Di dalam aula, keretakan di antara dua pria tua itu sudah terbuka lebih lebar, dan Judas menjaganya tetap terbuka dengan kalimat-kalimat yang dia pilih seperti orang yang sedang memilih langkah di atas es yang tipis.
“Kau dengar itu, Baron?” ucapnya pelan. “Mitra tiga puluh tahunmu baru saja mengetahui bahwa kau memasang bom di bawah kakinya tanpa memberitahunya. Itu yang kau lakukan kepada orang-orang di sekitarmu, Baron. Kau menggunakan mereka sampai ke titik di mana mereka tidak lagi berguna, dan kemudian kau membuang mereka bersama dengan semua yang lainnya. Max mengetahuinya dengan cara yang paling keras. Para pengkhianatmu mengetahuinya di dalam ruangan bawah tanahku. Dan sekarang Kanzel mengetahuinya di atas panggung ini.”
“Kau tidak tahu apa-apa tentang aku, bocah—”
“Aku tahu segalanya tentangmu.” Judas memotongnya dengan suara yang sudah berubah menjadi baja. “Kau menghabiskan seluruh hidupmu merasa bahwa takhta itu dicuri darimu, dan kau menghabiskan seluruh hidup itu pula membuktikan kepada semua orang bahwa mereka benar untuk tidak pernah memberikannya kepadamu. Itu sebabnya kau berdiri di sini sekarang dengan tombol di tanganmu, bukan dengan mahkota di kepalamu. Bukan karena takhtanya yang salah. Karena orangnya yang salah.”
Wajah Baron akhirnya kehilangan senyumnya. Sepenuhnya. Dan di dalam kekosongan yang ditinggalkannya, Judas melihat apa yang sudah dia cari sejak awal: amarah yang telanjang, amarah orang yang sudah menghabiskan empat puluh tahun membangun gambar dirinya sendiri dan baru saja menyaksikannya dirobek di depan musuhnya yang paling dia benci.
“Kau,” ucap Baron, dan suaranya sudah berubah menjadi sesuatu yang bergetar dan berbahaya, “tidak berhak untuk berbicara kepadaku tentang—”
Dan saat itulah Kanzel bergerak.
Bukan ke arah panel siaran. Bukan ke arah pintu. Ke arah Baron, dengan seluruh berat tubuh tuanya yang dibawa oleh ketakutan yang sudah memuncak, dengan kedua tangannya yang terentang ke arah pergelangan tangan yang menggenggam detonator itu. Empat puluh tahun kesetiaan yang dijual selesai dalam satu detik oleh satu kesadaran: bahwa dia adalah satu-satunya orang di ruangan itu yang tidak mengetahui bahwa dia sudah ditandai untuk mati sejak awal.
“KAU GILA!” teriak Kanzel, menubruk Baron dari samping. “KAU SUDAH MERENCANAKAN UNTUK MEMBAWAKU MATI BERSAMAMU!”
Baron terhuyung, lengannya terayun, ibu jarinya terlepas dari posisinya di atas tombol merah itu — dan dalam satu detik kekacauan itu, detonator itu terlempar dari genggamannya, jatuh ke lantai panggung, dan Judas sudah bergerak sebelum benda itu sempat berhenti bergeser.
Tapi Baron lebih cepat. Jauh lebih cepat dari yang diperkirakan siapa pun untuk pria seusianya. Dia menunduk, menyambar detonator itu dari lantai dengan satu gerakan tangan, dan menatap ke atas dengan mata yang sudah sepenuhnya lepas dari kendalinya — mata orang yang sudah kehilangan panggungnya, mitranya, dan gambarnya dalam waktu satu menit yang sama.
“KALIAN SEMUA AKAN MENYESAL INI!” teriaknya, dan ibu jarinya menghantam tombol merah itu dengan seluruh kekuatannya.
Satu detik berlalu.
Tidak ada apa-apa.
Dua detik berlalu.
Tidak ada apa-apa.
Baron menatap detonator di tangannya dengan mata yang tidak percaya, menekan tombolnya berulang kali dengan gerakan yang makin panik, dan tidak ada satu pun suara, tidak ada satu pun getaran, tidak ada satu pun ledakan yang datang dari dalam perut kapal tua itu. Di suatu tempat jauh di bawah sana, di dalam kompartemen-kompartemen lambung yang sudah terisi penuh oleh air laut yang dipanggil oleh seorang gadis dari kapal perang di kejauhan, enam alat peledak itu berdiri diam dan tuli, tidak akan pernah lagi mendengar panggilan dari siapa pun.
“Aku sudah mengatakannya kepadamu, Baron,” ucap Judas pelan, dan pistolnya sudah terarah kembali tepat ke tengah dada pria tua itu. “Aku sudah membaca kartumu sejak awal. Dan kartumu selalu, selalu, lebih kecil dari yang kau kira.”
Serdadu-serdadu itu bergerak dalam satu gelombang yang serentak. Baron tidak melawan ketika dua orang menarik tangannya ke belakang dan memborgolnya di atas panggung takhta palsunya sendiri — dia hanya berdiri di sana, mematung, dengan detonator mati yang masih tergenggam di tangannya, dengan wajah orang yang sedang menatap runtuhnya empat puluh tahun hidupnya di depan matanya sendiri tanpa bisa melakukan apa-apa untuk menghentikannya.
Dan Lord Kanzel, yang berdiri beberapa langkah darinya, tidak melawan juga ketika borgol itu menutup di pergelangan tangannya. Dia hanya menatap Baron dengan tatapan yang penuh dengan sesuatu yang bahkan lebih pahit daripada kekalahan: tatapan orang yang baru saja menyadari bahwa dia sudah menghabiskan empat puluh tahun hidupnya mengabdi kepada orang yang bahkan tidak pernah menganggapnya manusia.
“Dua puluh tahun aku menjalankan bisnismu, Baron,” ucap Kanzel pelan, ketika mereka berdua dibawa keluar dari aula itu. “Dua puluh tahun aku membersihkan jejakmu, menutupi kejahatanmu, menandatangani dokumen-dokumen yang seharusnya tidak pernah kutandatangani. Dan kau merencanakan untuk menguburkanku di dasar laut bersama sebuah takhta emas yang bahkan tidak asli.”
Baron tidak menjawab. Dia tidak menjawab apa-apa lagi untuk waktu yang sangat lama setelah itu.
Di dalam aula yang sudah kembali hening itu, Judas menurunkan pistolnya untuk pertama kalinya sejak dia menerobos pintu gandanya, dan membiarkan tangannya jatuh ke sisi tubuhnya dengan seluruh kelelahan yang sudah ditahannya sejak fajar. Marinir-marinir gabungan mulai memenuhi aula itu dari pintu-pintu yang sudah dikuasai, mengamankan setiap sudut, mencatat setiap benda, memandu dua belas bangsawan bayaran itu keluar satu per satu dengan tangan yang terikat di depan mereka.
Komandan marinir dari kapal Vestra menghampirinya dan memberi hormat dengan gerakan yang tegas.
“Seluruh kapal sudah dalam kendali kami, Pangeran. Pasukan bayaran menyerah di semua titik tanpa perlawanan berarti. Tuan-tuan Anda di aula ini adalah satu-satunya yang memberi kami pekerjaan yang berarti malam ini.”
“Bukan aku yang memberikan kalian kemenangan malam ini, Komandan,” jawab Judas, menatap ke arah jendela besar aula itu, ke arah laut yang mulai terang oleh matahari pagi di luar sana. “Kemenangan malam ini dimenangkan dari bawah laut, oleh orang-orang yang bahkan tidak ada di dalam kapal ini. Catat itu dalam laporan resmi Anda. Ada orang-orang yang berhak atasnya, dan mereka bukan kami.”
Komandan itu menatapnya sejenak, tidak sepenuhnya mengerti, tapi cukup berpengalaman untuk tidak bertanya tentang hal-hal yang tidak akan dijelaskan lebih lanjut oleh seorang pangeran.
Dan dari radio di telinga Judas, suara Josh datang dari kapal perang di kejauhan, dengan satu kabar yang membuat seluruh tubuh Judas menegang seketika sebelum dia mulai berlari ke arah pintu aula itu tanpa mengatakan satu kata pun kepada siapa pun.
Kabar tentang seorang gadis yang sudah menghabiskan dirinya sampai ke dasar, dan yang sekarang berbaring lemah di dek kapal perang dengan tabib tua yang bekerja di sisinya untuk menjaganya tetap bernapas dengan stabil.