Kapal perang Monaghan itu berhenti di tepi zona perairan tengah menjelang fajar, di luar jangkauan radar kapal-kapal bayaran, tersembunyi di balik tirai hujan kecil dan ombak arus ganda yang membuat setiap kapal di sekitarnya terlihat seperti tidak lebih dari bayangan yang bergoyang-goyang di layar radar.
Ara berdiri di tepi geladak dengan pakaian selamnya yang sudah terpasang, dengan kalung liontin kerang peraknya yang sudah dia simpan di dalam pakaiannya, dan dengan tatapan yang sudah mulai berubah menjadi tatapan yang hanya dimilikinya ketika dia sedang bersiap untuk turun ke rumahnya yang satu lagi.
“Lima kapal bayaran berpatroli dalam formasi lingkaran dengan jarak dua ratus meter antar kapal,” ucapnya, mengulangi data dari Vaza sekali lagi untuk semua orang di ruang kemudi. “Kapal induk di tengahnya, dengan aula penobatan di geladak kedua. Siaran mereka dijadwalkan tepat saat matahari terbit. Dan di bawah semua kapal itu, Vaza dan dua puluh duyung sudah menunggu di kedalaman, siap bergerak kapan pun kita bergerak.”
Judas berdiri di sampingnya dengan rencana yang sudah dia susun dan bongkar dan susun lagi sepanjang malam di kepalanya.
“Serangan langsung dengan dua puluh marinir melawan lima kapal bersenjata penuh tentara bayaran adalah bunuh diri,” ucapnya, dan tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang membantahnya. “Jadi kita tidak akan menyerang dari luar. Kita akan melumpuhkan mereka dari dalam, dari bawah, dari arah yang tidak pernah mereka jaga. Tiga sasaran, tiga gerakan bersamaan, semuanya selesai sebelum fajar.”
Dia menunjuk titik-titik di peta kapal yang terbentang di meja kemudi.
“Sasaran pertama: mesin-mesin kapal. Semua kapal di formasi itu harus lumpuh pada saat yang sama, supaya tidak ada satu pun dari mereka yang bisa mengejar atau melarikan diri ketika pasukan gabungan tiba. Sasaran kedua: antena siaran di kapal induk. Siaran penobatan itu tidak boleh keluar dari kapal itu, apa pun yang terjadi. Dan sasaran ketiga: aula penobatan itu sendiri. Aku akan naik ke sana dengan tim boarding tepat ketika kekacauan dimulai, dan aku akan menangkap Baron dan Kanzel di atas panggung mereka sendiri, di depan kamera-kamera mereka sendiri, sebelum satu pun gambar palsu itu sempat menghiasi layar televisi di benua ini.”
Dia berhenti, dan matanya beralih ke Ara.
“Dan untuk dua sasaran pertama, aku membutuhkan laut bekerja untuk kita. Aku membutuhkanmu.”
Kapten Rolan membentangkan peta taktis kedua di meja kemudi, peta detail lambung kapal Sovereign yang sudah mereka susun dari informasi Naya dan laporan-laporan duyung selama dua hari terakhir. Titik-titik merah menandai posisi antena siaran, ruang mesin, dan aula penobatan di geladak kedua.
“Tim boarding akan naik dari geladak belakang, di sisi yang paling jauh dari lampu-lampu pengawas,” lanjut Rolan, menelusuri jalur serangnya dengan ujung jari. “Dua perahu karet cepat, dua belas orang. Begitu mesin-mesin kapal bayaran mati, kita punya jendela sekitar empat puluh menit sebelum mereka berhasil memperbaiki atau mengganti sistemnya. Empat puluh menit untuk naik, menguasai aula, dan menahan semua orang di dalamnya.”
“Dan begitu tim boarding kita bergerak, kapal-kapal gabungan muncul dari tiga arah,” tambah Josh, menunjuk tiga titik di horizon peta. “Monaghan dari selatan, Vestra dari timur, Marmad dari barat. Mereka sudah berlayar sejak kemarin malam dengan surat resmi dari dua raja yang sah dan bukti lengkap di setiap ruang kemudinya. Tentara bayaran tidak akan melawan gabungan angkatan laut lima kerajaan, Tuan. Mereka akan menyerah begitu melihat formasi itu di horizon.”
“Tidak.”
Jawaban itu datang bukan dari Ara, tapi dari Josh, yang berdiri di sisi ruangan dengan wajah yang sudah mengambil keputusan sebelum Judas selesai berbicara.
“Tuan. Nona Ara turun ke perairan tengah yang arusnya sedang ganda, sendirian, di tengah malam, di bawah lima kapal bersenjata yang penuh dengan tentara bayaran. Itu bukan rencana. Itu pengorbanan. Dan saya sudah cukup lama bekerja untuk Tuan untuk tahu bahwa Tuan tidak pernah mengorbankan orang-orang yang dia lindungi. Tidak pernah.”
Ruangan itu hening sejenak. Judas menatap Josh dengan tatapan yang tajam, dan Josh menatapnya kembali tanpa menunduk, seperti biasa, seperti selalu.
“Josh benar,” ucap Ara pelan, dan semua mata beralih kepadanya. “Aku tidak akan turun sendirian. Aku akan turun dengan Vaza, dengan Naya, dengan dua puluh duyung yang sudah menunggu di bawah sana, dan dengan laut yang sudah menjadi rumahku sejak aku lahir. Kau mengatakan kau butuh laut bekerja untukmu, Jud? Laut sudah bekerja untukmu sejak malam dia menarikmu keluar dari mobil yang tenggelam itu. Dia hanya menunggu perintah dari orang yang dia percayai.”
Judas menatapnya lama, sangat lama, dan untuk sekali ini tidak ada satu pun kalimat larangan yang keluar dari mulutnya. Karena dia tahu Ara benar, dan karena dia sudah belajar bahwa melarang laut untuk bergerak adalah pekerjaan orang bodoh.
“Tapi dengan satu syarat, dan ini tidak bisa ditawar,” ucapnya akhirnya. “Kau tidak melakukan apa pun sendirian di bawah sana. Vaza memimpin gerakan bawah air, dan kau tetap dalam jangkauan perlindungannya setiap detik. Dan begitu mesin-mesin itu mati, kau keluar dari air dan kembali ke kapal ini. Tidak ada pahlawan tambahan di bawah sana, Ara. Tidak malam ini. Aku membutuhkanmu di atas kapal ini ketika aku naik ke aula itu, karena aku tidak akan masuk ke sarang mereka tanpa mengetahui bahwa ada seseorang di luar yang bisa memanggil laut kalau semuanya berjalan salah.”
Ara menatapnya, dan ada sesuatu yang hangat dan berbahaya yang bergerak di dadanya ketika dia menyadari bahwa pria ini tidak sedang melarangnya karena meremehkannya. Pria ini sedang melarangnya karena dia tidak sanggup membayangkan kehilangannya.
“Sepakat,” jawabnya pelan. “Dengan kata-kata. Resmi.”
Setelah ruang kemudi itu kosong dan hanya tersisa mereka berdua, Josh berdiri di sisi Judas untuk waktu yang lama tanpa mengatakan apa-apa, dengan matanya yang mengikuti sosok Ara yang sedang bersiap di tepi geladak.
“Tuan mengirimkan orang yang paling Tuan lindungi ke tempat yang paling berbahaya dalam rencana ini,” ucapnya akhirnya, pelan, hanya untuk mereka berdua. “Itu bukan keputusan Tuan yang biasa.”
“Itu satu-satunya keputusan yang tersisa, Josh.” Judas menatap ke arah geladak itu tanpa berbalik. “Aku sudah menghitung semua jalannya dua puluh kali sejak kemarin, dan setiap jalur yang tidak melibatkan laut berakhir dengan orang-orang kita mati di atas kapal mereka. Dia satu-satunya yang bisa masuk ke bawah sana dan keluar lagi hidup-hidup. Aku tidak mengirimnya ke bahaya. Aku mengirimnya ke satu-satunya tempat di medan ini di mana dia lebih kuat dari semua orang yang ada di sini digabungkan.”
“Dan kalau sesuatu terjadi padanya di bawah sana?”
Judas diam untuk waktu yang lama, dan ketika dia menjawab, suaranya sudah berubah menjadi sesuatu yang bahkan Josh jarang mendengarnya.
“Kalau sesuatu terjadi padanya di bawah sana, maka aku akan mengeringkan perairan tengah sampai ke dasarnya untuk menemukannya, Josh. Dan aku tidak sedang berbicara secara kiasan.”
Fajar masih dua jam lagi ketika Ara melompat dari sisi geladak ke dalam air yang gelap dan kasar, menghilang ke dalam laut arus ganda tanpa satu suara pun, dan kapal perang Monaghan itu mulai bergerak maju dalam kegelapan menuju formasi lima kapal bayaran yang bahkan belum menyadari bahwa perang sudah datang ke perairan mereka dari dua arah: dari atas, dan dari bawah.