Dua hari setelah pelarian Baron, untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu yang penuh dengan tembakan, kudeta, dan ruangan-ruangan bawah tanah, hidup Ara berjalan dengan kecepatan yang bisa disebut manusiawi.
Pagi itu dia berdiri di tepi pantai Monaghan, di titik pertemuannya yang biasa, dengan kaki yang terendam air laut setinggi lutut dan mata yang tertutup, membiarkan air itu berbicara kepadanya dengan cara yang hanya bisa didengarnya. Tubuhnya masih lelah. Kekuatan yang dia keluarkan di dermaga Osmod malam itu masih meninggalkan sisa-sisa kelelahannya di tulang-tulangnya, seperti gema yang belum sepenuhnya hilang. Tapi laut Monaghan adalah laut rumahnya, dan rumah selalu menyembuhkan lebih cepat dari obat mana pun.
Vaza muncul dari dalam air beberapa menit setelah siulnya, dengan jenggot panjangnya yang berkilau dan dua ekor lumba-lumba kecil yang mengikutinya dari kejauhan seperti pengawal yang tidak resmi.
“Kau terlihat lebih lelah dari biasanya, Putri Arandelle,” ucap duyung tua itu, memeriksa wajahnya dengan mata yang sudah ratusan tahun berlatih membaca manusia. “Kau menggunakan kekuatanmu terlalu jauh di perairan asing. Aku bisa merasakannya dari sini. Tubuhmu masih membayar harganya.”
“Harganya layak dibayar, Vaza. Ada seorang raja yang masih hidup karena harga itu.” Ara tersenyum kecil. “Dan ada seseorang yang sekarang sudah tahu segalanya tentangku, dan dia tidak lari.”
“Ah.” Vaza mengangguk pelan, dan ada sesuatu yang mirip dengan kebijaksanaan kuno yang berkedip di matanya. “Pangeran dari daratan itu. Yang kau selamatkan dari mobil yang tenggelam. Aku sudah menduga sejak lama bahwa laut tidak pernah mempertemukan dua orang tanpa maksudnya, Putri. Laut tidak pernah melakukan apa pun tanpa maksud.”
“Dia ingin bertemu denganmu suatu hari nanti. Kudengar-dengar, dia sudah menyusun daftar pertanyaannya sejak seminggu yang lalu.”
“Kalau begitu aku akan menyiapkan jawaban-jawabanku sejak sekarang.” Vaza berhenti sejenak, dan nadanya berubah menjadi lebih serius. “Tapi bukan itu yang membuatmu memanggilku pagi ini, Putri. Aku bisa merasakannya. Ada yang sedang bergerak di laut kita. Sesuatu yang besar.”
Ara mengangguk pelan. “Baron kabur ke perairan tengah. Dia akan bergabung dengan Kanzel di sana, di luar jangkauan dua kerajaan. Dan apa pun yang mereka rencanakan, mereka akan melakukannya di atas lautmu, Vaza. Aku butuh mata-mata laut lebih banyak dari sebelumnya. Setiap kapal yang lewat di perairan tengah, setiap pergerakan di zona itu, setiap suara dari dasar sana.”
“Perairan tengah adalah wilayah berbahaya bahkan untuk kami, Putri. Arusnya tidak menentu, dan duyung-duyung muda menghindarinya sejak lama.” Vaza menatapnya dengan tatapan yang dalam. “Tapi untukmu, dan untuk laut yang mereka cemari dengan rencana-rencana kotor mereka, kami akan mengawasinya. Aku sendiri yang akan memimpin pengawasannya.”
Ara menggenggam tangan duyung tua itu sejenak, tangan yang sudah menyembuhkan lukanya berkali-kali, tangan yang sudah menjadi jembatan antara dua dunianya sejak dia masih terlalu kecil untuk memahami apa pun.
Dan pagi itu juga, untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang dua dunia itu, seorang raja bertemu dengan penghuni lautnya sendiri.
Raja Canis Major berdiri di tepi pantai dengan bantuan tongkatnya, menatap sosok Vaza yang muncul dari dalam air dengan mata yang basah sejak duyung tua itu membungkuk memberi hormat. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut raja tua itu untuk waktu yang lama. Dia hanya berdiri di sana, di tepi laut yang sama yang sudah menjadi rumah bagi garis darah keluarganya sejak berabad-abad, menatap makhluk yang selama enam puluh tahun dia sangkal keberadaannya.
“Jadi benar,” bisiknya akhirnya, dan suaranya pecah di tengah. “Bisikan-bisikan lama itu benar semuanya. Kalian ada. Kalian selalu ada di sana, di bawah sana, menjaga laut yang sama yang sudah terlalu lama kami sangkal sebagai rumah kami sendiri.”
“Kami menjaga laut untuk semua orang, Yang Mulia,” jawab Vaza, membungkuk lebih dalam. “Termasuk untuk raja-raja yang melupakan bahwa darah mereka juga berasal dari sini. Laut tidak pernah melupakan anak-anaknya, bahkan ketika anak-anaknya melupakannya.”
Raja tua itu berlutut di pasir pantai itu, dengan susah payah, dengan dua tangan Ara yang menopangnya, dan menangis seperti seorang anak kecil di depan duyung tertua di perairan Monaghan, sementara Vaza meletakkan tangannya di puncak kepala raja itu seperti seorang ayah yang menenangkan anaknya yang sudah terlalu lama tersesat.
Dan sore itu, di tebing di atas pantai yang sama, Judas menemukannya duduk di rumput dengan lutut yang ditekuk dan tatapan yang jauh ke laut. Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya duduk di sampingnya, di rumput yang sama, dan membiarkan angin laut mengisi keheningan di antara mereka untuk waktu yang lama.
“Baron akan berada di perairan tengah dalam tiga hari,” ucap Judas akhirnya. “Kita akan mengejarnya ke sana. Dengan kapal kerajaan, dengan bukti yang sudah tersebar ke semua kerajaan sahabat, dan dengan rencana yang sudah kususun sampai ke detail terakhirnya.”
“Aku ikut,” jawab Ara, tanpa menoleh.
“Aku tidak akan berpura-pura mencoba melarangmu kali ini,” jawab Judas, dan ada sesuatu yang lembut di sudut suaranya. “Karena kita berdua tahu kau akan tetap ikut bahkan kalau aku melarangnya. Dan karena medannya adalah laut, dan laut adalah rumahmu, dan aku cukup pintar untuk tidak pergi berperang di rumah orang tanpa membawa pemilik rumahnya.”
Ara menoleh dan menatapnya. Mata Judas yang biasanya penuh dengan canda dan kesombongan itu sedang menatap laut dengan tatapan yang jauh, dan untuk sesaat, Ara melihat sesuatu yang jarang sekali muncul di sana: kelelahan yang jujur, kelelahan seorang pria yang sudah membawa terlalu banyak hal di pundaknya sejak dia berusia sembilan tahun dan tidak pernah menemukan tempat untuk meletakkannya.
“Kau lelah,” ucapnya pelan. Bukan pertanyaan.
“Sangat,” jawab Judas, tidak menyangkal, untuk sekali ini. “Tapi tidak sekarang. Aku akan lelah nanti, setelah semua ini selesai. Setelah Baron dan Kanzel membayar semuanya, setelah lautmu kembali menjadi milikmu, setelah kakekmu duduk kembali di takhtanya.” Dia menoleh dan menatapnya. “Setelah itu, aku akan mengambil jeda yang sangat panjang, di sebuah pantai, dengan tidak ada pekerjaan apa pun. Dan aku akan membutuhkan seseorang yang mengerti laut untuk menemaniku, karena aku tidak tahu cara beristirahat dan aku pasti akan sangat menyebalkan selama prosesnya.”
Ara menatapnya, dan di dadanya, sesuatu yang sudah berminggu-minggu tumbuh tanpa izinnya itu akhirnya menemukan bentuk yang bisa diucapkan, meski hanya dengan suara yang pelan.
“Kalau itu tawaran resmi untuk menjadi teman istirahatmu, Pangeran Judas, maka aku menerimanya,” jawabnya. “Dengan syarat: kau yang menyediakan kopinya, dan kau tidak diizinkan membawa satu pun map kerja.”
Judas tertawa — tawa yang lepas, tawa yang untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu terdengar seperti tawa orang yang masih berusia dua puluh delapan tahun dan bukan tawa seorang pemburu tua yang kelelahan.
“Sepakat,” jawabnya. “Dengan kata-kata. Resmi.”
Dan mereka duduk di rumput tebing itu sampai matahari turun ke laut Monaghan, berdua, dalam jeda yang singkat dan tenang, sebelum laut yang sama memanggil mereka berdua kembali ke perang yang menunggu di perairan tengah.