itu sendiri berjalan dengan presisi yang nyaris sempurna. Tim pertama memutus semua jalur komunikasi rumah itu sebelum satu pun penjaga di dalamnya sempat mengangkat teleponnya. Tim kedua mengambil alih dua pos penjaga di pagar belakang tanpa satu pun tembakan. Dan tim ketiga, yang dipimpin langsung oleh Judas, masuk melalui pintu utama tepat ketika jam berdentang dua belas kali, dengan surat perintah kerajaan di tangan dan dengan lampu-lampu rumah besar itu yang menyala serentak satu per satu seperti panggung yang dibuka untuk pertunjukan terakhirnya.
Hanya ada empat orang di dalam rumah besar itu: tiga pelayan tua yang sudah puluhan tahun bekerja di sana dan satu penjaga pribadi yang menyerah tanpa perlawanan begitu melihat surat perintah kerajaan. Tidak ada perlawanan. Tidak ada kekacauan. Tidak ada apa pun yang seharusnya ada di dalam sebuah rumah yang sedang menjadi sasaran penangkapan terbesar dalam satu dekade terakhir.
Dan mereka menemukan rumah itu kosong.
Bukan kosong yang biasa. Kosong yang sudah disiapkan. Lemari-lemari pakaian yang terbuka dengan isi yang sudah diambil sebagian besar, brankas-brankas yang terbuka dan kosong, perapian di ruang kerjanya yang masih menyisakan abu hangat dari dokumen-dokumen yang baru saja dibakar beberapa jam sebelumnya. Baron sudah pergi, dan dia pergi dengan tenang, teratur, dan cukup cepat untuk menghindari penangkapan yang hanya berselisih beberapa jam dari kepergiannya.
“Dia sudah tahu,” ucap Josh, memeriksa abu di perapian itu dengan sarung tangannya. “Entah bagaimana, dia sudah tahu kita akan datang. Mungkin dia punya telinga kedua yang tidak sempat kita temukan, atau mungkin dia sudah menyiapkan pelarian ini sejak lama sebagai rencana cadangan.”
Kepala pelayan rumah itu, seorang wanita tua yang sudah tiga puluh tahun mengabdi di rumah itu, hanya bisa memberikan satu keterangan yang berguna ketika ditanyai Josh di dapur: majikannya pergi dua hari sebelumnya dengan dua koper dan satu instruksi bahwa dia akan pergi jauh untuk waktu yang lama, dan bahwa para pelayan dibayar penuh sampai akhir tahun serta dibebaskan dari semua kewajiban. Pesannya persis, kata wanita tua itu dengan tangan yang gemetar memegang cangkir yang tidak diminumnya: “Kalau ada yang datang mencariku, katakan saja yang sebenarnya. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk disembunyikan di rumah ini.” Kalimat perpisahan orang yang sudah tahu bahwa rumah itu tidak akan pernah menjadi rumahnya lagi.
“Orang-orang seperti Baron tidak pernah punya satu telinga.” Judas berdiri di tengah ruang kerja yang kosong itu, memindai setiap sudutnya dengan matanya yang dingin. “Tapi dia terburu-buru. Lihat perapiannya. Orang yang pergi dengan tenang akan membakar dokumennya sampai habis. Yang ini masih menyisakan potongan-potongan yang belum sempurna terbakar. Dia pergi dengan sangat tergesa, Josh, dan orang yang tergesa selalu meninggalkan sesuatu.”
Mereka mengumpulkan setiap potongan kertas yang tersisa dari perapian itu dengan ketelitian arkeolog. Potongan-potongan kecil, gosong di pinggirnya, sebagian besar sudah tidak bisa diselamatkan. Josh bahkan memeriksa reruntuhan abu di bawah tungku dengan pinset, satu per satu, di bawah cahaya lampu sorot dari ponselnya, sementara dua serdadu menyisir setiap laci dan setiap celah dinding di ruangan itu untuk memastikan tidak ada satu pun benda kecil yang terlewat. Tapi dari puluhan potongan itu, ada tiga yang masih bisa dibaca sebagian: potongan pertama berisi deretan angka yang tampak seperti jadwal keberangkatan kapal; potongan kedua berisi sisa kalimat yang berbunyi “... setelah raja baru dinobatkan, Osmod akan ...”; dan potongan ketiga, yang paling kecil, hanya berisi dua kata dan sebuah tanggal yang membuat Judas membeku di tempatnya berdiri.
Dua kata itu: “perairan tengah”. Dan tanggalnya hanya berselisih lima hari dari hari ini.
“Perairan tengah,” ulang Josh, mengerutkan dahinya. “Zona perairan internasional di antara Monaghan dan Osmod. Zona yang tidak masuk wilayah kedaulatan mana pun.”
“Tempat yang sempurna untuk dua orang yang sedang dicari oleh dua kerajaan untuk bertemu tanpa bisa dijangkau oleh hukum mana pun.” Judas menatap potongan kecil itu dengan tatapan yang membeku. “Baron tidak lari bersembunyi, Josh. Baron lari ke tempat yang sudah dipilihnya sejak lama. Dia akan bergabung dengan Kanzel di perairan tengah, di luar jangkauan dua kerajaan, dan dari sana mereka akan melakukan apa pun yang sudah mereka rencanakan untuk dilakukan setelah semua ini.”
“Setelah raja baru dinobatkan,” baca Josh dari potongan kedua, dan suaranya berubah. “Tuan. Kanzel merebut takhta Osmod lewat kudeta. Baron mengincar takhta Monaghan sejak puluhan tahun. Kalau mereka berdua bertemu di perairan tengah dalam lima hari ... mereka tidak sedang merencanakan pelarian. Mereka sedang merencanakan penobatan.”
Judas berdiri diam di tengah ruangan yang kosong itu, dengan potongan-potongan kertas gosong di tangannya, dan seluruh gambar besar itu akhirnya tersusun utuh di kepalanya dengan cara yang membuat darahnya bergerak lebih cepat.
Kanzel dan Baron tidak pernah bermain untuk uang. Uang hanyalah bahan bakar. Yang mereka mainkan sejak awal adalah dua takhta sekaligus — Kanzel mengambil Osmod dari dalam, Baron mengambil Monaghan dari luar, dan Halvern menjadi mesin uang yang membayar semuanya. Dan sekarang, dengan kedua rencana mereka terbakar oleh bukti-bukti yang sudah tersebar ke mana-mana, mereka tidak mundur. Mereka melompat ke rencana terakhir mereka, rencana yang hanya bisa dilakukan dari tempat yang tidak bisa dijangkau oleh siapa pun: di tengah laut, di perairan tengah, di luar kedaulatan dua kerajaan yang ingin mereka rebut.
“Josh, hubungi semua orang kita di pelabuhan. Sekarang. Aku ingin tahu setiap kapal yang meninggalkan Monaghan dalam empat puluh delapan jam terakhir, sekecil apa pun, sejelas apa pun catatannya.” Judas sudah berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah-langkah yang cepat. “Dan hubungi Ratu Moana. Katakan padanya bahwa Baron sudah lepas, tapi kita tahu ke mana dia pergi. Dan bahwa aku akan membutuhkan kapal perang kerajaan yang tercepat yang bisa disiapkan tanpa menarik perhatian.”
“Untuk mengejarnya ke perairan tengah, Tuan?”
Judas berhenti sejenak di ambang pintu, dan ketika dia berbalik, seringainya sudah terpasang penuh di wajahnya.
“Baron memilih medan pertarungannya di tengah laut, Josh, karena dia pikir laut adalah wilayah yang tidak memihak siapa pun.” Seringai itu makin melebar. “Dia lupa menanyakan pendapat lautnya sendiri tentang itu.”