Aula penobatan itu membeku dengan sebuah tombol merah yang terangkat setinggi wajah, dan di dalam kebekuan itu, otak Judas bergerak lebih cepat dari yang pernah dia lakukan dalam hidupnya.
Bahan peledak di lambung kapal. Detonator di tangan Baron. Empat belas orang di dalam ruangan ini — empat serdadunya, dua belas bangsawan bayaran yang sudah tidak berguna bagi siapa pun, dan dua pria tua yang salah satunya sedang menggenggam nyawa semua orang di dalam genggamannya. Di luar, dua puluh marinir di geladak-geladak bawah, dan di kejauhan, sebuah kapal perang yang di dalamnya ada satu-satunya orang yang tidak boleh kehilangan nyawanya malam ini dengan alasan apa pun.
Dan Baron sedang menatapnya dengan senyum orang yang sudah mengetahui semua hitungan itu sejak awal.
“Jangan bergerak,” ucap Judas kepada serdadu-serdadunya, tanpa memalingkan pistolnya dari jantung Baron, dengan suara yang dia jaga tetap datar meski setiap serat di tubuhnya sedang berteriak. “Semua tetap di tempat kalian. Tidak ada yang bergerak tanpa perintahku.”
“Bijaksana sekali.” Baron menurunkan tangannya sedikit, tapi ibu jarinya tetap mengambang tepat di atas tombol merah itu. “Sekarang, keponakanku, kita bernegosiasi. Pasukanmu mundur dari kapal ini. Kapal-kapal gabungan di luar sana mundur ke luar zona perairan tengah. Dan aku serta Lord Kanzel berlayar pergi ke arah yang tidak akan pernah kalian ketahui, dengan kapal yang sudah kusiapkan di geladak bawah. Semua orang hidup. Semua orang bahagia. Dan kalian bisa pulang ke Monaghan dan menceritakan kepada nenekmu bahwa kau sudah berusaha sebaik mungkin.”
“Kau tidak akan menekan tombol itu, Baron,” ucap Judas pelan.
“Oh?” Alis Baron terangkat. “Kau begitu yakin?”
“Aku mengenalmu lebih lama dari kau mengenal dirimu sendiri.” Judas melangkah satu langkah maju, dan dia melihat ibu jari Baron menegang di atas tombol itu — bagus, berarti pria tua itu masih menghitung, dan orang yang masih menghitung adalah orang yang masih bisa diajak berbicara. “Kau menghabiskan empat puluh tahun menyusun takhta untuk dirimu sendiri. Empat puluh tahun, Baron. Kau pikir aku percaya bahwa kau akan mengakhiri semuanya di dalam ruangan ini, di tengah laut, tanpa mahkota, tanpa takhta, tanpa satu pun orang yang akan mengingat namamu setelah seminggu? Orang yang menggenggam tombol bunuh diri adalah orang yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk diperjuangkan. Dan kau masih punya segalanya untuk diperjuangkan. Kau selalu punya.”
Senyum Baron tidak berubah, tapi ada sesuatu yang bergeser di belakang matanya. Sangat kecil, sangat halus, tapi Judas menangkapnya — karena Judas sudah menghabiskan seluruh hidupnya menangkap hal-hal seperti itu di wajah orang-orang yang sedang berbohong tentang seberapa berani mereka.
“Kau berjudi dengan nyawa empat belas orang di ruangan ini, keponakanku,” ucap Baron, tapi nada suaranya sudah kehilangan satu lapis kepastiannya.
“Bukan aku yang berjudi. Aku hanya membaca kartumu.” Judas melangkah satu langkah maju lagi. “Dan ada satu hal lagi yang kau lupa hitung, Baron. Lord Kanzel yang berdiri di sampingmu itu. Kau yakin dia akan dengan senang hati mati bersamamu hari ini? Kau yakin dia mengetahui tombol itu sejak awal, atau kau baru memberitahunya sekarang, bersamaan dengan kami semua?”
Mata Baron bergeser sekilas ke arah Kanzel — sekilas saja, sekejap saja — tapi cukup untuk membenarkan hitungan Judas. Kanzel tidak tahu tentang bahan peledak itu. Wajah pria tua berjubah gelap itu sudah kehilangan seluruh warnanya sejak detonator itu terangkat, dan matanya sudah tidak lagi menatap Judas atau serdadu-serdadu itu. Matanya hanya menatap satu benda: tombol merah di tangan Baron, yang bisa mengangkatnya ke udara bersama sekutu yang sudah tiga puluh tahun menjadi tangannya di kerajaan sebelah.
“Baron,” ucap Kanzel, dan suaranya keluar dengan nada yang belum pernah didengar siapa pun dari mulutnya: nada orang yang baru saja menyadari bahwa dia bukan mitra, melainkan bahan bakar. “Katakan padaku bahwa kau tidak merencanakan ini tanpa sepengetahuanku.”
“Diam, Kanzel.”
“Kau memasang bahan peledak di kapal tempat aku juga berada—”
“Aku bilang diam!” bentak Baron, dan untuk pertama kalinya malam itu, kendalinya retak sedikit di permukaannya.
Dan di dalam retakan kecil itu, Judas sudah melihat jalannya. Dia hanya perlu menahannya tetap terbuka sedikit lebih lama.
Beberapa mil dari aula itu, di dalam kapal perang Monaghan yang tersembunyi di balik tirai hujan, Ara berdiri di tepi geladak dengan kedua tangan yang mencengkeram pagar dan mata yang tertutup rapat, membiarkan kesadarannya menyelam ke dalam air, menjalar ke arah lambung kapal Sovereign yang berkarat di kejauhan.
Dia bisa merasakannya semua sekarang, dengan jelas dan menakutkan. Benda-benda itu. Bahan peledak yang terpasang di enam titik di sepanjang lambung kapal tua itu, terhubung dengan kabel-kabel ke sebuah alat penerima kecil di ruang mesin belakang, menunggu satu sinyal radio dari tombol merah di tangan Baron. Enam titik yang sudah dipasang dengan hati-hati oleh orang-orang yang tahu persis apa yang sedang mereka kerjakan.
“Bagaimana kita mematikannya dari sini?” tanya Josh, berdiri di sampingnya dengan wajah yang sudah tidak lagi menyembunyikan kekhawatirannya.
“Aku tidak bisa mematikannya. Bahan peledak bukan wilayahku.” Ara membuka matanya, dan ada keringat yang sudah mengalir di pelipisnya meski angin laut berhembus dingin. “Tapi sinyalnya adalah wilayahku, Josh. Sinyal detonator itu adalah sinyal radio, dan sinyal radio tidak bisa menembus air laut. Kalau aku membanjiri kompartemen-kompartemen tempat benda-benda itu terpasang, sinyal dari tombol itu tidak akan pernah sampai ke mereka. Tombolnya akan tetap bisa ditekan, tapi tidak akan ada apa pun yang mendengarnya.”
“Kau baru saja menghabiskan seluruh kekuatanmu empat jam yang lalu—”
“Dan aku akan menghabiskan sisanya sekarang, kalau itu yang diperlukan untuk membuat Judas dan orang-orangnya turun dari kapal itu hidup-hidup.” Ara menatapnya dengan tatapan yang sudah tidak menyisakan ruang untuk perdebatan. “Panggil Vaza. Sekarang. Aku butuh dia menjagaku tetap sadar selagi aku bekerja, karena pekerjaan kali ini bukan pekerjaan yang bisa kulakukan sambil pingsan.”
Josh tidak membantah lagi. Dia berlari ke radio kapal dan memanggil Vaza lewat frekuensi khusus yang sudah mereka sepakati sejak malam sabotase itu, sementara Ara kembali menutup matanya dan menenggelamkan kesadarannya ke dalam air, mencari enam titik dingin di dalam lambung kapal tua di kejauhan itu. Satu per satu, dia menemukan mereka. Satu per satu, dia memanggil air laut di sekitar mereka untuk masuk, perlahan tapi pasti, memenuhi celah-celah kompartemen itu seperti air yang mengisi sebuah kepalan tangan dari dalam.
Vaza naik ke geladak dari sisi kapal tiga menit kemudian, basah dan cepat, dan langsung berdiri di belakang Ara dengan satu tangan yang menempel di punggung gadis itu, menyalurkan aliran energi laut yang lembut ke dalam tubuhnya yang sudah mulai bergetar di bawah beban pekerjaan jarak jauh yang bahkan belum pernah dia coba sebelumnya dalam hidupnya.
“Aku di sini, Putri,” bisik duyung tua itu. “Kerjakan. Aku yang menjaga tubuhmu.”
Dan di dalam aula di kapal Sovereign, tanpa satu pun orang yang mengetahuinya, kematian yang sudah dipasang di dalam perut kapal itu mulai kehilangan telinganya, setetes air demi setetes air.