Kapal perang kerajaan Monaghan yang berangkat dari pelabuhan militer di sisi selatan Nemville itu tidak membawa satu pun bendera kerajaan di tiangnya, tidak tercatat di jadwal pelayaran resmi mana pun, dan tidak diumumkan kepada siapa pun di luar lingkaran kecil orang-orang yang sudah menandatangani rencana itu dengan nama mereka sendiri. Kapal tercepat yang dimiliki angkatan laut kerajaan, kapal patroli kelas elang yang biasa digunakan untuk mengejar kapal-kapal penyelundup di perairan terbuka, dan malam ini dia berlayar untuk mengejar sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari penyelundup mana pun.
Di dermaga yang sepi itu, sebelum kapal berangkat, dua orang tua berdiri berdampingan menatap kapal yang akan pergi itu dengan dua pasang mata yang sama-sama sudah melihat terlalu banyak hal dalam hidup mereka. Ratu Moana dan Raja Canis Major datang sendiri untuk melepas, tanpa protokol, tanpa pengawalan resmi, hanya dengan empat penjaga yang berdiri jauh di ujung dermaga.
“Bawa pulang mereka berdua, Jud,” ucap Ratu Moana, menggenggam lengan cucunya dengan tangan yang lebih kuat dari yang terlihat. “Bawa pulang kalian semua. Aku sudah terlalu tua untuk menghadiri satu pemakaman lagi dalam hidupku.”
“Aku akan membawa mereka pulang, Nek. Semuanya. Itu janji.” Judas mencium punggung tangan neneknya, dan untuk sesaat, di mata neneknya itu, dia melihat sesuatu yang sangat mirip dengan mata seorang ibu yang sedang melepas anaknya ke medan perang — karena itulah memang yang sedang terjadi, untuk kesekian kalinya dalam hidup mereka berdua.
Raja Canis Major tidak mengatakan apa-apa kepada Judas. Dia hanya menatap Ara lama, cucunya yang berdiri di tangga kapal dengan jaket tebalnya dan kalung liontin kerang peraknya, dan mengangguk pelan, satu kali, dengan seluruh isi hati seorang kakek yang sudah tidak bisa lagi menyembunyikan apa pun di wajahnya. Dan Ara mengangguk kembali kepadanya, dengan janji yang sama yang tidak perlu diucapkan keras-keras oleh dua orang yang sudah saling memahami sejak ruang kerja tua di sayap barat itu.
Di atas geladaknya: Judas, Ara, Josh, delapan serdadu senyap terbaik mereka, dua puluh marinir kerajaan pilihan, dan seorang kapten kapal bernama Rolan yang sudah dua puluh tahun berlayar di perairan Monaghan dan yang pernah berhutang nyawa kepada Judas di satu malam yang tidak pernah mereka bicarakan dengan siapa pun.
“Perairan tengah dalam kondisi normal butuh delapan jam dari sini,” lapor Kapten Rolan di ruang kemudi, dengan peta laut yang terbentang di depan mereka bertiga. “Tapi zona itu sedang dalam musim arus ganda, Tuan. Arus permukaan ke utara, arus bawah ke selatan, bertabrakan di tengah. Kapal-kapal besar menghindarinya di musim seperti ini. Kapal kita bisa memotong lewat jalur selatan dan tiba dalam enam jam, tapi perjalanannya tidak akan nyaman untuk orang-orang yang tidak terbiasa dengan laut kasar.”
“Kita tidak punya enam jam untuk bersantai,” jawab Judas. “Lewat jalur selatan. Dan jangan khawatirkan kenyamanan. Kami semua sudah lama tidak mengenal kata itu.”
Jam-jam pertama pelayaran itu berjalan dalam keheningan yang hanya dipecahkan oleh deru mesin dan suara ombak yang menghantam lambung. Ara menghabiskan sebagian besar waktunya di tepi geladak, berdiri dengan tangan yang memegang pagar dan mata yang tertutup, membiarkan laut berbicara kepadanya tentang zona yang sedang mereka tuju. Arus ganda di perairan tengah sudah bisa dia rasakan bahkan dari jarak berjam-jam perjalanan: dua lapisan air yang bergerak saling bertabrakan, kasar dan tidak stabil, medan yang tidak ramah bahkan untuk orang-orang yang lahir dari laut. Vaza sudah berangkat lebih dulu dengan timnya sejak kemarin, berenang tanpa henti di jalur bawah yang tidak bisa dilalui kapal mana pun.
“Kau tidak tidur sama sekali?” Suara Judas dari belakangnya, dengan dua cangkir kopi yang salah satunya sudah dia selipkan rum seperti biasa.
“Laut tidak membiarkanku tidur kalau dia sedang gelisah.” Ara menerima cangkir itu tanpa menoleh. “Dia sedang gelisah, Jud. Sudah sejak kemarin. Ada sesuatu di zona itu yang tidak dia sukai, dan dia menceritakannya kepadaku terus-menerus seperti seorang ibu yang mengomel.”
“Kalau begitu, kita akan menenangkannya bersama-sama besok,” jawab Judas, berdiri di sampingnya di pagar geladak itu, dan untuk beberapa saat mereka hanya berdiri berdua dalam keheningan yang diisi oleh suara laut yang tidak pernah berhenti berbicara.
Informasi dari bawah laut datang menjelang tengah malam, dibawa oleh Naya yang menyusul kapal itu dari sisi kanan dan naik ke geladak lewat tangga tali yang diturunkan untuknya — kemunculan seorang duyung muda basah kuyup di atas kapal perang kerajaan yang membuat separuh awak kapal berdiri mematung dengan mulut terbuka, sampai Kapten Rolan berdehem keras dan mengingatkan mereka semua bahwa di kapal ini, yang aneh adalah yang biasa.
Laporan Naya langsung ke intinya. Vaza dan para duyung sudah menemukan kapal Baron.
“Sebuah kapal besar, Putri. Bekas kapal pesiar mewah yang sudah diubah total. Tiga geladak, dengan senjata-senjata di setiap sudutnya, dan sebuah aula besar di tengahnya yang sudah ditata dengan kursi-kursi berjajar dan sebuah panggung. Kapal itu berlabuh tepat di tengah zona perairan tengah, di titik yang paling jauh dari garis kedaulatan mana pun. Dan dia tidak sendirian.” Naya menatap mereka bertiga bergantian. “Ada lima kapal lain di sekitarnya, Putri. Kapal-kapal bersenjata, berpatroli mengelilinginya siang dan malam dalam formasi lingkaran. Orang-orang di kapal-kapal itu bukan pelaut biasa. Mereka berjaga seperti tentara.”
“Tentara bayaran,” ucap Josh, mencatat. “Halvern membeli pasukan pribadi dengan uang yang sudah mereka cuci selama bertahun-tahun. Jumlah yang bisa dibayar oleh uang sebesar itu tidak kecil, Tuan.”
“Lima kapal bersenjata mengawal satu kapal induk di tengah perairan internasional.” Judas menatap peta laut itu dengan matanya yang sudah mulai menyusun medan pertarungan. “Aula besar dengan kursi-kursi berjajar dan sebuah panggung. Mereka benar-benar membangun ruang penobatan di tengah laut.”
“Penobatan apa yang sah di tengah perairan internasional?” tanya Kapten Rolan.
“Penobatan yang tidak perlu sah,” jawab Ara pelan, dan semua orang di ruang kemudi itu menoleh kepadanya. “Mereka tidak butuh takhta yang diakui. Mereka butuh sebuah peristiwa yang terekam kamera dan disiarkan ke seluruh benua: Kanzel yang dinobatkan sebagai Raja Osmod di depan para bangsawan bayaran, dengan dokumen-dokumen palsu dan upacara yang megah, dan Baron yang duduk di sisinya sebagai wali resmi kerajaan Monaghan. Setelah siaran itu keluar, mereka akan menuntut pengakuan dari kerajaan-kerajaan kecil yang bisa dibeli, satu per satu, dan perlahan-lahan mengubah kudeta menjadi fakta yang sudah terlanjur. Itu rencana mereka. Bukan merebut takhta dengan pasukan. Mencetaknya dengan siaran.”
Ruangan itu hening sejenak, hanya diisi oleh suara mesin kapal yang menderu di bawah kaki mereka.
“Kapan siarannya?” tanya Judas kepada Naya.
“Vaza mengatakan mereka menyiapkannya untuk fajar, dua hari dari sekarang. Tepat di tanggal yang tertulis di kertas gosong yang kalian temukan.”
Judas menatap arlojinya, lalu menatap peta laut itu sekali lagi, dan ketika dia mengangkat wajahnya, seringai pemburunya sudah terpasang penuh.
“Kalau begitu kita akan menjadi tamu pertama yang datang ke pesta penobatan itu,” ucapnya. “Dan kita akan datang dengan hadiah yang tidak akan pernah mereka lupakan.”