Di bawah permukaan perairan tengah yang kasar, dunia berubah menjadi sesuatu yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh orang-orang yang hidup di daratan.
Arus ganda itu terasa bahkan dari kedalaman sepuluh meter: dua lapisan air yang bergerak ke dua arah yang berlawanan, menarik dan mendorong tubuh pada saat yang bersamaan, seperti dua tangan raksasa yang sedang berebut sesuatu di dalam air. Bagi perenang biasa, zona itu adalah kematian yang menunggu dengan sabar. Bagi Ara, yang bergerak di dalamnya dengan gerakan yang tidak memerlukan tenaga manusia sama sekali, arus ganda itu hanyalah tangga yang berputar ke arah yang salah — menyebalkan, tapi bisa dilalui kalau kau tahu cara memintanya dengan baik.
Vaza sudah menunggu di kedalaman tiga puluh meter dengan Naya dan dua puluh duyung lainnya, membentuk lingkaran yang longgar di bawah formasi kapal-kapal bayaran itu. Dari bawah sana, lambung-lambung besi itu tampak seperti perut-perut raksasa yang menggantung di atas mereka, dengan baling-baling yang berputar lambat dan lampu-lampu sonar yang menyapu kegelapan air dengan berkas-berkas cahaya yang tidak pernah berhenti bergerak.
“Kapal induk di tengah,” ucap Vaza, suaranya yang bergema di dalam air dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh penghuni laut. “Antena siarannya ada di tiang belakang, di sisi kanan. Mesin utamanya di bagian tengah lambung, dijaga oleh dua penyelam bersenjata yang berpatroli mengelilinginya setiap sepuluh menit. Mereka bukan orang-orang sembarangan, Putri. Mereka melengkapi diri mereka dengan peralatan selam militer.”
“Lima kapal bayaran di sekelilingnya, masing-masing dengan dua mesin,” tambah Naya. “Aku sudah menghitungnya dua kali. Sepuluh mesin yang harus mati bersamaan, atau mereka akan saling menarik satu sama lain dengan kapal cadangan.”
Ara menatap lambung-lambung raksasa itu dari kedalaman, merasakan setiap getaran mesin yang menjalar melalui air ke tubuhnya, membaca setiap arus yang bergerak di sekitar kapal-kapal itu seperti orang lain membaca peta.
“Kita tidak mematikan sepuluh mesin dengan tangan,” ucapnya, dan rencana yang sudah dia susun sejak di kapal itu keluar dengan tenang. “Kita mematikan mereka dengan lautnya sendiri. Vaza, bawa separuh timmu ke kapal-kapal bayaran di sisi timur, sisanya ke sisi barat. Bukan merusak mesinnya — menyumbat saluran air pendinginnya dengan jaring-jaring rumput laut tebal. Perlahan, diam-diam, satu per satu. Mesin-mesin itu akan terus berputar sampai suhu di dalamnya naik perlahan dan sistem pengaman mereka mematikannya sendiri. Tidak ada ledakan, tidak ada suara, tidak ada yang menyadari apa pun sampai semuanya sudah terlambat.”
Vaza menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan pengakuan. “Seperti yang diajarkan oleh ibumu dulu. Persis sama.”
“Dia mengajariku banyak hal tanpa pernah sempat mengajariku dengan kata-kata,” jawab Ara pelan. “Bergeraklah. Kita punya waktu satu jam sebelum fajar.”
Tim-tim duyung itu menyebar ke dua arah seperti bayangan-bayangan yang bergerak di dalam bayangan, membawa gulungan-gulungan rumput laut tebal yang sudah mereka siapkan sejak kemarin, menuju ke baling-baling dan saluran-saluran air di lambung-lambung kapal bayaran itu. Ara dan Vaza bergerak ke arah kapal induk, mendekat dari bawah, menjaga diri mereka di dalam arus bawah yang bergerak ke selatan supaya tubuh mereka tidak terlihat oleh lampu-lampu sonar yang menyapu dari atas.
Antena siaran itu terlihat dari bawah sebagai sebuah tiang besi yang menjulang dari geladak belakang, dengan kabel-kabel tebal yang turun menembus lambung kapal ke ruang mesin di dalamnya. Memutus antenanya dari luar tidak mungkin tanpa terlihat. Tapi Ara tidak perlu memutusnya dari luar.
“Air masuk ke mana-mana di kapal sebesar ini,” bisiknya kepada Vaza, berenang mendekat ke lambung kapal induk dan menempelkan tangannya di permukaan besinya yang dingin. “Lewat sambungan-sambungan, lewat lubang-lubang pendingin, lewat celah-celah terkecil di bawah garis airnya. Dan aku bisa memanggil air itu dari dalam, Vaza. Aku bisa memintanya bergerak ke tempat-tempat yang seharusnya tidak dia datangi.”
Dia memejamkan matanya dan merasakan air di dalam kapal itu — air di pipa-pipa pendingin, air di saluran-saluran teknis, air di setiap celah lambung tua itu. Dan dia mulai memanggilnya, perlahan, setetes demi setetes, membimbingnya ke arah ruang-ruang di dalam kapal tempat kabel-kabel siaran itu berjajar rapi di sepanjang dindingnya.
Air yang menembus ruang kabel tidak perlu banyak untuk membuat seluruh sistem siaran sebuah kapal menjadi tidak berguna.
Pekerjaan itu berjalan sepuluh menit, dua puluh menit, dengan keringat yang mulai bercampur dengan air laut di wajah Ara, dengan kekuatan yang terus terkuras dari tubuhnya setetes demi setetes seperti air yang dia gerakkan. Dan saat itulah, alarm itu datang — bukan alarm berbunyi, tapi alarm yang menjalar melalui air dari tubuh Naya yang berenang mendekat dengan kecepatan penuh dari arah kapal-kapal bayaran.
“Putri! Satu penyelam bayaran melihat tim kami di kapal ketiga! Mereka sudah menjatuhkan dua penyelam lagi ke air dengan senjata, dan mereka memanggil semua kapal untuk siaga penuh!”
Ara membuka matanya. Di kejauhan, di bawah kapal-kapal bayaran itu, lampu-lampu sonar yang tadinya menyapu dengan irama yang teratur mulai bergerak dengan cepat dan tidak berpola — lampu-lampu panik yang sedang mencari sesuatu di dalam air yang gelap.
“Berapa banyak yang sudah selesai?” tanyanya kepada Vaza dengan suara yang tetap tenang meski jantungnya sudah berpacu.
“Empat kapal bayaran sudah tersumbat penuh. Yang kelima baru separuh. Dan pekerjaanmu di kapal induk sudah cukup untuk membuat antena itu tidak berguna, Putri. Air sudah masuk ke ruang kabel mereka.”
“Empat dari lima cukup. Yang kelima tidak akan pergi jauh dengan mesin separuh.” Ara menatap ke arah lampu-lampu sonar yang bergerak makin cepat di sekitar mereka, menghitung jarak, menghitung waktu, menghitung harga yang harus dia bayar untuk membawa semua orang keluar dari sana hidup-hidup. “Vaza, bawa semua tim ke kedalaman lima puluh meter dan tahan diri di sana. Naya, ikut aku. Kita akan memberi mereka sesuatu yang lain untuk dilihat oleh lampu-lampu sonar itu.”
“Putri, kekuatanmu—”
“Empat menit, Vaza. Aku hanya butuh empat menit. Setelah itu, aku milikmu untuk dibawa pulang dalam keadaan apa pun.”
Dan Ara berenang ke arah cahaya-cahaya sonar itu, langsung ke tengah-tengahnya, dengan kedua tangannya yang mulai terentang di dalam air, dan memanggil arus ganda itu sendiri untuk datang dan bermain.
Dua penyelam bayaran yang sudah turun ke dalam air dengan senjata harpun di tangan mereka tidak pernah sempat melihat apa yang menghantam mereka. Arus bawah yang tadinya bergerak ke selatan tiba-tiba berputar dan berubah arah menjadi dinding air yang bergerak ke atas, menghantam mereka berdua dengan kekuatan yang melemparkan mereka jauh dari kapal-kapal mereka, melilitkan senjata-senjata mereka dalam pusaran yang membuat alat-alat itu tidak berguna, dan mendorong mereka kembali ke permukaan dengan paksa yang tidak menyisakan satu pun keinginan untuk turun lagi.
Lampu-lampu sonar di atas sana bergerak makin panik, menyapu ke segala arah, mencari sesuatu yang tidak bisa mereka lihat karena Ara sudah tidak ada di tempatnya lagi. Dia sudah bergerak ke bawah, ke kedalaman lima puluh meter, ke dalam pelukan Vaza yang sudah menunggu dengan tim yang sudah lengkap, dengan tubuh yang sudah sepenuhnya lelah sampai ke tulang-tulangnya, dengan senyum kecil yang lelah di wajahnya yang basah.
“Selesai,” bisiknya, hampir tidak terdengar bahkan di dalam air. “Empat kapal mati, satu lumpuh, satu antena basah. Pekerjaan rumah selesai, Vaza. Sekarang bawa aku pulang.”
Dan duyung tertua itu membawanya berenang ke arah kapal perang Monaghan yang sudah mendekat dalam kegelapan, dengan tim duyung yang membentuk formasi pelindung di sekeliling mereka, sementara di atas permukaan, fajar pertama mulai menyentuh ujung langit perairan tengah — dan Judas sudah menunggu dengan tim boarding-nya, dengan pistol yang sudah terisi, dengan seringai pemburu yang sudah siap untuk menagih.