Perjalanan pulang ke Monaghan memakan waktu dua hari penuh, bukan karena jaraknya, tapi karena proses yang harus dijalankan di setiap titik perhentiannya. Kapal-kapal gabungan itu berlayar dalam formasi yang sudah berubah dari formasi perang menjadi formasi pengawalan, dengan kapal-kapal tawanan di tengahnya, dengan Baron, Kanzel, dan Gustav Halvern yang disimpan di sel-sel terpisah di tiga kapal yang berbeda, dijaga oleh pasukan gabungan yang tidak pernah membiarkan ketiga orang itu berada dalam radius komunikasi satu sama lain.
Berita tentang penangkapan itu berjalan lebih cepat dari kapal mana pun. Sampai di Osmod dalam satu hari, sampai ke seluruh benua dalam dua, dan efeknya langsung terasa seperti batu yang jatuh ke dalam air yang sudah lama tegang.
Di Osmod, kudeta Lord Kanzel runtuh bahkan sebelum kapal-kapal gabungan itu merapat ke pelabuhannya. Komandan pengawal istana yang ditahan di ruang kerjanya sendiri dibebaskan oleh para perwira muda yang sudah lama menunggu alasan untuk bergerak, dan dalam waktu satu malam, seluruh pos-pos yang direbut pasukan pribadi Kanzel kembali ke tangan pengawal kerajaan yang sah — sebagian besar tanpa satu pun tembakan, karena pasukan bayaran tidak pernah dikenal karena kesediaan mereka untuk mati demi majikan yang sudah berada di dalam borgol.
Raja Canis Major kembali ke istananya tiga hari kemudian, didampingi oleh delegasi resmi kerajaan Monaghan dan disambut oleh rakyatnya yang berbaris di jalan-jalan ibu kota dengan bunga-bunga dan panji-panji kerajaan yang sudah lama tidak berani mereka kibarkan. Ara berdiri di sampingnya di balkon istana ketika raja tua itu berbicara kepada rakyatnya dari atas sana — bukan pidato tentang pengkhianatan, bukan pidato tentang perang, melainkan pidato tentang sebuah kerajaan yang sudah kehilangan jalannya dan akhirnya menemukan jalan pulang.
“Dan kerajaan ini berutang kepada satu nama,” ucap raja tua itu, dan suaranya bergema ke seluruh halaman yang penuh dengan rakyatnya. “Bukan namaku. Bukan nama seorang raja. Nama seorang putri yang dicoret dari keluarga ini oleh kesalahan yang sudah sangat lama, dan yang kembali ke kerajaan ini membawa kebenaran yang tidak pernah berani dicari oleh siapa pun sebelumnya. Mulai hari ini, nama Tarrigan dikembalikan ke dalam daftar keluarga kerajaan Osmod, dengan seluruh hormat yang seharusnya sudah menjadi miliknya sejak awal. Dan mulai hari ini, cucuku, Arandelle Tarrigan, adalah putri resmi kerajaan Osmod.”
Ara berdiri di samping kakeknya di balkon itu dengan air mata yang sudah tidak bisa lagi dia tahan, mendengarkan namanya — nama ibunya, nama keluarganya, nama yang sudah enam belas tahun menjadi aib di istana ini — diucapkan dengan hormat di depan seluruh kerajaan, di bawah langit Osmod yang sama yang sudah menyaksikan keluarganya dihancurkan enam belas tahun yang lalu.
Di belakangnya, Judas berdiri di sisi balkon dengan Ratu Moana, dan dua orang itu tidak mengatakan apa-apa. Mereka hanya menyaksikan, dengan dua pasang mata yang sama-sama basah, seorang gadis yang sudah terlalu lama hidup tanpa nama akhirnya mendapatkan namanya kembali di depan seluruh dunia.
Di Monaghan, Ratu Moana menghadapi pekerjaannya sendiri yang tidak kalah beratnya: membersihkan istananya dari sisa-sisa jaringan Baron yang sudah bertahun-tahun tumbuh di dalamnya seperti akar-akar gelap. Satu per satu, pejabat-pejabat yang tercatat di buku besar gelap itu dipanggil ke hadapan ratu. Sebagian datang dengan pengakuan-pengakuan yang sudah disiapkan sejak lama oleh rasa takut mereka sendiri, sebagian lagi datang dengan kebohongan-kebohongan yang tidak bertahan lebih dari satu jam di depan bukti-bukti yang sudah tersusun rapi di atas meja. Tidak ada ruang hitam untuk mereka — Ratu Moana sudah memutuskan sejak awal bahwa pembersihan ini akan dilakukan dengan hukum dan bukan dengan cara-cara lama, dan Judas, untuk sekali ini, menyetujui keputusan itu tanpa satu pun keberatan yang tercatat.
Dan di tengah-tengah semua pekerjaan besar itu, ada satu reuni kecil yang tenang di pelabuhan Nemville, ketika kapal perang itu akhirnya merapat: Reagant berdiri di dermaga dengan istrinya dan bayi mereka di gendongannya, menunggu sejak fajar setelah mendengar kabar bahwa adiknya ada di dalam kapal itu, dan ketika Ara turun dari tangga kapal dengan langkah yang masih lelah tapi utuh, kakaknya itu memeluknya di depan seluruh pelabuhan tanpa sedikit pun peduli pada protokol atau mata-mata yang menyaksikan.
“Kau berjanji untuk tidak membuatku menunggu kabar seperti ini lagi, Ara,” ucapnya dengan suara yang pecah. “Kau berjanji di depan kotak kayu ibu kita.”
“Aku tidak bisa berjanji untuk hal yang tidak bisa kujaga, Kak,” jawab Ara di dalam pelukan itu, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu lagi sebagai remaja, dia memeluk kakaknya kembali dengan seluruh kekuatannya yang tersisa. “Tapi aku bisa berjanji untuk selalu pulang. Dan aku selalu menepati janji itu, sejauh ini. Tanyakan pada orang-orang yang menghitungnya.”
Dan tribunal gabungan untuk tiga orang di puncak konspirasi itu ditetapkan untuk diselenggarakan di kota pelabuhan Vestra, di wilayah netral, dengan para hakim dari lima kerajaan sahabat dan dengan bukti-bukti yang sudah tidak menyisakan satu pun celah untuk dibantah.
Malam sebelum keberangkatan ke tribunal itu, Judas menemukan Ara di atap istana Monaghan, duduk di tepinya dengan kaki yang menjuntai dan mata yang menatap ke arah laut di kejauhan. Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya duduk di sampingnya, di tepi atap yang sama, dan untuk waktu yang lama mereka berdua diam di bawah langit yang penuh dengan bintang-bintang.
“Setelah tribunal itu selesai, semuanya akan benar-benar selesai,” ucap Ara akhirnya, pelan. “Baron. Kanzel. Halvern. Semua yang membunuh orang tuaku, semua yang mengancam nyawamu, semua yang merusak lautku. Selesai.”
“Selesai,” ulang Judas, dan kata itu terdengar asing di mulutnya sendiri, seperti kata yang sudah terlalu lama tidak dia gunakan sehingga dia lupa bagaimana bentuknya. “Dan setelah itu?”
“Setelah itu, kau berutang padaku sebuah jeda yang sangat panjang di sebuah pantai, dengan kopi yang kau sediakan, tanpa satu pun map kerja.” Ara menoleh dan menatapnya dengan senyum kecil. “Itu kesepakatan kita, ingat? Dengan kata-kata. Resmi.”
Judas menatapnya, dan untuk beberapa detik dia hanya duduk di sana menatap gadis itu — gadis yang ditemukannya di dalam laut di malam yang paling gelap dalam hidupnya, gadis yang ternyata adalah laut itu sendiri, gadis yang sudah menghabiskan dirinya berkali-kali untuk orang-orang yang bahkan tidak pernah memintanya.
Dan kemudian dia melakukan sesuatu yang sudah dia tahan sejak tebing di atas pantai itu, sejak hari-hari panjang yang sudah berlalu, sejak malam pertama ketika seorang gadis kurus menatapnya di dalam air dan tidak pernah pergi dari kepalanya lagi sejak itu.
Dia menciumnya, di atas atap istana itu, di bawah bintang-bintang yang menyaksikan, dengan laut yang berdebur di kejauhan seperti sedang bertepuk tangan untuk mereka berdua.
Dan Ara membalasnya, dengan tangan yang memegang liontin kerang peraknya di satu sisi dan tangan yang lain yang menemukan tempatnya di bahu Judas, dengan semua perang dan kehilangan dan jarak yang sudah mereka lalui terasa seperti sesuatu yang akhirnya, akhirnya, berada di tempat yang benar.
“Dengan kata-kata,” bisik Judas ketika mereka berpisah sejenak, dengan kening yang masih bertemu dengan kening. “Resmi.”
“Dengan kata-kata,” bisik Ara balik, tersenyum dengan mata yang masih basah. “Selalu dengan kata-kata.”