Tribunal gabungan itu diselenggarakan di aula besar gedung peradilan internasional di kota pelabuhan Vestra, dengan lima hakim dari lima kerajaan yang duduk di meja tinggi, dengan bukti-bukti yang tersusun rapi di atas meja panjang yang membentang dari ujung ke ujung ruangan, dan dengan tiga orang terdakwa yang duduk di kursi-kursi yang dijaga oleh pasukan gabungan dari dua kerajaan yang sudah mereka hancurkan.
Baron duduk di ujung kiri dengan wajah yang sudah kembali terkendali, wajah orang yang sudah memutuskan untuk menghadapi akhir ini dengan sisa-sisa kebanggaan yang masih tersisa di dalam dirinya. Lord Kanzel duduk di tengah dengan wajah yang sudah menua sepuluh tahun dalam waktu dua minggu, dengan tongkat peraknya yang sudah disita dan dengan tangan yang terus bergerak-gerak di pangkuannya seperti mencari sesuatu yang sudah tidak ada lagi. Dan Gustav Halvern duduk di ujung kanan dengan dua pengacara yang sudah menyusun kesepakatan kesaksiannya sejak dua hari setelah penangkapannya — kesepakatan yang akan mengubahnya dari terdakwa utama menjadi saksi mahkota, dengan harga yang harus dibayarnya adalah menceritakan semuanya, tentang semua orang, tanpa satu pun yang ditutupi.
Dan Gustav menceritakan semuanya.
Selama tiga hari penuh, di depan lima hakim dan ruangan yang penuh sesak, Gustav Halvern membuka seluruh isi mesin konspirasi itu dari dalam: tiga puluh tahun bisnis gelap di dua perairan, kode B. di buku-buku besar yang merujuk kepada Baron, perintah-perintah operasi yang datang dari Lord Kanzel, kapal-kapal tanpa bendera, perusahaan-perusahaan cangkang, pembayaran-pembayaran kepada pejabat-pejabat di dua istana, dan malam ketika perintah “urus mereka” turun untuk sepasang suami istri yang memotret kapal-kapal mereka dari tebing di Osmod.
Para hakim mencatat. Para penyidik memverifikasi. Dan bukti-bukti itu berbicara satu per satu di layar besar aula: tanda tangan Kanzel di izin resmi Halvern, paraf yang sama di kontrak-kontrak gelap, buku-buku besar dari kapal tanpa bendera, rekaman kamera dari aula penobatan yang dipasang oleh orang-orang mereka sendiri, dan kesaksian-kesaksian yang datang dari mulut-mulut yang sudah terlalu lama dibungkam.
Naba bersaksi pada hari kedua, dengan tangan yang masih kasar dari empat puluh tahun bekerja sebagai nelayan, dengan suara yang tidak bergetar ketika dia menceritakan dua mobil hitam yang menguntit mobil keluarga Tarrigan di malam itu, dan tentang dua orang yang datang ke rumahnya untuk mengancam nyawa keluarganya kalau dia berbicara.
“Saya diam selama enam belas tahun karena saya takut, Yang Mulia para hakim,” ucapnya, dan suaranya pecah hanya sekali di tengah-tengahnya. “Tapi hari ini saya tidak diam lagi. Hari ini saya berdiri di sini dengan nama saya sendiri, Naba dari teluk Osmod, dan saya mengatakan kebenarannya di depan seluruh dunia.”
Drey bersaksi setelahnya, dengan cerita tentang malam ketika perintah “urus mereka” turun ke kapalnya dari jalur yang tidak pernah boleh ditanyakan. Raja Canis Major bersaksi melalui rekaman dari istananya, dengan suara seorang raja yang menceritakan bagaimana kerajaannya sendiri dijalankan dari bawah kakinya oleh orang yang sudah empat puluh tahun dipercayainya. Dan Ara bersaksi terakhir, dengan buku harian ibunya di tangannya, dengan kalung liontin kerang peraknya di lehernya, dengan suara yang tidak pecah satu kalimat pun dari awal sampai akhir.
“Aku tidak berdiri di sini untuk meminta belas kasihan kepada siapa pun,” ucapnya, menatap ke arah tiga orang di kursi terdakwa itu. “Aku berdiri di sini untuk memastikan bahwa tidak akan ada lagi keluarga lain, di kerajaan mana pun, yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai karena sebuah foto, karena sebuah laut, karena kebenaran yang kebetulan terlihat oleh mata yang salah. Orang-orang yang duduk di kursi itu mengambil kedua orang tuaku ketika aku berusia lima tahun, dan mereka mengira bahwa waktu akan menguburnya seperti mereka mengubur semua kejahatan mereka yang lain. Tapi kebenaran tidak terkubur oleh waktu, Yang Mulia para hakim. Kebenaran hanya menunggu orang yang cukup berani untuk menggalinya kembali. Dan hari ini, kebenaran itu berdiri di hadapan kalian semua.”
Putusan itu dibacakan dua hari kemudian, di aula yang sama, dalam keheningan yang total.
Baron, atas dakwaan pengkhianatan terhadap kerajaan Monaghan, konspirasi untuk merebut takhta, pendanaan kegiatan ilegal lintas kerajaan, dan keterlibatan dalam pembunuhan berencana: dijatuhi hukuman penjara seumur hidup di benteng tahanan kerajaan, dengan seluruh gelar dan hak warisnya dicabut secara permanen.
Lord Kanzel, atas dakwaan kudeta terhadap takhta sah kerajaan Osmod, pembunuhan berencana terhadap dua warga kerajaan, dan penyalahgunaan wewenang selama empat puluh tahun: dijatuhi hukuman yang sama, di benteng tahanan yang sama, di sel yang berada di ujung lorong yang berbeda dari sel Baron — karena para hakim memutuskan bahwa dua orang itu tidak akan pernah lagi diizinkan untuk berbicara satu sama lain sampai akhir hidup mereka.
Dan Gustav Halvern, atas kesaksiannya yang membuka seluruh jaringan konspirasi itu sampai ke akar-akarnya, dijatuhi hukuman dua puluh tahun penjara dengan kemungkinan pembebasan bersyarat setelah sepuluh tahun — harga yang dia bayar dengan senyum lega, karena dua puluh tahun masih jauh lebih baik dari seumur hidup di tiang gantungan yang sudah menunggunya di awal semua ini.
Baron tidak mengucapkan satu pun kata ketika putusannya dibacakan. Dia hanya berdiri, menatap ke arah meja hakim dengan wajah yang sudah tidak lagi menyimpan apa-apa di baliknya, dan berbalik mengikuti para penjaga yang membawanya keluar.
Tapi di depan pintu, dia berhenti sejenak, dan menoleh ke arah satu orang di barisan saksi: ke arah Judas, yang berdiri di sana bersama Ara di sisinya, menatapnya dengan tatapan yang sudah tidak menyimpan amarah lagi — hanya sesuatu yang jauh lebih berat dari amarah, sesuatu yang sudah selesai.
“Kau tahu apa yang paling kubenci darimu, keponakanku?” ucap Baron, dan suaranya tenang, hampir bersahabat. “Bukan karena kau mengalahkanku. Tapi karena kau membuktikan bahwa aku salah tentang satu hal yang sudah kuyakini sepanjang hidupku: bahwa kekuasaan hanya bisa diraih dengan membuang semua orang yang kau cintai. Kau meraihnya dengan cara yang berlawanan, dan itu membuatku harus mati di dalam penjara dengan mengetahui bahwa caraku, sejak awal, memang salah.”
Dia mengangguk pelan, satu kali, dan berjalan keluar dari aula itu bersama para penjaganya, menghilang ke dalam lorong yang panjang menuju benteng tahanan yang akan menjadi rumah terakhirnya.
Dan Lord Kanzel, sebelum dibawa keluar lewat pintu yang berlawanan, berhenti sejenak di depan Ara, dan menatapnya dengan mata yang sudah tidak menyimpan apa pun selain kelelahan yang paling dalam.
“Aku sudah bertemu dengan ibumu beberapa kali, di acara-acara resmi istana,” ucapnya pelan. “Dia satu-satunya orang di istana itu yang pernah bertanya kepadaku apakah aku sudah makan, Nona. Satu-satunya yang pernah melihatku sebagai manusia. Dan aku membalasnya dengan perintah yang sudah kau ketahui.” Dia menunduk dalam, dalam sekali, tanpa satu pun kata pembelaan. “Tidak ada hukuman di dunia ini yang akan membuatku berhenti memikirkan hal itu di sisa hidupku. Dan itu, kurasa, adalah hukuman yang paling pantas dari semuanya.”
Ara menatapnya untuk waktu yang lama, dan kemudian menjawab dengan suara yang sudah tidak menyimpan api lagi, hanya abu dari api yang sudah lama terbakar.
“Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Lord Kanzel. Tapi aku percaya pada kebenaran, dan kebenaran barusan adalah satu-satunya hal jujur yang pernah keluar dari mulutmu. Bawalah itu ke penjaramu, dan biarlah itu menghukummu setiap hari lebih keras dari yang bisa dilakukan oleh hukum mana pun.”
Dan dengan itu, tribunal itu selesai, dan dua kerajaan yang sudah terlalu lama hidup di bawah bayangan konspirasi itu akhirnya bisa mulai bernapas lagi, pelan-pelan, satu tarikan napas demi satu tarikan napas, seperti orang-orang yang baru saja bangun dari mimpi buruk yang sudah berjalan selama bertahun-tahun lamanya.