Penangkapan itu selesai dalam waktu kurang dari satu jam setelah detonator mati itu jatuh ke lantai panggung.
Gustav Halvern ditemukan oleh tim penyisir di dalam kompartemen mesin belakang, bersembunyi di balik sebuah generator tua dengan wajah yang sudah tidak lagi memiliki satu pun sisa kepercayaan diri yang dia pamerkan di ruang-ruang rapat istana. Dia bahkan tidak mencoba untuk berbohong ketika mereka menariknya keluar. Dia hanya mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan mengucapkan satu kalimat yang akan diulangnya berkali-kali dalam minggu-minggu berikutnya di depan para penyidik: “Aku akan bekerja sama. Aku akan menceritakan semuanya. Semuanya.”
Dua belas bangsawan bayaran itu ditahan di aula yang sama tempat mereka seharusnya menjadi saksi sebuah penobatan, dan satu per satu dari mereka sudah mulai berbicara sebelum satu pun pertanyaan diajukan — orang-orang yang dijual seharga posisi menteri dan pelunasan utang memang tidak pernah dikenal karena loyalitas mereka kepada siapa pun. Adipati Vestermark yang tua itu bahkan sudah menyiapkan daftar lengkap berisi nama-nama, jumlah-jumlah pembayaran, dan tanggal-tanggal pertemuan di dalam sakunya, yang diserahkannya kepada Josh dengan tangan yang bergetar dan dengan satu permohonan: bahwa namanya dicatat sebagai saksi yang bekerja sama sejak awal.
“Kalian orang-orang yang menyedihkan,” komentar Josh, menerima daftar itu dengan tatapan yang tidak menyembunyikan penghinaannya. “Kalian bahkan tidak setia kepada orang yang baru saja kalian jual diri kepadanya.”
Kamera-kamera di aula itu, yang dipasang oleh orang-orang Kanzel sendiri untuk menyiarkan penobatan mereka, ternyata sudah merekam semuanya sejak awal: setiap kalimat Baron, setiap ancaman detonator, setiap pengakuan Kanzel tentang Putri Sarella di lorong istana Osmod yang terekam oleh kamera-kamera kecil yang sudah dipasang Josh sejak dua hari sebelumnya. Bukti-bukti terakhir yang bahkan tidak bisa dibantah oleh pengacara terbaik di benua ini, direkam oleh alat-alat yang dipasang oleh para penjahatnya sendiri untuk kejayaan mereka sendiri.
Dan takhta emas palsu itu, yang berdiri di tengah panggung sebagai pusat dari seluruh rencana besar mereka, diangkat oleh empat marinir dan dibawa ke tepi kapal, dan dilemparkan ke dalam laut perairan tengah yang menerimanya tanpa satu pun suara, menenggelamkannya ke dalam kedalaman yang sama yang sudah menelan semua ambisi-ambisi palsu lainnya sepanjang sejarah manusia.
Awak-awak tentara bayaran dari lima kapal pengawal itu dipindahkan satu per satu ke kapal-kapal tawanan pasukan gabungan, dengan daftar nama yang dicatat dengan teliti oleh para perwira dari tiga kerajaan yang berbeda. Sebagian besar dari mereka akan pulang ke negara-negara asal mereka dalam beberapa minggu sebagai orang-orang bebas — tentara bayaran tidak dihukum karena perang yang dibelinya, hanya karena kejahatan yang dilakukannya sendiri, dan sebagian besar dari mereka tidak pernah sempat melakukan apa pun selain berdiri di atas kapal-kapal yang sudah mati mesinnya sambil menonton majikan mereka ditangkap di atas panggung palsu mereka sendiri.
Di atas kapal perang Monaghan, kabar itu datang lewat radio dari Judas sendiri, singkat dan lelah dan penuh dengan sesuatu yang sudah lama tidak ada di suaranya: kelegaan yang nyata.
“Semua sudah selesai. Baron dan Kanzel dalam borgol. Halvern dalam borgol. Tidak ada korban di pihak kita. Semua orang pulang.”
Dan kemudian, setelah jeda kecil yang hanya bisa ditangkap oleh orang-orang yang mengenalnya dengan baik, satu kalimat tambahan, lebih pelan, hanya untuk satu orang.
“Ara. Aku tahu apa yang kaulakukan di bawah sana. Kita akan membicarakannya nanti.”
Ara tidak menjawab dari tempatnya duduk di dek kapal perang itu. Dia tidak bisa. Tubuhnya sudah sampai ke batasnya sejak satu jam yang lalu, sejak dia memanggil air laut dari jarak bermil-mil untuk membanjiri kompartemen-kompartemen sebuah kapal yang bahkan tidak bisa dia lihat dengan matanya. Vaza duduk di sampingnya dengan satu tangan di bahunya, menjaga denyut kehidupan di tubuhnya tetap stabil dengan aliran-aliran kecil energi laut yang hanya bisa diberikan oleh tabib tertua di perairan itu.
“Kau sudah melampaui batasmu dua kali dalam satu malam, Putri,” ucap Vaza pelan, dengan wajah yang penuh dengan kekhawatiran yang dalam. “Kekuatanmu di daratan sudah mencapai dasar yang belum pernah kau sentuh sebelumnya. Kau harus berhenti menggunakannya untuk beberapa waktu, atau tubuhmu akan membayar harga yang bahkan aku tidak bisa memperbaikinya.”
“Aku tahu,” bisik Ara, dengan suara yang sudah sangat lelah tapi masih utuh. “Tapi harga itu masih lebih murah dari harga yang harus dibayar kalau tombol itu bekerja, Vaza. Jauh lebih murah.”
Judas naik ke kapal perang itu dua jam kemudian, ketika kapal induk Sovereign sudah sepenuhnya dalam kendali pasukan gabungan dan para tawanan sudah diamankan di sel-sel kapal-kapal patroli. Dia naik dengan wajah yang sudah sangat lelah, dengan pakaian yang masih menyimpan bau mesiu pertarungan di lorong-lorong kapal, dan dia langsung berjalan ke sudut dek tempat Ara berbaring dengan selimut di bahunya dan Vaza di sisinya.
Dia tidak mengatakan apa-apa untuk waktu yang lama. Dia hanya berdiri di sana dan menatap gadis itu — gadis yang sudah menghabiskan kekuatannya sampai ke dasar untuk menjaga nyawanya dan nyawa semua orangnya dari jarak bermil-mil, gadis yang sudah melanggar kesepakatan mereka untuk tidak menjadi pahlawan tambahan malam ini.
“Kau melanggar kesepakatan kita,” ucapnya akhirnya, dan suaranya tidak marah. Suaranya justru terdengar seperti orang yang sedang berusaha keras untuk tidak menunjukkan betapa dekatnya dia dengan rasa takut yang sesungguhnya.
“Aku tidak melanggarnya,” jawab Ara lemah, dengan senyum kecil yang lelah di wajahnya yang pucat. “Aku tetap di atas kapal ini sepanjang waktu, sesuai kesepakatan. Aku tidak pernah turun ke air lagi. Aku hanya ... meminjam airnya sebentar dari jauh. Itu celah dalam kesepakatan kita, dan kau sendiri yang mengajariku untuk selalu mencari celah dalam setiap aturan.”
Judas menatapnya, dan kemudian dia tertawa — tawa yang lepas, tawa yang lelah, tawa orang yang sudah berdiri di tepi jurang sepanjang malam dan baru saja diizinkan untuk mundur satu langkah dari bibirnya.
“Kau belajar terlalu banyak dariku,” ucapnya, duduk di sampingnya di dek itu, membiarkan punggungnya bersandar ke dinding lambung yang sama. “Itu kesalahan terbesar dalam hidupku.”
“Tidak. Kesalahan terbesar dalam hidupmu adalah menawariku apel lewat satu truk penuh pengalih perhatian,” jawab Ara, dan untuk pertama kalinya sejak malam yang panjang itu dimulai, mereka berdua tertawa bersama di atas dek kapal perang yang berlayar pulang ke Monaghan, dengan dua kerajaan yang sudah kembali ke tangan pemiliknya yang sah di belakang mereka, dan dengan laut yang tenang membentang di depan mereka seperti janji yang sudah hampir tertepati.