Di aula besar kapal bekas pesiar yang bernama Sovereign itu, dua pria tua berdiri berhadapan di depan jendela besar yang menghadap ke laut yang gelap, dengan dua gelas anggur di tangan mereka dan dengan persahabatan lama yang sudah lama tidak pernah benar-benar menjadi persahabatan.
Baron dan Lord Kanzel sudah saling mengenal selama tiga puluh tahun. Tiga puluh tahun bisnis gelap yang dibangun bersama dari dua sisi laut, tiga puluh tahun saling menutupi jejak masing-masing, tiga puluh tahun berpura-pura tidak mengenal satu sama lain di setiap acara resmi kerajaan yang pernah mereka hadiri bersama. Dan malam ini, untuk pertama kalinya, mereka berdiri di satu kapal yang sama sebagai dua orang yang akhirnya tidak perlu lagi berpura-pura.
“Untuk dua takhta yang sudah terlalu lama menunggu pemiliknya yang benar,” ucap Baron, mengangkat gelasnya.
“Untuk dua takhta,” jawab Kanzel, mengangkat gelasnya juga, tapi matanya tidak minum bersama senyumnya.
Mereka duduk di dua kursi besar di aula yang sudah ditata dengan puluhan kursi berjajar menghadap sebuah panggung di ujungnya. Panggung itu sudah dilengkapi dengan sebuah takhta besar berlapis emas — takhta palsu yang dibangun khusus untuk upacara besok — dengan kamera-kamera yang sudah terpasang di setiap sudut aula dan kru siaran yang sudah disiapkan oleh orang-orang Halvern sejak seminggu yang lalu.
“Semua sudah siap untuk siaran besok,” lapor Gustav Halvern dari sisi aula, dengan map di tangannya dan dengan keringat yang tidak pernah berhenti di pelipisnya sejak dia naik ke kapal ini. “Sinyal satelit sudah diuji tiga kali. Siaran akan menjangkau seluruh benua secara langsung, dan para bangsawan yang bersedia hadir sebagai saksi sudah tiba dengan kapal-kapal mereka sore ini. Dua belas nama, semuanya sudah dibayar dengan harga yang disepakati.”
“Dua belas bangsawan yang bisa dibeli.” Kanzel menyesap anggurnya dengan tatapan menghina. “Cukup untuk menjadi saksi, cukup untuk menjadi sejarah. Sejarah tidak pernah bertanya apakah saksinya dibayar atau tidak, Gustav. Sejarah hanya bertanya siapa yang menulisnya.”
Dua belas bangsawan itu tiba sore harinya dengan tiga kapal kecil yang merapat satu per satu ke sisi Sovereign, dan Gustav menyambut mereka di tangga kapal dengan senyum yang sudah dia poles sepanjang pagi. Mereka adalah sisa-sisa dari keluarga-keluarga tua yang sudah kehabisan segalanya kecuali gelar mereka: adipati-adipati tanpa tanah, baron-baron tanpa kastil, bangsawan-bangsawan generasi keempat yang satu-satunya warisan yang tersisa adalah nama besar dan tagihan-tagihan yang tidak pernah lunas. Orang-orang yang paling mudah dibeli di seluruh benua, karena satu-satunya hal yang mereka miliki untuk dijual adalah kehadiran mereka di depan kamera, dan Kanzel membutuhkan tepat dua belas kehadiran seperti itu di barisan saksi upacara penobatannya besok fajar.
Di antara mereka, seorang adipati tua bernama Vestermark berdiri paling depan, dengan tongkat berhias perak dan hidung yang selalu terangkat sedikit lebih tinggi dari seharusnya. Dia adalah nama terbesar dari dua belas nama itu, dan harganya juga yang paling mahal: satu posisi menteri di pemerintahan baru yang dijanjikan Kanzel, ditambah pembayaran tunai yang cukup untuk melunasi tiga generasi utang keluarganya.
“Yang Mulia Lord Kanzel,” ucapnya dengan bungkukan yang megah, ketika mereka berjabat tangan di aula. “Suatu kehormatan untuk menjadi bagian dari sejarah besar ini.”
“Sejarah selalu menghargai orang-orang yang datang tepat waktu, Adipati,” jawab Kanzel dengan senyumnya yang hangat dan kosong.
“Dan setelah siaran itu, kita mulai mengirimkan dokumen pengakuan ke kerajaan-kerajaan kecil,” sambung Gustav. “Vestra, Marmad, Confeg, seluruh yang sudah kita petakan kebutuhan finansialnya. Dalam satu bulan, kita akan punya cukup pengakuan untuk membuat Monaghan dan Osmod yang lama tidak bisa berkutik di meja internasional mana pun.”
Baron berdiri dan berjalan ke arah panggung itu, menaiki tiga anak tangganya, dan berdiri di samping takhta emas palsu itu dengan tangannya menyentuh sandarannya pelan, seperti orang yang sedang memeriksa apakah benda itu akan bertahan cukup lama untuk satu hari pemotretan.
“Kau yakin rencana siaran ini akan cukup, Kanzel?” tanyanya tanpa berbalik. “Moana masih duduk di takhta Monaghan, dan Canis Major masih bernapas di bawah perlindungannya. Dua raja yang sah melawan satu siaran yang dibuat-buat.”
“Dua raja yang sah tanpa istananya, Baron.” Kanzel berdiri dan menghampirinya ke panggung itu. “Kekuasaan bukan tentang siapa yang sah. Kekuasaan adalah tentang siapa yang dilihat oleh dunia sedang memegang kekuasaan. Canis Major lari dari istananya seperti pencuri di malam hari. Moana bersembunyi di istananya sambil mencari-cari pengkhianat di setiap sudutnya. Dan besok fajar, dunia akan melihat dua raja baru berdiri di atas panggung ini dengan dua belas bangsawan di belakang mereka dan laut internasional di sekeliling mereka. Dari dua gambar itu, gambar mana yang akan dipilih oleh kerajaan-kerajaan kecil yang sedang lapar? Kerajaan yang terlihat kuat selalu menang melawan kerajaan yang terlihat benar, Baron. Itu pelajaran pertama yang kamu ajarkan kepadaku tiga puluh tahun yang lalu.”
Baron menatapnya lama, dan untuk sepersekian detik, sesuatu yang dingin lewat di antara dua pria tua itu — kesadaran bersama bahwa dua orang yang berbagi satu rencana besar tidak akan pernah bisa berbagi satu takhta yang sama, dan bahwa hari perhitungan tentang hal itu akan datang suatu hari nanti, setelah hari-hari pertama yang manis ini berlalu.
Tapi bukan hari ini. Hari ini, mereka masih membutuhkan satu sama lain.
“Dan Judas?” tanya Baron akhirnya. “Kau yakin dia tidak akan menemukan kita di sini?”
“Dia bahkan tidak tahu perairan tengah ada di dalam kamusnya.” Kanzel tersenyum, senyum yang penuh dengan keyakinan orang yang sudah terlalu lama tidak pernah salah hitung. “Kita berada di luar jangkauan hukum dua kerajaan, di luar jalur patroli mana pun, di tengah arus ganda yang tidak akan dilalui oleh kapal kerajaan mana pun di musim seperti ini. Tidak ada satu pun kapal di benua ini yang cukup bodoh untuk memasuki zona ini di musim arus ganda, Baron. Percayalah. Aku sudah berlayar di perairan ini sebelum kau belajar berjalan.”
Baron mengangguk pelan, menatap ke luar jendela besar ke arah laut yang gelap dan berombak kuat di luar sana.
“Kalau begitu, untuk besok,” ucapnya, mengangkat gelasnya sekali lagi.
“Untuk besok,” jawab Kanzel.
Dan di bawah mereka, jauh di dalam perut kapal tua itu, air laut berdesir pelan di sepanjang lambungnya seperti sesuatu yang sedang mendengarkan, sesuatu yang sudah lama menunggu, sesuatu yang dua pria tua itu bahkan tidak pernah memperhitungkan keberadaannya di dalam semua rencana mereka yang sudah disusun dengan sangat teliti itu.