Serangan itu datang tepat sebelum matahari terbit, dari dua arah yang tidak pernah dijaga oleh siapa pun di dalam formasi lima kapal bayaran itu.
Dari atas: dua perahu karet cepat yang membawa tim boarding Judas dan dua belas marinir kerajaan, mendekat dari sisi belakang kapal induk dalam kegelapan sisa malam, tanpa lampu, tanpa suara, dengan mesin-mesin yang dimatikan lima ratus meter sebelum sasaran dan didayung dengan tangan-tangan yang sudah terlatih untuk tidak berisik.
Dari bawah: laut itu sendiri, yang tiba-tiba berubah menjadi medan yang tidak bersahabat bagi siapa pun yang bukan teman dari gadis yang sedang berbaring lelah di dalam kapal perang di kejauhan, dijaga oleh Josh dan Vaza yang menolak meninggalkan sisinya bahkan untuk satu detik pun.
Empat kapal bayaran yang saluran pendinginnya sudah tersumbat rumput laut mendapati mesin-mesin mereka mati satu per satu oleh sistem pengaman otomatis mereka sendiri, tepat pada saat yang paling buruk yang bisa dibayangkan. Kapal kelima, yang hanya separuh tersumbat, berusaha bergerak maju dengan mesin separuhnya — dan mendapati arus di sekitarnya berubah menjadi sesuatu yang mendorongnya terus menjauh dari kapal induk, seperti ditolak oleh air yang sudah memilih pihak.
Tim boarding naik ke geladak belakang kapal induk Sovereign dengan kait-kait yang tidak bersuara, dan pertarungan pertama meletus di lorong-lorong geladak bawah dengan cepat dan brutal. Tentara-tentara bayaran di dalam kapal itu bagus, tapi mereka bertarung untuk uang, dan orang-orang yang bertarung untuk uang tidak pernah bisa menandingi orang-orang yang bertarung untuk sesuatu yang mereka bawa di dalam dada mereka.
“Tim dua, tahan lorong kiri! Tim tiga, tutup tangga ke geladak bawah! Tidak ada satu pun yang keluar dari kapal ini!” perintah Judas di tengah bunyi pertarungan, bergerak maju dari lorong ke lorong dengan pistol di tangannya dan serdadu-serdadu yang bergerak di sisinya seperti satu organisme yang hidup.
Di luar, di horizon yang mulai terang oleh fajar, bentuk-bentuk kapal-kapal patroli gabungan dari Monaghan dan kerajaan-kerajaan sahabat mulai muncul satu per satu dari tirai hujan — kapal-kapal yang sudah berlayar sejak kemarin malam dari tiga arah yang berbeda, dijadwalkan untuk tiba tepat saat fajar, dipanggil oleh bukti-bukti yang sudah tersebar ke seluruh benua dan oleh nama dua raja yang sah yang berdiri di belakang operasi ini.
Tentara-tentara bayaran di kapal-kapal mati itu melihatnya juga. Dan satu per satu, dari kapal ke kapal, senjata-senjata mereka mulai turun ke geladak, karena tidak ada satu pun bayaran di dunia ini yang cukup untuk menghadapi gabungan angkatan laut lima kerajaan di tengah perairan internasional.
Tapi di dalam kapal induk, di aula besar penobatan di geladak kedua, perang masih jauh dari selesai.
Judas menerobos pintu ganda aula itu dengan empat serdadu di belakangnya, dan pemandangan yang menyambutnya berhenti sejenak di depan matanya: takhta emas palsu di atas panggung, kamera-kamera yang masih menyala, dua belas bangsawan bayaran yang berdiri membeku di kursi-kursi mereka, dan di tengah panggung itu, dua pria tua yang berdiri berdampingan dengan wajah yang sudah tidak lagi menyembunyikan apa-apa.
Baron dan Lord Kanzel.
“Keponakanku yang tercinta,” ucap Baron, dan suaranya terdengar tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang sedang berdiri di tengah kekalahan. “Kau datang tepat waktu untuk menyaksikan sejarah. Sayang sekali kau datang dengan pistol di tangan. Itu sangat tidak sopan, bahkan untuk ukuranmu.”
“Turun dari panggung itu, Baron. Pelan-pelan, dengan tangan di atas kepala.” Suara Judas datar dan dingin, dengan pistol yang terarah tepat ke tengah dada pria tua itu. “Permainannya sudah selesai. Pasukan gabungan sudah mengepung zona ini dari semua arah, kapal-kapalmu mati semua, dan kedua rajamu yang sah sedang menunggu di Monaghan untuk menyaksikan pengadilanmu.”
“Pengadilanku?” Baron tertawa kecil, dan matanya bergeser sekilas ke arah Kanzel di sisinya. “Kau mendengarnya, Kanzel? Bocah itu ingin membawaku ke pengadilan. Bocah yang membunuh ayahnya sendiri ketika dia berusia sembilan tahun dan memakan wanita-wanita yang mengkhianatinya untuk serigala peliharaannya. Bocah itu, yang berdiri di sana sekarang sebagai jaksa dan hakim untuk kita berdua.”
Judas tidak bergerak sedikit pun. Tangannya tidak bergetar. Matanya tidak meninggalkan mata Baron.
“Perbedaan antara aku dan kau, Baron, adalah bahwa aku tidak pernah berpura-pura menjadi orang baik,” jawabnya. “Dan aku tidak akan membunuhmu hari ini, betapa pun setiap serat di tubuhku menginginkannya, karena kau akan dihukum oleh hukum dan bukan oleh tanganku. Itu janjiku kepada nenekku, dan aku tidak pernah melanggar janjiku. Turun. Sekarang.”
Kanzel bergerak lebih dulu. Bukan ke depan, bukan menyerah — ke samping, ke arah panel kontrol siaran di sisi panggung, dengan kecepatan yang mengejutkan untuk pria seusianya. Tapi dua serdadu sudah bergerak lebih cepat, menghentikannya dengan moncong-moncong senjata yang terarah ke wajahnya sebelum jarinya sempat menyentuh satu tombol pun.
“Jangan,” ucap Judas pelan. “Satu gerakan lagi ke arah panel itu, Kanzel, dan aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa menandatangani apa pun lagi dengan dua tanganmu. Aku sudah memiliki bukti tanda tanganmu di dokumen-dokumen ilegalmu, jadi aku tahu persis betapa berharganya dua tangan itu bagimu.”
Kanzel berdiri kaku di tempatnya, dan untuk pertama kalinya sejak malam kudeta di istana Osmod, wajahnya kehilangan senyumnya sepenuhnya.
Baron menatap ke sekeliling aula itu: ke kamera-kamera yang sudah tidak berguna, ke bangsawan-bangsawan bayaran yang sudah berdiri dengan tangan di atas kepala, ke Kanzel yang sudah tertahan, ke serdadu-serdadu yang sudah menguasai setiap pintu. Dan kemudian dia bertepuk tangan. Perlahan. Tiga kali. Dengan senyum yang lebar dan tulus.
“Bagus, keponakanku. Sangat bagus. Kau menangkapku di atas panggungku sendiri, di depan kamera-kameraku sendiri, dengan pasukan gabungan di luar sana dan bukti yang cukup untuk menenggelamkanku tiga kali.” Baron menurunkan tangannya dan menggeleng pelan, masih dengan senyum yang sama. “Aku kalah. Aku mengakuinya. Aku sudah menunggu empat puluh tahun untuk takhta itu, dan kau meruntuhkannya dalam tiga bulan dengan bantuan seorang gadis dari laut dan sebuah buku besar tua. Ini bukan kekalahan yang memalukan, Judas. Ini kekalahan yang bersejarah.”
“Berhenti bicara dan turun,” perintah Judas, tapi ada sesuatu di nada suara Baron yang membuatnya tidak menurunkan kewaspadaannya sedikit pun.
“Tapi kau membuat satu kesalahan kecil, keponakanku. Satu kesalahan yang sama yang selalu kau buat sejak kau masih kecil.” Baron menurunkan tangannya perlahan ke dalam jubahnya, dan empat pistol langsung terarah ke jantungnya dalam satu gerakan serentak — tapi dia tidak mengeluarkan senjata. Dia mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk persegi dengan sebuah tombol merah di tengahnya, dan mengangkatnya setinggi wajahnya.
“Kau selalu bergerak maju tanpa pernah bertanya apa yang kumiliki di tanganku,” ucap Baron, dan senyumnya akhirnya sampai ke matanya yang dingin. “Kapal ini membawa cukup bahan peledak di lambungnya untuk mengangkat kita semua ke udara dalam hitungan detik. Tombol di tanganku ini terhubung langsung ke semuanya. Jadi sekarang, keponakanku yang cerdas, kita akan bernegosiasi dengan cara yang jauh lebih menarik: kau dan pasukanmu mundur dari kapal ini dengan damai, atau kita semua menjadi berita utama di seluruh benua besok pagi — dengan cara yang sangat, sangat berbeda.”
Aula itu membeku. Tidak ada satu pun orang yang bergerak, bernapas, atau berkedip.
Dan di atas kapal perang di kejauhan, di dalam ruang kemudi, Ara membuka matanya dengan jantung yang tiba-tiba berdegup kencang, merasakan sesuatu di dalam air di sekitar kapal induk itu yang seharusnya tidak ada di sana — getaran-getaran kecil yang menjalar dari lambungnya, getaran benda-benda berbahaya yang menunggu satu sentuhan untuk meledak.
“Josh,” bisiknya, sudah berdiri dengan seluruh kekuatan yang tersisa di tubuhnya. “Kapal itu penuh dengan bahan peledak. Dan Judas ada di dalamnya.”